MAKALAH
PERKEMBANGAN STUDI ISLAM DI TIMUR, BARAT DAN INDONESIA
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam yang diampu
oleh
Bapak Hendri Purbowaseso, M.Pd.
Disusun oleh:
Kelompok 1
Anggota:
1.
Abdur Rohman Wahid
2.
Dewi Ernawarti Saputri
3.
Mohamad Nur Iqbal
4.
Salisatun Warohmah
5.
Winarti
PAI 1C
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2015/2016
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa karena nikmat dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad
SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat
mengetahui seberapa pentingnya kita mengetahui tentang
Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat dan indonesia. Dan mengetahui begitu
berperan pentingnya sejarah Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat dan
Indonesia, serta kami menyaajikan makalah ini berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber.
Makalah ini memuat tentang “Perkembangan
Studi Islam di Timur, Barat dan Indonesia”. Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalahnya masih banyak
kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Terima
kasih.
|
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR............................................................................................................. i
DAFTAR
ISI...........................................................................................................................
ii
BAB
I ...... PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.................................................................................................
1
B.
Rumusan ..........................................................................................................
2
C.
Tujuan ..............................................................................................................
2
BAB
II ..... PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Studi Islam di Dunia Timur.................................................... 3
B.
Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat..................................................... 9
C.
Perkembangan Studi Islam di Indonesia........................................................
11
BAB
III ... PENUTUP
A.
Kesimpulan.....................................................................................................
15
B.
Penutup...........................................................................................................
15
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................
16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Islam merupakan agama Alloh SWT. yang di turunkan
melalui Nabi Muhammad SAW. Dengan al-Qur’an sebagai pedomannya untuk
memngarahkan kepada seluruh umat manusia kejalan yang sebenarnya yang di rifhoi
oleh Alloh SWT. Islam mengajarkan kehhidupan yang dinamis dan progresif,
menghargai akal pikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan materi dan sepiritual, mengembangkan
kepedulian social, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi
pada kualitas, mencintai kebersihan, mengutamakan kebersihan, mengutamakan
persaudaraan, berahlak mulia, dan sikap- sikap positif lainnya.
Beberapa alasan tersebut di ataslah yang mungkin
menyebabkan orang-orang barat tertarik untuk mempelajari islam, baik budaya,
maupun ilmu pengetahuannya. Sehingga kebudayaan agama islam di dunia Barat
berkembang menjadi pesat.
Sejarah islam merupakan bidang studi islam yang banyak
menarik perhatian para peneliti, baik para kalangan sarjana muslim maupun non
muslim. Karena dari penelitian tersebut mengandung banyak manfaat yang dapat
diperoleh dari penelitian tersebut. Karakteristik studi islam dipengaruhi oleh
berbagai faktor kebijakan politik, dinamika sosial budaya, latar
belakangpemegang kebijakan pendidikan, perkembangan ekonomi, dan berbagai
faktor lainnya.
Sementara itu, bagi para peneliti barat mempelajari
sejarah islam selain ditunjukan untuk pengembangan ilmu, juga terkadang
dimaksudkan untuk mencari kelemahan dan kekuatan umat islamagar dapat dijajah
dan ebagai berikut.
Disadari atau tidak, selama ini informasi mengenai
sejarah islam banyak berasal dari hasil penelitian sarjana barat. Hal ini
terjadi karena selain masyarakat barat memiliki etos keilmuan yang tinggi, juag
didukung oleh dana dan kemauan politik yang kuat dari para pemimpinnya.
Sedangkan para peneliti muslim tanpa disamping etos keilmuannya rendah, juga
penelitian yang memadai, serta dana dan dukungan politik dari pemerintah yang
kondisif.
Dari problematika diatas, kita sebagai pelajar muslim
perlu untuk mempelajari ataupun meneliti sejarah perkembangan studi islam
didunia timur, barat dan juga di indonesia.
B. Rumusan Masalah
A.
Perkembangan Studi Islam
di Dunia Timur
B.
Perkembangan Studi Islam
di Dunia Barat
C.
Perkembangan Studi Islam
di Indonesia
C. Tujuan
1.
Disusun guna untuk
memenuhi tugas Metodologi Studi Islam
2.
Untuk membahas tentang
Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat, dan Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Studi Islam
di Dunia Timur
Sebelum menjelaskan sejarah perkembangan studi Islam di
dunia Timur, ada dua hal yang perlu kita ketahui sebelumya, yang pertamana
mengetahui secara singkat prestasi umat muslim dalam bidang ilmu pengetahuan.
Yang kedua mengetahui sejumlah intelektual yang berperan dalam kemajuan lembaga
pendidikan Islam.
Sejarah singkat prestasi umat manusia dalam Ilmu
Pengetahuan dikeukakan oleh George Stanton sebagai berikut :
1.
Fase 450-700 SM disebut
zaman Planton yang selanjutnya diikuti oleh Aristoteles, Euclides, Archimides,
dst.
2.
Fase 600-700 M disebut
zaman China dan tokohnya adalah Hsin dan I Ching
3.
Fase 750-1258 disebut
zaman Kejayaan Muslim. Selama 350 tahun pertama (750-1100M) kejayaan tersebut
didominasi dan secara mutlak dikuasai sarjana-sarjana Muslim, Jabir, Khawarizmi,
al-Razi, Mas’udi, Wafa, al-Biruni, Ibnu Sina, Ibnu Haitam, Umar al-Khayyam. Dan
setelah itu muncul nama-nama non-Muslim, tetapi tetap bersaing dengan Muslim.
Nama-nama yang muncul dari non-Muslim adalah Gerando di Cremona dan Roger
Barcon. Sedangkan tokoh-tokoh dari Muslim adalah Ibnu Rushd, Nasiruddin,
al-Tusi, Ibnu Nafis.
Kemajuan pengetahuan dalam
Islam tidak mungkin dipisahkan dari tradisi intelektual peradaban-peradaban
terdahulu yang telah maju sebelum dan menjelang munculnya Islam. Dalam Islam
pengetahuan mencapai kejayaan sekitar abad ke-2 H / 8 M sampai abad ke-6 H / 12
M, maka jauh sebelumnya bangsa-bangsa Yunani, India, Cina, Tibet, Mesir dan
Persia telah mengembangkan keilmuannya sendiri. Secara historis, peradaban
Islam adalah pewaris yang kemudian melakukan sintesis dan penyempurnaan atas
pengetahuan dari peradaban-peradaban kuno tersebut.
Beberapa kota yang
merupakan pusat kegiatan intelektual sebelum dan menjelang datangnya Islam,
yang berperan sebagai jembatan pada proses penyerapan ilmu pengetahuan oleh
umat Istam.
1.
Athena
2.
Aleksandria
3.
Edessa, Harran, dan
Nisibis
4.
Jundi Syapur
5.
India dan Timur Jauh
Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia muslim, yakni
: Nisyapur, Nizhamiyah di Baghdad, al-Azhar di Kairo Mesir, Cordova, dan Kairwan
Amir Nizam al-Mulk di Marok.
Sejarah singkat masing-masing pusat studi islam di
gambarkan sebagai berikut:
1.
Nisyapur
Perguruan Tinggi Nizhamiyah Naisyapur dibangun Nizham
al-Mulk untuk al-Juwayni, dan al-Juwayni menjadi mudarris(guru besar) di sini
sampai tiga dekade, yang berakhir dengan wafatnya tahun 478/1083. Dari sini
dapat dihitung bahwa lembaga ini dibangun sekitar 440-an/1050-an. Di lembaga
ini ada 4 unsur pokok, yakni :
a.
Seorang Mudarris (guru
besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan
b.
Seorang Muqri’ (ahli Al
Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid
c.
Seorang Muhaddis (ahli
hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan
d.
Seorang Pustakawan (bait
al-maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal
yang terkait.
Tokoh-tokoh yang pernah menjadi staf lembaga tersebut
antara lain al-Juwayni, Abu al-Qasim, al-Kiya al-Harrasi, al-Ghazali, dan Abu
Sa’id (mudarris). Abu al-Qasim al-Hudzali dan Abu Nasyr al-Ramsyi (muqri’). Abu
Muhammad al-Samarqandi (muhaddis). Abu ‘Amir al-Jurjani(pustakawan). Di samping
itu, al-Ghazali pernah menjadi asisten (mu’di) bagi al-Juwayni
2.
Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan
tinggi Nizhamiyah di Baghdad ini berdiri pada tahun 445 H/1063 M.[1][1] Perguruan tinggi ini
dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di baghdad, yakni Bait
Al-Hikmah yang dibangun oleh Khalifah Al-Makmun (813-833 M), salah seorang
ulama besar yang pernah mengajar di
sana, adalah ahli pikir islam terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang
kemudian terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.[2][2]
Di
lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni (1) seorang mudarris (guru besar) yang
bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan, muqri’ (ahli
Al-Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid, muhaddis (ahli hadis) yang
mengajar hadis lembaga pendidikan, dan seorang pustakawan (Bait Al-Maktub) yang
bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang
terkait.
Perguruan tinggi tertua
di Baghdad ini hanya sempat hidup hampir dua abad. Menjelang tahun 656 H (1258M)
berlangsunglah penerbuan bangsa Mongol dari Asia Tengah ke arah barat yg
dipimpin olehbHulagu Khan (1256-1349), cucu Jenghiz Khan (1162-1227M). Pada tahun
1258M itu pula mereka merebut dan menguasai ibukota Baghdad, dan berakhirlah
sejarah Daulat Abbasiah.
3. Perguruan Tiggi di al -Azhar di Kairo Mesir
Adapun
gambaran singkat perguruan tinggi al-Azhar adalah ketika kekuasaan Syiah Tumbang di
baghdad, maka kekuasaan Syiah pun bangkit di Tunisia, yakni Daulat Fathimiah
(909-1171 M), yang dibangun oleh Amir Ubaidillah Al-Mahdi yang menyebut dirinya
khalifah Ubaidillah (909-934M). Pada masa pemerintahan Khalifah Muiz
Lidinillah(952-975M), khalifah ke-4 dari Daulat Fathimiah, wilayah Lybia dan
Mesir berhasil direbut oleh Panglima Besar Jauhar al-Siqili dari Daulat
Abbasiyah. Tokoh inilah yang pada tahun 362H/972M membangun Ibukota yang baru
di Mesir, yakni Ibu Kota al-Qahirah (Kairo), untuk menggantikan Ibu Kota
Fusthat, dan kemudian memindahkan Ibu Kota Daulat Fathimiah dari Tunis ke
al-Qahira. Khalif Muiz Lidinillah pindah ke Mesir dan menetap di Ibu Kota yang
baru itu.
Panglima besar Juhari
Al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi Al-Azhar dengan
kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan Khalifah
Al-Hakim Biamrillah (966-1020), khalifah keenam dari Daulat Fathimiyah, ia pun
membangun perpustakaan terbesar di Al-Qahirah untuk mendampingi Perguruan
Tinggi Al-Azhar, yang diberi nama Bait Al-Hikmah (Balai ilmu pengetahuan),
seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada
tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah di tumbangkan oleh Sultan Salahuddin
Al-Ayyubi yang mendirikan Daulat Ayyubiyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk
kembali kepada Daulat Abbasyiah di Baghdad. Kurikulum pada perguruan tinggi Al-Azhar lantas
mengalami perombakan total, dari aliran Syi’ah
kepada aliran Sunni. Ternyata perguruan tinggi al-Azhar ini mampu hidup
terus sampai sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 M dan tampaknya akan tetap selama hidupnya.[3][3]
Universitas
al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode : pertama, periode sebelum
tahun 1961 dan kedua, periode setelah 1961, dimana fakultas-fakultasnya
sama seperti yang ada di IAIN sekarang, dan periode setelah tahun 1961, dimana
fakultas-fakultas dan ilmu-ilmu yang dikaji telah meliputi seluruh cabang ilmu
pengetahuan umum dan agama. Kalau peride pertama
kita sebut periode Qadim (lama), dan kedua sebagai periode Jadid (baru), maka
yang dicontoh IAIN selama ini ialah Al-Azhar periode Qadim.
4. Perguruan Tinggi Cordova
Adapun
sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa di tangan Daulat
Ummayah, semenanjung Liberia yang berabad-abad sebelumnya terpandang daerah
minus, berubah bagaikan disulap menjadi daerah yang makmur dan kaya raya akan
pembangunan bendungan-bendungan irigasi
di sana sini menuruti contoh lembah Nil dan lembah Ephrate. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat
ilmu dan kebudayaan yang gilang gemilang sepanjang zaman tengah. The
Historians’ History of the World menulis tentang peri keadaan pada masa
pemerintahan Amir Abdurrahman I (756-788 M) itu, sebagai berikut, demikian
tulis buku sejarah terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu,
yang merupakan pusat intelektual di eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah
mencatat, sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova
pada tahun 1120 M, dan pelajaran yang dituntunnya adalah geometri, algebra
(aljabar), matematik. Gerard dari Cremona belajar di Toledo seperti halnya
Aelhoud ke Cordova. Begitu pula tokoh-tokoh lainnya.
Rogerbachon
(1214-1294), ahli pikir inggris yang terkenal menempatkan Afereos(Ibnu Sina),
dan menganjurkan supaya mempelajari bahasa Arab sebagai jalan satu-satunya
untuk memperoleh pengetahuan yang dibuat kabur oleh salinan-salinan yang jelek.
(“Rogerbachon, Plaching
Him(Averreos) Beside Aristotle and Avicenna, Recomends the Study of Arabic as
the Only Way of Getting the Knowledge Which Bad Versions Obscured”)
5. Perguruan Tinggi Kairwan Amir Nizam al-Mulk di Marok
Perguruan tinggi
Kairwan ini berada di kota Fez (Afrika Barat). Perguruan tinggi ini bermula dibangun pada
tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal
dari Kairawan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan
kepada pemerintah dan sejak saat itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang
perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Seperti halnya
perguruan tinggi Al-Azhar, perguruan tinggi Kairawan masih tetap hidup sampai
sekarang. Di antara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim
terkenal, diantaranya adalah Allal Al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil
mencapai kemerdekaan Maroko dari penjajahan Perancis sehabis perang Dunia
kedua, lalu pejabat PM Maroko di bawah Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuan
termasyhur yang pernah menjadi maha gurunya antara lain Ibnu Thufail (1106-1185
M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M), pada masa Daulat Almuwahhidin dari Eropa, maka
nama Avenbacer (Abu bakar Ibnu Thufail) dan Averroes (Ibnu Rusyd) dan Avempas
(Ibnu Bajah) dan Alhazem (Imnu Hazmi) dan lainnya, amat populer dan harum di
Eropa.
Sebagai
catatan, perguruan tinggi Al-Azhar (972 M) di Mesir, dan perguruan tinggi
Kairwan (859 M) di Maroko, adalah lebih tua dibandingkan dengan perguruan
tinggi Oxford (1163 M) dan perguruan tinggi Cambridge (1209 M) di Inggris, dan
perguruan tinggi Sorbonne (1253 M) di
Perancis, perguruan tinggi Tubingen (1477 M) di Jerman, dan perguruan tinggi
Edinburg (1582 M) di Skotlandia.
Penyebab
utama kemunduruan dunia muslim, khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah
terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh dengan
membawa bendera perang salib. Akhirnya, Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan
ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan tahun 1258 M. Pusat-pusat studi termasuk
yang dihancurkan Hulaghu Khan.
Apa
yang digambarkan di atas merupakan rekaman sejarah masa lalu, yang mungkin
masih eksis sampai sekarang, tetapi tidak menutup kemungkinan itu sudah tinggal
nama. Atau masih eksis sampai
sekarang tetapi kelasnya tidak sehebat masa lalu. Nama al-Azhar misalnya memang
jelas masih eksis sampai sekarang, tetapi sudah ada minimal dua Universitas
besar sebagai saingannya, yakni :
a. Universitas Fu’ad I,
yang sekarang bernama Universitas Kairo
b. Universitas
‘Aniusyi-Syams, yang merupakan pengembangan dari Darul ‘Ulum.
Kedua Universitas ini
mengadopsi ide-ide Muhammad ‘Abduh, sementara Universitas al-Azhar dikenal
banyak menolak pemikiran-pemikiran ‘Abduh. Disamping itu adapula the American
University di Kairo. Meskipun Universitas ini bukan Universitas Islam tetapi di
sini juga ada fasilitas untuk studi tentang Islam.
Penting
pula dicatat, al-Azhar cukup ketat menyaring pemikiran-pemikiran modern.
Ulama-ulama al-Azhar siap menyerang ide-ide yang dianggap melenceng dari
pemikiran ‘Abduh. Dapat dicatat misalnya, bahwa tahun 1925 Dewan Ulama al-Azhar
menetapkan Syaikh ‘Ali ‘Abdul al-Raziq sebagai ulama yang melanggar ajaran
Islam, yang karena tidak berhak lagi mengampu jabatan apapun. Sebab al-Raziq
mengusulkan penghapusan jabatan Khalifah dan memisahkan persoalan
kemasyarakatan dari masalah-masalah agama, dalam bukunya al-Islam Wa Usul
al-Hukm yang terbit tahun 1925. Demikian pula Muhammad Abu Zaid 1930,
karena mengkritik tafsir lama dan menawarkan tawaran baru yang bersifat
tafsiran Ilmu Alam Sederhana terhadap ayat-ayat yang berbicara alam semesta.
Tujuan penafsiran ini sesungguhnya adalah untuk mendorong generasi muda agar
gemar menafsirkan Al Qur’an. Syaikh berikutnya yang dikenai hukum oleh Ulama
al-Azhar adalah Dr.Toha Husein yang memberikan kritik destruktif terhadap
sastra Arab Pra-Islam.
Dengan
berjalannya sejarah Muslim, ditemukan sejumlah Perguran Tinggi di sejumlah
Negara Muslim yang menawarkan program studi Islam dengan spesifikasi dan nama
masing-masing. Berdasarkan lokasi Perguruan Tinggi tersebut dapat dikelompokan
sebagai berikut, yakni Perguruan Tinggi yang ada di Mesir, Universitas Theran
di Iran, Universitas Damaskus di Syiria, Universitas Aligerch di India,
Universitas Islam Internasional di Malaysia.
Di
India ditemukan Universitas yang mencontoh model Universitas al-Azhar, yakni
Darul ‘Ulum di Deoband dan Lembaga Pendidikan sejenis di Bereilly. Darul ‘Ulim
ini didirikan papa tahun 1867 oleh para ulama pengikut Syah Wiyullah. Salah
satu ciri khas lembaga yang didirikan Syah Wiyullah ini adalah menggunakan
bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan tidak diajarkan bahasa Inggris. Ciri
lain adalah disamping mengikuti paham tradisional sebagaimana al-Azhar, madrasah
ini enolak berkompromi dengan adatistiadat Hindu maupun Barat. Karena itu
kelompok ini meentang sikap ompromistik Akhmad Khan yang ingin memadukan sistem
pendidikan Islam Tradisional dengan Sistem Pendidikan Barat (Inggris). Adapun
tujuan didirikannya adalah untuk menyelamatkan Islam dari kepunahannya di India
dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Islam di tengah-tengah
masyarakat mayoritas agama Hindu. Emudian ada pula sejumlah Universitas baru
yang juga menawarkan studi Islam. Diantaranya :
a.
American
University in Cairo di Mesir, Departement of Arabic Studies-Islamic Art and
Architecture
b.
An-Najah
National University di Palestine, Paculty of Graduate Studies
c.
Center
for Conservation and Preservation of Islamic Ar-Chitecture Heritage di Mesir
d.
Islamic
Intitute for Peace and Human Development di Pakistan
e.
University
of Engineering and Technology, Lahore di Pakistan, Departement of Humanities
and Social Sciences
f.
Jamia
Millia Islamia di India, Department of Islamic Studies
g.
Selcup
Universitydi Turkey, History of Ar and Architecture
h.
Shiraz
University di Iran, Depertement of Islamic Education
i.
University
of Aleppo di Syiria, Faculty of Arts and Humanities
j.
University
of Khartoum di Sudan, Departement of Islamic Studies.
B.
Perkembangan Studi Islam
di Dunia Barat
Untuk
mempelajari perkembangan studi Islam di dunia barat perlu diketahui terlebih
dahulu sejarah kontak Islam dengan dunia barat (Eropa). Kontak Islam degan
Barat (Eropa) dapat dikelompokan menjadi dua fase, yaitu :
1.
Di masa kejayaan Islam (abad
ke-8) jika Spanyol adalah abad 13
2.
Sejak masa renaisance,
dimana barat mulai berjaya sampai sekarang.
Fase-fase perkembangan studi Islam di dunia Barat
a.
Fase Kejayaan Muslim
Kontak pertama antara
dunia barat dengan dunia muslim adalah lewat kontak perguruan tinggi. Sejumlah
ilmuwan dan tokoh-tokoh barat datang ke sejumlah perguruan tinggi, laboratori,
observatorium, dan pusat-pusat studi muslim untuk memperdalam ilmu pengetahuan
dan teknologi. Di dunia Islam belahan Timur, Perguruan Tinggi tersebut berkedudukan
di Baghdad (Irak) dan di Kairo (Mesir), sementara di belahan Barat ada Cordova.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia Barat
pada fase pertama adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin
sejak abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan (Renaissance) di Eropa
pada abad ke-14. Kegiatan ini bermula atas restu King Frederick H dari
Sicilly(1198-1212), yang belakangan menjabat Kaisar Holly Roman
Empire(1215-1250).
Sekalipun beroleh
tantangan dari Paus Vatikan, namun kegiatan it tetap berlangsung sehingga
terbangun perguruan-perguruan tinggi di Semenanjung Italia, Padua, Florence,
Milano, Venezia, di susul oleh Oxford dan Chambridge di Inggris, Sorbonne di
Perancis, dan Tubingen di Jerman. Manuskrip-manuskrip karya para Ilmuan Muslim
dari berbagai cabang ilmu itu disalin ke dalam bahasa latin.
b.
Fase Runtuhnya Muslim
Selama abad Renaisanse
Eropa menguasai dunia untuk mencari mata dagangan, komersial, dan penyebaran
agama. Dalam abad ke-16 hampir seluruh dunia telah mereka kuasai. Ekspedisi
bangsa-bangsa Eropa, terutama Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda, Perancis,
dan Italia, yang awalnya hanya berlomba menguasai dan mengamankan sumber
komoditis dan monopoly lama-kelamaan menjadi kolonialisasi melalui rekayasa
kekuasaan. Ada kalanya terjadi perebutan diantara mereka sendiri. Ahirnya nasib
belahan bumi ditentukan oleh penjajah.
Kedatangan Muslim Fase
kedua ke dunia barat, khususnya Eropa Barat khususnya Eropa Barat
dilatarbelakangi oleh dua alasan pokok, yakni : alasan politik dan alasan
ekonomi. Adapun kategori muslim yang ada di Eropa Barat ada 2, yang pertama
pendatang(migrant) dan yang kedua penduduk asli. Kategori lebih jauh dari
penduduk asli dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1.
Orang asli yang masuk
islam
2.
Keturunan dari muslim asli
yang sudah lama
3.
Muslim yang kembali
menemukan agama aslinya
Muslim yang tinggal di Eropa Barat dapat dikelompokan
menjadi 4 kelompok :
a.
Konfessionals
b.
Believers
c.
Liberals
d.
Agnosticist
Sedangkan kondisi muslim di Belanda dapat disimpulkan
bahwa muslim yang ada di belanda adalah imigrant.
Kontak awal Belanda dengan
Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika utusan kesultanan Aceh
datang ke Belanda pada tahun 1602 yang dipimpin oleh Abdu Zamad yang terdiri
dari 4 orang, mereka ini disebut oleh orang Belanda dengan modern berkulit kuning.
Tidak dapat dipastikan apakah dengan kedatangan utusan dari kesultanan Aceh
atau ada sebelumnya. Yang pasti kedatangan mereka di Belanda ini tidak
dimasukan sebagai awal dakwah Islam di Belanda. Harus diingat sebelum Belanda
datang ke Indonesia, 1 abad sebelumnya portugis sudah ada dan bermitra dengan
kesultanan Aceh untuk mendapatkan bahan dagangan dan komoditas lainnya. Dapat
disimpulkan bahwa hubungan Portugis dan Kesultanan Aceh, adalah hubungan
Bilateral yang sederajat. Demikian juga dengan hubungan Indonesia dan Belanda
adalah juga hubungan dagang.
Pembahasan tentang
bagaimana studi Islam di negara-negara non-muslim dapat dikelompokan menjadi 3,
yaitu :
1.
Berdasarkan dosen yang
mengajarkan studi Islam
2.
Berdasarkan Perguruan
Tinggi
3.
Berdasarkan pusat Studi
Secara khusus, pasang surut studi Islam Indonesia di
Belanda, juga bagian dari Eropa, ditulis Niko Kapten. Bahwa studi Islam
Indonesia secara umum dapat dikelompokan dua periode yaitu Masa Penjajahan dan
Masa Penjajahan.
C. Perkembangan Studi Islam
di Indonesia
Indonesia adalah sebuah
negeri agraris sekaligus maritim yang memiliki berbagai bentuk masyarakat,
kebuadayaan, watak, dan kehidupan sosial yang berbeda-beda. Agama Islam sebagai
agama yang memiliki rahmat bagi seluruh alam memiliki otoritas dalam upaya
menyatukan cara berfikir yang kemudian berimplikasi pada perbuatan yang nyata,
khususnya pada masyarakat Indonesia itu sendiri.
Dalam upayanya, Islam
yang dibawa oleh saudagar-saudagar dari Timur Tengah (Arab, India, Gujarat
dll.) pada awalnya masih memiliki keterbatasan pada sistem dan kurikulimnya.
Namun, ada hal yang menarik dalam memahami dinamika-dinamika perkembangan Studi
Islam di Indonesia.
Perkembangan
studi Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga/ sistem
pendidikan Islam di Indonesia memiliki tahapan-tahapan seperti: a. Sistem langgar
b. Sistem pesantren c. Sistem kelas d. Perguruan Tinggi
a. Sistem
langgar
Yang
dimaksud pendidikan dengan sistem langgar adalah pendidikan yang dijalankan di
langgar, surau, masjid, atau di rumah guru. Kurikulumnyapun bersifat elementer,
yakni mempelajari abjad huruf arab. Dengan sistem ini dikelola oleh ‘alim,
mudin, lebai. Mereka ini umumnya berfungsi sebagai guru agama atau sekaligus
menjadi tukang baca do’a.[4][8]
di masjid atau dilanggar mereka; guru dan murid-murid duduk bersila atau tanpa
bangku.
b. Sistem
Pesantren
Umumnya
kurikulum sistem pesantren adalah pada tingkat awal hanya untuk mengenal huruf
abjad Arab. Kemudian pada tingkat selanjutnya diajarakan lagu-lagu qasidah;
berzanji, tajuwid, mengaji kitab Farukunan.
Pengajaran
dengan sistem Pesantren ini dilakukan dengan dua cara:.
Dengan cara sorogan, yakni seorang
murid berhadapan secara langsung dengan guru,dan bersifat perorangan.
2. Dengan cara halaqah, yakni guru
dikelilingi oleh murid-murid
Adapun system pendidikan dengan pesantren atau dapat diidentikan dengan huttab, dimana seorang kiyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran/pendidikan, dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri.
Adapun system pendidikan dengan pesantren atau dapat diidentikan dengan huttab, dimana seorang kiyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran/pendidikan, dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri.
Hanya
saja sorogan di pesantren biasanya dengan cara si santri yang membaca kitab,
sementara kiyai mendengar, sekaligus mengoreksi kalau ada kesalahan.
c. Sistem
kelas.
Setelah
sistem kerajaan kemudian mulai akhir abad ke 19, perkembangan pendidikan Islam
di Indonesia, mulai lahir sekolah model Belanda; sekolah Eropa, sekolah
Vernahuler. Sekolah Eropa khusus bagi ningrat Belanda. Di samping itu ada
sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan sekolah-sekolah Belanda
tersebut, seperti sekolah taman siswa(adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3
Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid).Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah
Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman
Siswa", yang merupakan realisasi gagasan beliau bersama-sama dengan teman
di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang
berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman
Siswa, Yogyakarta, dan
mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia
Kemudian
dasawarsa kedua abad ke 20 muncul madrsah dan sekolah-sekolah model Belanda
oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Jama’at al-Khair,
dan lain-lain.
Kemudian
pada tahun 1916, Nahdatul Ulama membuka madrasah salafiyah di Tebuireng, yang dalam
kurikulumnya memasukkan pelajaran baca tulis huruf latin. Pada tahun 1923 ada
empat sekolah Muhammadiyah didirikan di
Yogyakarta, dan di Jakarta berdiri sekolah HIS (Hollands Inlands School).
d. Perguruan tinggi
Kemudian pada level perguruan tinggi dapat
digambarkan, bahwa berdirinya perguruan tinggi Islam tidak dapat dilepaskan
dari adanya keinginan umat Islam Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan
tinggi Islam sejak colonial. Untuk
mewujudkan keinginan tersebut, pada bulan April 1945 ulama cendekianwan. Dalam
pertemuan itu dibentuklah panitia Perencana Sekolah Tinggi Islam yang diketauai
oleh Drs. Moh. Hatta dengan anggota-anggota antara lain: K.H. Mas Mansur,
K.H.A. Muzakkir, K.H R.F Kafrawi dan lain-lain. Setelah persiapan cukup, pada
tanggal 8 Juli 1945 atau tanggal 27 Rajab 1364 H, bertepatan dengan hari Isra’
dan Mi’raj diadakan upacara pembukaan resmi Sekolah Tinggi Islam (STI) di
Jakarta.
Setelah
proklamasi dan ibu kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, STI juga
hijrah ke kota tersebut dan berubah namanya menjadi Universitas Islam Indonesia
(UII) dengan empat fakultas, yaitu: Agama, Hukum, Ekonomi, dan Pendidikan.
Fakultas Agama UII ini kemudian dinegerikan dan menjelma menjadi Perguruan
Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang diatur dengan Peraturan Pemerintah No.
34 Tahun 1950 dan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Bersama Mentri Agama
dan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No. K/I/14641 Tahun 1951
(Agama) dan No. 28665/Kab. Tahun 1951 (Pendidikan) tanggal 1-9-1951.
PTAIN
membuka tiga jurusan, yaitu Jurusan Qadla, Tarbiyah dan Dakwah. Setelah PTAIN
berjalan kira-kira sembilan tahun-waktu itu Ketua Fakultasnya adalah Prof.
Muhtar Yahya dirasakan tidak mungkin mempertahankan hanya satu fakultas. Dengan
alasan, karena demikian luasnya ilmu pengetahuan keagamaan Islam,. Maka pada
tahun 1960 PTAIN dilebur dan digabungkan dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADAI)
milik Departemen Agama yang didirikan di Jakarta dengan Penetapan Menteri Agama
No. 1 Tahun 1957. Pengabungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan Peraturan
Presiden RI Nomor 11 tahun 1960 dan Penetapan Menteri Agama No. 43 tahun 1960
tetang peyelengaraan IAIN. Maka IAIN al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah
diresmikan berdirinya oleh Menteri Agama RI pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal 1380 H
bertepatan dengan tanggal 28 Agustus 1960 berdasarkan PP. No. 11 tahun 1960
tanggal 9 Mei 1960. IAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta.
Melihat
perkembangan IAIN yang pesat yang ditandainya dengan banyaknya berdiri
fakultas-fakultas cabang di daerah-daerah menunjukkan minat masuk IAIN. Kondisi
ini melatarbelakangi lahirnya PP No. 27 Tahun 1963, yang memungkinkan
didirikanya IAIN yang terpisah dari pusat. Dari sisi waktu berdirinya IAIN
dapat digambarkan berikut:
1. IAIN Ar-Raniry Banda Aceh tanggal 5
Oktober 1963.
2. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
tanggal 5 Desember 1963.
3. IAIN Raden Fatah Palembang tanggal 22
Oktober 1964.
4. IAIN Antasari Kalimantan Selatan
tanggal 22 Nopember 1964.
5. IAIN Sunan Ampel Surabaya tanggal 6
Juli 1965.
6. IAIN Alauddin Ujung Pandang tanggal
28 Oktober 1965.
7. IAIN Imam Bonjol Padang tanggal 21
Nopember 1966.
8. IAIN Sultasn Taha Saefuddin Jambi
tahun 1967.
Dengan adanya perguruan
tinggi tersebut itu membuktikan bahwa studi islam di indonesia cukup baik dalam
mengawal zaman yang semakin modern. Kesimpulannya baik dari segi ulama,
pemerintah dan masyarakat yang ada di indonesia sebenarnya saling mendukung
sehingga terciptalah studi studi islam yang dapat memfasilitasi umat islam
dalam bersaing di dunia pengetahuan dengan umat umat yang lain.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Di dunia timur studi islam sudah
sangat baik, hal ini dapat di buktikan
Adanya beberapa kota yang menjadi pusat kajian islam di zamannya, yaitu
Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi
tertua di dunia muslim, yaitu (1) Nizhamiyah di Baghdad (2) Al-Azhar di Kairo
Mesir (3) Cordova (bagian barat) dan (4) Kairwan Amir Nizam Al-Muluk di Maroko.
Selanjutnya dalam dunia
barat dapat kita lihat banyaknya bermunculan para pemikir pemikir tentang studi
baik itu masalah agama maupun ilmu umum. Hal inilah yang menjadikan studi islam
lebih berkembang pesat di barat. Salah satu contoh yang kami ambil adalah
pemikiran Ibnu Rusyd yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan
berfikir.
Indonesia adalah negara
yang terbanyak umat islam juga tidak kalah dalam dunia studi islam hal ini
dapat kita ketahui dari perkembangan pola pembelajaran dari awal islam masukdi
ndonesia hingga saat ini. Perkembangan studi
Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga/ sistem pendidikan
Islam di Indonesia memiliki tahapan-tahapan seperti: Sistem langgar,
Sistem pesantren, Sistem kelas, Perguruan
Tinggi.
B. PENUTUP
Alkhamdulillah, makalah Metodologi Studi Islam telah kami
selesaikan. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh sebab
kami mohon kritikan dan saran dari teman-teman, khususnya kepada Bapak Hendri Purbowaseso, M.Pd. demi
kelengkapan makalah ini. Semoga makalah yang berjudul Makalah Perkembangan Studi Islam di Timur, Barat, dan Indonesia memberikan manfaat bagi
kita semua khususnya dalam ilmu Metodologi Studi Islam. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan , Andi dkk.
2005. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta:
Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Hasbullah. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,
Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan.Jakarta : PT RajaGrafindo
Persada.
Joesoef sou’yb. 1985. Orientalisme dan Islam .Jakarta : bulan bintang.
Murodi. 2003.Sejarah
Kebudayaan Islam; Madrasah Aliyah Kelas Tiga.Jakarta: Karya Toha Putra.
Nanji,Azim. 2003. Peta
Studi Islam; Orientalisme dan Arah Baru Kajian Islam di Barat. Yogyakarta:
Fajar Pustaka Baru
Nasution Khoiruddin, 2010. Pengantar Studi Islam, Yogyakarta : ACAdeMIA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar