Hikmah di
Balik Musibah
Sahabat, di balik semua
kejadian pasti ada hikmahnya. Di tengah kepahitan, ada saja manis terasa. Meski
yang merasakan manisnya bukan yang sedang kepahitan. Tapi, apapun itu
kondisinya, ada saja hikmah dan manfaat yang bisa kita ambil.
Kejadian bencana yang terjadi baik
di Negara kita maupun di belahan dunia lain, hendaknya bisa menjadi peringatan
bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang pencipta. Musibah bencana
Alam, bisa ita lihat dengan dua sudut pandang. Pertama, ini semata memang ujian
dari Allah SWT. Insya Allah, bagi orang-orang yang beriman ini adalah ujian.
Semoga dengan kejadian yang meskipun menurut kita sangat berat, menyesakkan,
dan tentunya menyedihkan, tapi jika kita bersabar, insya Allah ada pahalanya. Jangan
pernah berputus asa. Firman Allah SWT. (yang artinya):”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang ang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa Lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”
(QS al-Baqarah [2]: 155-156)
Kita kayaknya udah akrab juga dengan
kalimat “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi
raaji’uun”. Bahwa kita sangat hafal dengan maknanya. Yup, arti kalimat itu
adalah “Sesungguhnya kami adalah milik
Allah dan kepadaNya-lah kami kembali.” Kalimat ini oleh para mufasir (ahli
tafsir) dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah).
Disunahkan menyebutnyawaktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil. Indah
sekali bukan, ditimpa musibah bukannya putus asa, tapi kita malah bersabar.
Jadi berbahagialah karena kita sebagai seorang muslim dan insya Allah juga
seorang mukmin.
Dalam ayat lain, Allah SWT. Juga
menjelaskan bahwa segala musibah yang menimpa adalah atas kehendakNya (yang
artinya): “Tidak ada suatu musibah pun
yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, Dan barang siapa yang beriman
kepada Allah, niscaya Dia akan member petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.” (QS
at-Taghaabun [64]: 11)
Sahabatku, kalo sudut
pandang pertama musibah ini bisa bermakna ujian, maka pada sudut pandang kedua,
justru kita khawatir nih, karena bisa jadi musibah itu adalah bentuk murkaNya.
Mungkin lebih halus bisa disebut peringatanNya sebagai bagian dari azabNya
karena kita sudah mulai lupa kepadaNya, karena kita sudah mulai berani
melawanNya, bahkan nekat menentangNya serta mendustakanNya. Wallahu’alam.
“Pelajaran” tentang peringatanNya
itu bisa kita simak dalam firman Allah SWT. (yang artinya): “Apakah kamu merasa amanterhadap Allah yang
(berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu,
sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman
terhadap allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang
berbatu. Maka kelak kamu akan mengetaui bagaimana (akibat mendustakan)
peringatanKu? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka teah mendustakan
(rasul-rasulNya). Maka alangkah hebatnya kemurkaanKu.” (QS al-Mulk [67]: 16-18)
Boys and girls, itu semua
bisa kita analisis. Mengukur diri. Kita bisa interospeksi diri. Kita bisa
menilai diri kita, dan berusaha mencocokkan apakah musibah ini adalah ujian
atau justru bagian dari murkaNya? Masing-masing dari kita insya Allah bisa
menjawabnya. Asal kita mau jujur kepada diri sendiri.
Sahabat, yuk, kita benahi diri kita.
Lakukan apa yang bisa kita perbuat sesuai kemampuan kita untuk menolong
saudara-saudara kita yang mendapat musibah. Semoga musibah yang dirasakan oleh
saudara-saudara kita, menjadikan mereka kuat, sabar, dan makin meningkat
imannya. Bagi kita, semoga kita mulai bisa empati, menumbuhkan jiwa social
sekaligus menguatkan iman kita, bahwa semua ini adalah ketentuan dari Allah
SWT. Dia memiliki rencana bagi kita dan seluruh ala mini. Tugas kita, adalah
tetap beriman kepadaNya. Ok? Sip deh!
Sumber: www.osolihin.com [edit]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar