Jumat, 16 Juni 2017



MAKALAH PERKEMBANGAN STUDI ISLAM DI TIMUR, BARAT DAN INDONESIA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam yang diampu
oleh Bapak Hendri Purbowaseso, M.Pd.










Disusun oleh:
Kelompok 1
Anggota:
1.      Abdur Rohman Wahid
2.      Dewi Ernawarti Saputri
3.      Mohamad Nur Iqbal
4.      Salisatun Warohmah
5.      Winarti
PAI 1C


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH  DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2015/2016


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena nikmat dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa pentingnya kita mengetahui tentang Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat dan indonesia. Dan mengetahui begitu berperan pentingnya sejarah Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat dan Indonesia, serta kami menyaajikan makalah ini berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Makalah ini memuat tentang “Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat dan Indonesia”. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalahnya masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih.














Wonosobo,   Oktober 2015


Penyusun
 
 








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................  i
DAFTAR ISI...........................................................................................................................  ii
BAB I ...... PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................................. 1
B.     Rumusan .......................................................................................................... 2
C.     Tujuan .............................................................................................................. 2
BAB II ..... PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Studi Islam di Dunia Timur....................................................  3
B.     Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat.....................................................  9
C.     Perkembangan Studi Islam di Indonesia........................................................ 11

BAB III ... PENUTUP
A.    Kesimpulan..................................................................................................... 15
B.     Penutup........................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................ 16



BAB I
PENDAHULUAN
A.               Latar belakang
Islam merupakan agama Alloh SWT. yang di turunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Dengan al-Qur’an sebagai pedomannya untuk memngarahkan kepada seluruh umat manusia kejalan yang sebenarnya yang di rifhoi oleh Alloh SWT. Islam mengajarkan kehhidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan materi dan sepiritual, mengembangkan kepedulian social, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, mencintai kebersihan, mengutamakan kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berahlak mulia, dan sikap- sikap positif lainnya.
Beberapa alasan tersebut di ataslah yang mungkin menyebabkan orang-orang barat tertarik untuk mempelajari islam, baik budaya, maupun ilmu pengetahuannya. Sehingga kebudayaan agama islam di dunia Barat berkembang menjadi pesat.
Sejarah islam merupakan bidang studi islam yang banyak menarik perhatian para peneliti, baik para kalangan sarjana muslim maupun non muslim. Karena dari penelitian tersebut mengandung banyak manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian tersebut. Karakteristik studi islam dipengaruhi oleh berbagai faktor kebijakan politik, dinamika sosial budaya, latar belakangpemegang kebijakan pendidikan, perkembangan ekonomi, dan berbagai faktor lainnya.
            Sementara itu, bagi para peneliti barat mempelajari sejarah islam selain ditunjukan untuk pengembangan ilmu, juga terkadang dimaksudkan untuk mencari kelemahan dan kekuatan umat islamagar dapat dijajah dan ebagai berikut.
            Disadari atau tidak, selama ini informasi mengenai sejarah islam banyak berasal dari hasil penelitian sarjana barat. Hal ini terjadi karena selain masyarakat barat memiliki etos keilmuan yang tinggi, juag didukung oleh dana dan kemauan politik yang kuat dari para pemimpinnya. Sedangkan para peneliti muslim tanpa disamping etos keilmuannya rendah, juga penelitian yang memadai, serta dana dan dukungan politik dari pemerintah yang kondisif.
            Dari problematika diatas, kita sebagai pelajar muslim perlu untuk mempelajari ataupun meneliti sejarah perkembangan studi islam didunia timur, barat dan juga di indonesia.

B.   Rumusan Masalah
A.    Perkembangan Studi Islam di Dunia Timur
B.     Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat
C.     Perkembangan Studi Islam di Indonesia

C.   Tujuan
1.      Disusun guna untuk memenuhi tugas Metodologi Studi Islam
2.      Untuk membahas tentang Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat, dan Indonesia























BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Studi Islam di Dunia Timur
Sebelum menjelaskan sejarah perkembangan studi Islam di dunia Timur, ada dua hal yang perlu kita ketahui sebelumya, yang pertamana mengetahui secara singkat prestasi umat muslim dalam bidang ilmu pengetahuan. Yang kedua mengetahui sejumlah intelektual yang berperan dalam kemajuan lembaga pendidikan Islam.
Sejarah singkat prestasi umat manusia dalam Ilmu Pengetahuan dikeukakan oleh George Stanton sebagai berikut :
1.      Fase 450-700 SM disebut zaman Planton yang selanjutnya diikuti oleh Aristoteles, Euclides, Archimides, dst.
2.      Fase 600-700 M disebut zaman China dan tokohnya adalah Hsin dan I Ching
3.      Fase 750-1258 disebut zaman Kejayaan Muslim. Selama 350 tahun pertama (750-1100M) kejayaan tersebut didominasi dan secara mutlak dikuasai sarjana-sarjana Muslim, Jabir, Khawarizmi, al-Razi, Mas’udi, Wafa, al-Biruni, Ibnu Sina, Ibnu Haitam, Umar al-Khayyam. Dan setelah itu muncul nama-nama non-Muslim, tetapi tetap bersaing dengan Muslim. Nama-nama yang muncul dari non-Muslim adalah Gerando di Cremona dan Roger Barcon. Sedangkan tokoh-tokoh dari Muslim adalah Ibnu Rushd, Nasiruddin, al-Tusi, Ibnu Nafis.
Kemajuan pengetahuan dalam Islam tidak mungkin dipisahkan dari tradisi intelektual peradaban-peradaban terdahulu yang telah maju sebelum dan menjelang munculnya Islam. Dalam Islam pengetahuan mencapai kejayaan sekitar abad ke-2 H / 8 M sampai abad ke-6 H / 12 M, maka jauh sebelumnya bangsa-bangsa Yunani, India, Cina, Tibet, Mesir dan Persia telah mengembangkan keilmuannya sendiri. Secara historis, peradaban Islam adalah pewaris yang kemudian melakukan sintesis dan penyempurnaan atas pengetahuan dari peradaban-peradaban kuno tersebut.
Beberapa kota yang merupakan pusat kegiatan intelektual sebelum dan menjelang datangnya Islam, yang berperan sebagai jembatan pada proses penyerapan ilmu pengetahuan oleh umat Istam.
1.      Athena
2.      Aleksandria
3.      Edessa, Harran, dan Nisibis
4.      Jundi Syapur
5.      India dan Timur Jauh

Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia muslim, yakni : Nisyapur, Nizhamiyah di Baghdad, al-Azhar di Kairo Mesir, Cordova, dan Kairwan Amir Nizam al-Mulk di Marok.
Sejarah singkat masing-masing pusat studi islam di gambarkan sebagai berikut:
1.      Nisyapur
Perguruan Tinggi Nizhamiyah Naisyapur dibangun Nizham al-Mulk untuk al-Juwayni, dan al-Juwayni menjadi mudarris(guru besar) di sini sampai tiga dekade, yang berakhir dengan wafatnya tahun 478/1083. Dari sini dapat dihitung bahwa lembaga ini dibangun sekitar 440-an/1050-an. Di lembaga ini ada 4 unsur pokok, yakni :
a.       Seorang Mudarris (guru besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan
b.      Seorang Muqri’ (ahli Al Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid
c.       Seorang Muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan
d.      Seorang Pustakawan (bait al-maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.
Tokoh-tokoh yang pernah menjadi staf lembaga tersebut antara lain al-Juwayni, Abu al-Qasim, al-Kiya al-Harrasi, al-Ghazali, dan Abu Sa’id (mudarris). Abu al-Qasim al-Hudzali dan Abu Nasyr al-Ramsyi (muqri’). Abu Muhammad al-Samarqandi (muhaddis). Abu ‘Amir al-Jurjani(pustakawan). Di samping itu, al-Ghazali pernah menjadi asisten (mu’di) bagi al-Juwayni
2.      Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan tinggi Nizhamiyah di Baghdad ini berdiri pada tahun 445 H/1063 M.[1][1] Perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di baghdad, yakni Bait Al-Hikmah yang dibangun oleh Khalifah Al-Makmun (813-833 M), salah seorang ulama besar yang pernah  mengajar di sana, adalah ahli pikir islam terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kemudian terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.[2][2]
Di lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni (1) seorang mudarris (guru besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan, muqri’ (ahli Al-Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid, muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan, dan seorang pustakawan (Bait Al-Maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat hidup hampir dua abad. Menjelang tahun 656 H (1258M) berlangsunglah penerbuan bangsa Mongol dari Asia Tengah ke arah barat yg dipimpin olehbHulagu Khan (1256-1349), cucu Jenghiz Khan (1162-1227M). Pada tahun 1258M itu pula mereka merebut dan menguasai ibukota Baghdad, dan berakhirlah sejarah Daulat Abbasiah.
3.      Perguruan Tiggi di al -Azhar di Kairo Mesir
            Adapun gambaran singkat perguruan tinggi  al-Azhar adalah ketika kekuasaan Syiah Tumbang di baghdad, maka kekuasaan Syiah pun bangkit di Tunisia, yakni Daulat Fathimiah (909-1171 M), yang dibangun oleh Amir Ubaidillah Al-Mahdi yang menyebut dirinya khalifah Ubaidillah (909-934M). Pada masa pemerintahan Khalifah Muiz Lidinillah(952-975M), khalifah ke-4 dari Daulat Fathimiah, wilayah Lybia dan Mesir berhasil direbut oleh Panglima Besar Jauhar al-Siqili dari Daulat Abbasiyah. Tokoh inilah yang pada tahun 362H/972M membangun Ibukota yang baru di Mesir, yakni Ibu Kota al-Qahirah (Kairo), untuk menggantikan Ibu Kota Fusthat, dan kemudian memindahkan Ibu Kota Daulat Fathimiah dari Tunis ke al-Qahira. Khalif Muiz Lidinillah pindah ke Mesir dan menetap di Ibu Kota yang baru itu.
Panglima besar Juhari Al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi Al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Hakim Biamrillah (966-1020), khalifah keenam dari Daulat Fathimiyah, ia pun membangun perpustakaan terbesar di Al-Qahirah untuk mendampingi Perguruan Tinggi Al-Azhar, yang diberi nama Bait Al-Hikmah (Balai ilmu pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah di tumbangkan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang mendirikan Daulat Ayyubiyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasyiah di Baghdad. Kurikulum pada perguruan tinggi Al-Azhar lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syi’ah  kepada aliran Sunni. Ternyata perguruan tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 M dan  tampaknya akan tetap selama hidupnya.[3][3]
Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode : pertama, periode sebelum tahun 1961 dan kedua, periode setelah 1961, dimana fakultas-fakultasnya sama seperti yang ada di IAIN sekarang, dan periode setelah tahun 1961, dimana fakultas-fakultas dan ilmu-ilmu yang dikaji telah meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan umum dan agama. Kalau peride pertama kita sebut periode Qadim (lama), dan kedua sebagai periode Jadid (baru), maka yang dicontoh IAIN selama ini ialah Al-Azhar periode Qadim.
4.      Perguruan Tinggi Cordova
Adapun sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa di tangan Daulat Ummayah, semenanjung Liberia yang berabad-abad sebelumnya terpandang daerah minus, berubah bagaikan disulap menjadi daerah yang makmur dan kaya raya akan pembangunan bendungan-bendungan irigasi  di sana sini menuruti contoh lembah Nil dan lembah Ephrate. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gilang gemilang sepanjang zaman tengah. The Historians’ History of the World menulis tentang peri keadaan pada masa pemerintahan Amir Abdurrahman I (756-788 M) itu, sebagai berikut, demikian tulis buku sejarah terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu, yang merupakan pusat intelektual di eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah mencatat, sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M, dan pelajaran yang dituntunnya adalah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard dari Cremona belajar di Toledo seperti halnya Aelhoud ke Cordova. Begitu pula tokoh-tokoh lainnya.
Rogerbachon (1214-1294), ahli pikir inggris yang terkenal menempatkan Afereos(Ibnu Sina), dan menganjurkan supaya mempelajari bahasa Arab sebagai jalan satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan yang dibuat kabur oleh salinan-salinan yang jelek. (“Rogerbachon, Plaching Him(Averreos) Beside Aristotle and Avicenna, Recomends the Study of Arabic as the Only Way of Getting the Knowledge Which Bad Versions Obscured”)
5.      Perguruan Tinggi Kairwan Amir Nizam al-Mulk di Marok
Perguruan tinggi Kairwan ini berada di kota Fez (Afrika Barat). Perguruan tinggi ini  bermula dibangun pada tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairawan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak saat itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Seperti halnya perguruan tinggi Al-Azhar, perguruan tinggi Kairawan masih tetap hidup sampai sekarang. Di antara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim terkenal, diantaranya adalah Allal Al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil mencapai kemerdekaan Maroko dari penjajahan Perancis sehabis perang Dunia kedua, lalu pejabat PM Maroko di bawah Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuan termasyhur yang pernah menjadi maha gurunya antara lain Ibnu Thufail (1106-1185 M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M), pada masa Daulat Almuwahhidin dari Eropa, maka nama Avenbacer (Abu bakar Ibnu Thufail) dan Averroes (Ibnu Rusyd) dan Avempas (Ibnu Bajah) dan Alhazem (Imnu Hazmi) dan lainnya, amat populer dan harum di Eropa.
Sebagai catatan, perguruan tinggi Al-Azhar (972 M) di Mesir, dan perguruan tinggi Kairwan (859 M) di Maroko, adalah lebih tua dibandingkan dengan perguruan tinggi Oxford (1163 M) dan perguruan tinggi Cambridge (1209 M) di Inggris, dan perguruan tinggi Sorbonne (1253  M) di Perancis, perguruan tinggi Tubingen (1477 M) di Jerman, dan perguruan tinggi Edinburg (1582 M) di Skotlandia.
Penyebab utama kemunduruan dunia muslim, khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang salib. Akhirnya, Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan tahun 1258 M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu Khan.
Apa yang digambarkan di atas merupakan rekaman sejarah masa lalu, yang mungkin masih eksis sampai sekarang, tetapi tidak menutup kemungkinan itu sudah tinggal nama. Atau masih eksis sampai sekarang tetapi kelasnya tidak sehebat masa lalu. Nama al-Azhar misalnya memang jelas masih eksis sampai sekarang, tetapi sudah ada minimal dua Universitas besar sebagai saingannya, yakni :
a.       Universitas Fu’ad I, yang sekarang bernama Universitas Kairo
b.      Universitas ‘Aniusyi-Syams, yang merupakan pengembangan dari Darul ‘Ulum.
Kedua Universitas ini mengadopsi ide-ide Muhammad ‘Abduh, sementara Universitas al-Azhar dikenal banyak menolak pemikiran-pemikiran ‘Abduh. Disamping itu adapula the American University di Kairo. Meskipun Universitas ini bukan Universitas Islam tetapi di sini juga ada fasilitas untuk studi tentang Islam.
Penting pula dicatat, al-Azhar cukup ketat menyaring pemikiran-pemikiran modern. Ulama-ulama al-Azhar siap menyerang ide-ide yang dianggap melenceng dari pemikiran ‘Abduh. Dapat dicatat misalnya, bahwa tahun 1925 Dewan Ulama al-Azhar menetapkan Syaikh ‘Ali ‘Abdul al-Raziq sebagai ulama yang melanggar ajaran Islam, yang karena tidak berhak lagi mengampu jabatan apapun. Sebab al-Raziq mengusulkan penghapusan jabatan Khalifah dan memisahkan persoalan kemasyarakatan dari masalah-masalah agama, dalam bukunya al-Islam Wa Usul al-Hukm yang terbit tahun 1925. Demikian pula Muhammad Abu Zaid 1930, karena mengkritik tafsir lama dan menawarkan tawaran baru yang bersifat tafsiran Ilmu Alam Sederhana terhadap ayat-ayat yang berbicara alam semesta. Tujuan penafsiran ini sesungguhnya adalah untuk mendorong generasi muda agar gemar menafsirkan Al Qur’an. Syaikh berikutnya yang dikenai hukum oleh Ulama al-Azhar adalah Dr.Toha Husein yang memberikan kritik destruktif terhadap sastra Arab Pra-Islam.
Dengan berjalannya sejarah Muslim, ditemukan sejumlah Perguran Tinggi di sejumlah Negara Muslim yang menawarkan program studi Islam dengan spesifikasi dan nama masing-masing. Berdasarkan lokasi Perguruan Tinggi tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut, yakni Perguruan Tinggi yang ada di Mesir, Universitas Theran di Iran, Universitas Damaskus di Syiria, Universitas Aligerch di India, Universitas Islam Internasional di Malaysia.
Di India ditemukan Universitas yang mencontoh model Universitas al-Azhar, yakni Darul ‘Ulum di Deoband dan Lembaga Pendidikan sejenis di Bereilly. Darul ‘Ulim ini didirikan papa tahun 1867 oleh para ulama pengikut Syah Wiyullah. Salah satu ciri khas lembaga yang didirikan Syah Wiyullah ini adalah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan tidak diajarkan bahasa Inggris. Ciri lain adalah disamping mengikuti paham tradisional sebagaimana al-Azhar, madrasah ini enolak berkompromi dengan adatistiadat Hindu maupun Barat. Karena itu kelompok ini meentang sikap ompromistik Akhmad Khan yang ingin memadukan sistem pendidikan Islam Tradisional dengan Sistem Pendidikan Barat (Inggris). Adapun tujuan didirikannya adalah untuk menyelamatkan Islam dari kepunahannya di India dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Islam di tengah-tengah masyarakat mayoritas agama Hindu. Emudian ada pula sejumlah Universitas baru yang juga menawarkan studi Islam. Diantaranya :
a.       American University in Cairo di Mesir, Departement of Arabic Studies-Islamic Art and Architecture
b.      An-Najah National University di Palestine, Paculty of Graduate Studies
c.       Center for Conservation and Preservation of Islamic Ar-Chitecture Heritage di Mesir
d.      Islamic Intitute for Peace and Human Development di Pakistan
e.       University of Engineering and Technology, Lahore di Pakistan, Departement of Humanities and Social Sciences
f.       Jamia Millia Islamia di India, Department of Islamic Studies
g.      Selcup Universitydi Turkey, History of Ar and Architecture
h.      Shiraz University di Iran, Depertement of Islamic Education
i.        University of Aleppo di Syiria, Faculty of Arts and Humanities
j.        University of Khartoum di Sudan, Departement of Islamic Studies.

B.               Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat
            Untuk mempelajari perkembangan studi Islam di dunia barat perlu diketahui terlebih dahulu sejarah kontak Islam dengan dunia barat (Eropa). Kontak Islam degan Barat (Eropa) dapat dikelompokan menjadi dua fase, yaitu :
1.      Di masa kejayaan Islam (abad ke-8) jika Spanyol adalah abad 13
2.      Sejak masa renaisance, dimana barat mulai berjaya sampai sekarang.
Fase-fase perkembangan studi Islam di dunia Barat
a.       Fase Kejayaan Muslim
Kontak pertama antara dunia barat dengan dunia muslim adalah lewat kontak perguruan tinggi. Sejumlah ilmuwan dan tokoh-tokoh barat datang ke sejumlah perguruan tinggi, laboratori, observatorium, dan pusat-pusat studi muslim untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dunia Islam belahan Timur, Perguruan Tinggi tersebut berkedudukan di Baghdad (Irak) dan di Kairo (Mesir), sementara di belahan Barat ada Cordova.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia Barat pada fase pertama adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan (Renaissance) di Eropa pada abad ke-14. Kegiatan ini bermula atas restu King Frederick H dari Sicilly(1198-1212), yang belakangan menjabat Kaisar Holly Roman Empire(1215-1250).
Sekalipun beroleh tantangan dari Paus Vatikan, namun kegiatan it tetap berlangsung sehingga terbangun perguruan-perguruan tinggi di Semenanjung Italia, Padua, Florence, Milano, Venezia, di susul oleh Oxford dan Chambridge di Inggris, Sorbonne di Perancis, dan Tubingen di Jerman. Manuskrip-manuskrip karya para Ilmuan Muslim dari berbagai cabang ilmu itu disalin ke dalam bahasa latin.
b.      Fase Runtuhnya Muslim
Selama abad Renaisanse Eropa menguasai dunia untuk mencari mata dagangan, komersial, dan penyebaran agama. Dalam abad ke-16 hampir seluruh dunia telah mereka kuasai. Ekspedisi bangsa-bangsa Eropa, terutama Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda, Perancis, dan Italia, yang awalnya hanya berlomba menguasai dan mengamankan sumber komoditis dan monopoly lama-kelamaan menjadi kolonialisasi melalui rekayasa kekuasaan. Ada kalanya terjadi perebutan diantara mereka sendiri. Ahirnya nasib belahan bumi ditentukan oleh penjajah.
Kedatangan Muslim Fase kedua ke dunia barat, khususnya Eropa Barat khususnya Eropa Barat dilatarbelakangi oleh dua alasan pokok, yakni : alasan politik dan alasan ekonomi. Adapun kategori muslim yang ada di Eropa Barat ada 2, yang pertama pendatang(migrant) dan yang kedua penduduk asli. Kategori lebih jauh dari penduduk asli dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1.      Orang asli yang masuk islam
2.      Keturunan dari muslim asli yang sudah lama
3.      Muslim yang kembali menemukan agama aslinya
Muslim yang tinggal di Eropa Barat dapat dikelompokan menjadi 4 kelompok :
a.       Konfessionals
b.      Believers
c.       Liberals
d.      Agnosticist
Sedangkan kondisi muslim di Belanda dapat disimpulkan bahwa muslim yang ada di belanda adalah imigrant.
Kontak awal Belanda dengan Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika utusan kesultanan Aceh datang ke Belanda pada tahun 1602 yang dipimpin oleh Abdu Zamad yang terdiri dari 4 orang, mereka ini disebut oleh orang Belanda dengan modern berkulit kuning. Tidak dapat dipastikan apakah dengan kedatangan utusan dari kesultanan Aceh atau ada sebelumnya. Yang pasti kedatangan mereka di Belanda ini tidak dimasukan sebagai awal dakwah Islam di Belanda. Harus diingat sebelum Belanda datang ke Indonesia, 1 abad sebelumnya portugis sudah ada dan bermitra dengan kesultanan Aceh untuk mendapatkan bahan dagangan dan komoditas lainnya. Dapat disimpulkan bahwa hubungan Portugis dan Kesultanan Aceh, adalah hubungan Bilateral yang sederajat. Demikian juga dengan hubungan Indonesia dan Belanda adalah juga hubungan dagang.
Pembahasan tentang bagaimana studi Islam di negara-negara non-muslim dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu :
1.      Berdasarkan dosen yang mengajarkan studi Islam
2.      Berdasarkan Perguruan Tinggi
3.      Berdasarkan pusat Studi
Secara khusus, pasang surut studi Islam Indonesia di Belanda, juga bagian dari Eropa, ditulis Niko Kapten. Bahwa studi Islam Indonesia secara umum dapat dikelompokan dua periode yaitu Masa Penjajahan dan Masa Penjajahan.

C.   Perkembangan Studi Islam di Indonesia
Indonesia adalah sebuah negeri agraris sekaligus maritim yang memiliki berbagai bentuk masyarakat, kebuadayaan, watak, dan kehidupan sosial yang berbeda-beda. Agama Islam sebagai agama yang memiliki rahmat bagi seluruh alam memiliki otoritas dalam upaya menyatukan cara berfikir yang kemudian berimplikasi pada perbuatan yang nyata, khususnya pada masyarakat Indonesia itu sendiri.
Dalam upayanya, Islam yang dibawa oleh saudagar-saudagar dari Timur Tengah (Arab, India, Gujarat dll.) pada awalnya masih memiliki keterbatasan pada sistem dan kurikulimnya. Namun, ada hal yang menarik dalam memahami dinamika-dinamika perkembangan Studi Islam di Indonesia.
Perkembangan studi Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga/ sistem pendidikan Islam di Indonesia memiliki tahapan-tahapan seperti: a. Sistem langgar b. Sistem pesantren c. Sistem kelas d. Perguruan Tinggi
a. Sistem langgar
Yang dimaksud pendidikan dengan sistem langgar adalah pendidikan yang dijalankan di langgar, surau, masjid, atau di rumah guru. Kurikulumnyapun bersifat elementer, yakni mempelajari abjad huruf arab. Dengan sistem ini dikelola oleh ‘alim, mudin, lebai. Mereka ini umumnya berfungsi sebagai guru agama atau sekaligus menjadi tukang baca do’a.[4][8] di masjid atau dilanggar mereka; guru dan murid-murid duduk bersila atau tanpa bangku.
b.      Sistem Pesantren
Umumnya kurikulum sistem pesantren adalah pada tingkat awal hanya untuk mengenal huruf abjad Arab. Kemudian pada tingkat selanjutnya diajarakan lagu-lagu qasidah; berzanji, tajuwid, mengaji kitab Farukunan.
Pengajaran dengan sistem Pesantren ini dilakukan dengan dua cara:.
Dengan cara sorogan, yakni seorang murid berhadapan secara langsung dengan guru,dan bersifat perorangan.
2.      Dengan cara halaqah, yakni guru dikelilingi oleh murid-murid
Adapun system pendidikan dengan pesantren atau dapat diidentikan dengan huttab, dimana seorang kiyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran/pendidikan, dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri.
Hanya saja sorogan di pesantren biasanya dengan cara si santri yang membaca kitab, sementara kiyai mendengar, sekaligus mengoreksi kalau ada kesalahan.
c.       Sistem kelas.
Setelah sistem kerajaan kemudian mulai akhir abad ke 19, perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, mulai lahir sekolah model Belanda; sekolah Eropa, sekolah Vernahuler. Sekolah Eropa khusus bagi ningrat Belanda. Di samping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan sekolah-sekolah Belanda tersebut, seperti sekolah taman siswa(adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid).Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa", yang merupakan realisasi gagasan beliau bersama-sama dengan teman di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia
Kemudian dasawarsa kedua abad ke 20 muncul madrsah dan sekolah-sekolah model Belanda oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Jama’at al-Khair, dan lain-lain.
Kemudian pada tahun 1916, Nahdatul Ulama membuka madrasah salafiyah di Tebuireng, yang dalam kurikulumnya memasukkan pelajaran baca tulis huruf latin. Pada tahun 1923 ada empat sekolah Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta, dan di Jakarta berdiri sekolah HIS (Hollands Inlands School).
d.      Perguruan tinggi
Kemudian pada level perguruan tinggi dapat digambarkan, bahwa berdirinya perguruan tinggi Islam tidak dapat dilepaskan dari adanya keinginan umat Islam Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan tinggi Islam sejak colonial. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, pada bulan April 1945 ulama cendekianwan. Dalam pertemuan itu dibentuklah panitia Perencana Sekolah Tinggi Islam yang diketauai oleh Drs. Moh. Hatta dengan anggota-anggota antara lain: K.H. Mas Mansur, K.H.A. Muzakkir, K.H R.F Kafrawi dan lain-lain. Setelah persiapan cukup, pada tanggal 8 Juli 1945 atau tanggal 27 Rajab 1364 H, bertepatan dengan hari Isra’ dan Mi’raj diadakan upacara pembukaan resmi Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta.
Setelah proklamasi dan ibu kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, STI juga hijrah ke kota tersebut dan berubah namanya menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) dengan empat fakultas, yaitu: Agama, Hukum, Ekonomi, dan Pendidikan. Fakultas Agama UII ini kemudian dinegerikan dan menjelma menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1950 dan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Bersama Mentri Agama dan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No. K/I/14641 Tahun 1951 (Agama) dan No. 28665/Kab. Tahun 1951 (Pendidikan) tanggal 1-9-1951.
PTAIN membuka tiga jurusan, yaitu Jurusan Qadla, Tarbiyah dan Dakwah. Setelah PTAIN berjalan kira-kira sembilan tahun-waktu itu Ketua Fakultasnya adalah Prof. Muhtar Yahya dirasakan tidak mungkin mempertahankan hanya satu fakultas. Dengan alasan, karena demikian luasnya ilmu pengetahuan keagamaan Islam,. Maka pada tahun 1960 PTAIN dilebur dan digabungkan dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADAI) milik Departemen Agama yang didirikan di Jakarta dengan Penetapan Menteri Agama No. 1 Tahun 1957. Pengabungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan Peraturan Presiden RI Nomor 11 tahun 1960 dan Penetapan Menteri Agama No. 43 tahun 1960 tetang peyelengaraan IAIN. Maka IAIN al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah diresmikan berdirinya oleh Menteri Agama RI pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal 1380 H bertepatan dengan tanggal 28 Agustus 1960 berdasarkan PP. No. 11 tahun 1960 tanggal 9 Mei 1960. IAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta.
Melihat perkembangan IAIN yang pesat yang ditandainya dengan banyaknya berdiri fakultas-fakultas cabang di daerah-daerah menunjukkan minat masuk IAIN. Kondisi ini melatarbelakangi lahirnya PP No. 27 Tahun 1963, yang memungkinkan didirikanya IAIN yang terpisah dari pusat. Dari sisi waktu berdirinya IAIN dapat digambarkan berikut:
1.      IAIN Ar-Raniry Banda Aceh tanggal 5 Oktober 1963.
2.      IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tanggal 5 Desember 1963.
3.      IAIN Raden Fatah Palembang tanggal 22 Oktober 1964.
4.      IAIN Antasari Kalimantan Selatan tanggal 22 Nopember 1964.
5.      IAIN Sunan Ampel Surabaya tanggal 6 Juli 1965.
6.      IAIN Alauddin Ujung Pandang tanggal 28 Oktober 1965.
7.      IAIN Imam Bonjol Padang tanggal 21 Nopember 1966.
8.      IAIN Sultasn Taha Saefuddin Jambi tahun 1967.
Dengan adanya perguruan tinggi tersebut itu membuktikan bahwa studi islam di indonesia cukup baik dalam mengawal zaman yang semakin modern. Kesimpulannya baik dari segi ulama, pemerintah dan masyarakat yang ada di indonesia sebenarnya saling mendukung sehingga terciptalah studi studi islam yang dapat memfasilitasi umat islam dalam bersaing di dunia pengetahuan dengan umat umat yang lain.













BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Di dunia timur studi islam sudah sangat baik, hal ini dapat di buktikan  Adanya beberapa kota yang menjadi pusat kajian islam di zamannya, yaitu Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia muslim, yaitu (1) Nizhamiyah di Baghdad (2) Al-Azhar di Kairo Mesir (3) Cordova (bagian barat) dan (4) Kairwan Amir Nizam Al-Muluk di Maroko.
Selanjutnya dalam dunia barat dapat kita lihat banyaknya bermunculan para pemikir pemikir tentang studi baik itu masalah agama maupun ilmu umum. Hal inilah yang menjadikan studi islam lebih berkembang pesat di barat. Salah satu contoh yang kami ambil adalah pemikiran Ibnu Rusyd yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir.
Indonesia adalah negara yang terbanyak umat islam juga tidak kalah dalam dunia studi islam hal ini dapat kita ketahui dari perkembangan pola pembelajaran dari awal islam masukdi ndonesia hingga saat ini. Perkembangan studi Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga/ sistem pendidikan Islam di Indonesia memiliki tahapan-tahapan seperti: Sistem langgar, Sistem pesantren, Sistem kelas, Perguruan Tinggi.

B.     PENUTUP
Alkhamdulillah, makalah Metodologi Studi Islam telah kami selesaikan. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh sebab kami mohon kritikan dan saran dari teman-teman, khususnya kepada Bapak Hendri Purbowaseso, M.Pd. demi kelengkapan makalah ini. Semoga makalah yang berjudul Makalah Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat, dan Indonesia memberikan manfaat bagi kita semua khususnya dalam ilmu Metodologi Studi Islam. Amin.







DAFTAR PUSTAKA

Darmawan , Andi dkk. 2005. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.

Hasbullah. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan.Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Joesoef sou’yb. 1985. Orientalisme dan Islam .Jakarta : bulan bintang.
Murodi. 2003.Sejarah Kebudayaan Islam; Madrasah Aliyah Kelas Tiga.Jakarta: Karya Toha Putra.

Nanji,Azim. 2003. Peta Studi Islam; Orientalisme dan Arah Baru Kajian Islam di Barat. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru

Nasution Khoiruddin, 2010. Pengantar Studi Islam, Yogyakarta : ACAdeMIA.


[1][1] Joesoef sou’yb, Orientalisme dan Islam (Jakarta : bulan bintang, 1985), hlm. 37-38.
[2][2] Andi darmawan, M.Ag dkk, Pengantar Studi Islam, (Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005), hlm. 37
[3][3] Joesoef sou’yb, Op.Cit. , hlm. 38-39
[4][8] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 1995), hlm. 21-22
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar