FIQIH ZAKAT
Makalah ini disusun guna
memenuhi tugas individu mata kuliah Fiqih
Dosen pengampu: Moh
Faesholi, M.Pd.I.
Disusun oleh:
Winarti (2015010180)
PAI 3C
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS
AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena nikmat dan ridhoNya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat
serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu saya menyusun
makalah ini, baik teman-teman maupun dosen.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat
mengetahui mengenai Fiqih Zakat. Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi pembaca, meskipun masih banyak kekurangan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.
Terima kasih.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................
A. Latar
Belakang Masalah............................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah ........................................................................................................ 1
C. Tujuan........................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................
A. Pengertian Zakat........................................................................................................... 2
B. Hukum Zakat................................................................................................................ 3
C. Syarat Zakat................................................................................................................. 4
D. Macam-macam Zakat................................................................................................... 4
E. Orang yang berhak menerima Zakat............................................................................. 11
F. Orang yang tidak berhak menerima Zakat................................................................... 11
G. Hikah Zakat.................................................................................................................. 12
BAB III PENUTUP ...................................................................................................
KESIMPULAN........................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang ketiga, Zakat merupakan suatu
ibadah yang paling penting dan sering
disebut dalam Al-Qur’an,Allah menerangkan zakat
beriringan dengan menerangkan sembahyang.
Selain itu, Zakat merupakan suatu kewajiban bagi
umat Islam yang digunakan untuk membantu masyarakat lain, menstabilkan ekonomi
masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sehingga dengan adanya
zakat umat Islam tidak ada yang tertindas karena zakat dapat menghilangkan
jarak antara si kaya dan si miskin, sebagai ucapan syukur kita kepada Allah
atas rezeki yang diberikan kepada kita.
Oleh karena itu, kita sebagai umat islam berhak
untuk mengeluarkan zakat. Dan pada makalah ini akan dipaparkan materi tentang
Zakat semoga bermanfaat.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa Pengertian Zakat ?
2. Apa Hukum Zakat ?
3. Apa saja Syarat Zakat ?
4. Apa saja Macam-macam Zakat ?
5. Siapa saja yang berhak menerima
Zakat ?
6. Siapa saja yang tidak berhak
menerima Zakat ?
7. Apa manfaat Zakat ?
C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Zakat
2. Mengetahui Hukum Zakat
3. Mengetahui Syarat Zakat
4. Mengetahui Macam-macam Zakat
5. Mengetahui orang yang berhak
menerima Zakat
6. Mengetahui orang yang tidak
berhak menerima Zakat
7. Mengetahui manfaat Zakat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Zakat
Zakat
menurut bahasa artinya bersih, bertambah (ziyadah), dan terpuji. Jika di
ucapkan, zaka al-zar, artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah.
Jika diucapkan zakat al-nafaqah, artinya nafkah, tumbuh dan bertambah
jika diberkati. Kata ini juga sering dikemukakan untuk makna thaharah
(suci).[1]Allah SWT
berfirman
“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (QS Asy-Syams 9)
Kata zakat merupakan nama dari sesuatu hak Allah yang
dikeluarkan seseorang kepada orang yang berhak menerimanya. Dinamakan zakat
dikarenakan mengandung harapan untuk mendapatkan berkah, membersihkan dan
memupuk jiwa dengan berbagai kebaikan.[2]
Kata-kata zakat itu, arti aslinya ialah
tumbuh, suci, dan berkah. Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 103.
“Ambillah
zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah
untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi
mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS At-Taubah 103)
Zakat
menurut istilah agama islam artinya sejumlah / kadar harta tertentu yang
diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan beberapa syarat. Hukumnya
zakat adalah salah satu rukun Islam yang lima, yaitu fardhu ‘ain atas tiap-tiap
orang yang cukup syarat-syaratnya. Zakat mulai diwajibkan pada tahun kedua
hijriyah.
Firmannya pula :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal
shaleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di
sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.” (QS. Al Baqarah:277).
Sabda Rasulullah SAW :“Islam itu ditegakkan di atas 5
dasar :
1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali
Allah, dan bahwasanya Nabi Muhammad itu
utusan Allah
2. Mendirikan shalat lima waktu
3. Berpuasa dalam bulan Ramadhan
4. Membayar zakat
5. Mengerjakan Haji ke Baitullah” (sepakat ahli hadits)
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya yang menyimpan hartanya, tidak dikeluarkan zakatnya, akan dibakar
dalam neraka jahanam, baginya dibuatkan strika dari api, kemudian distrikakan
ke lambung dan dahinya..., dan seterusnya,(Hadits ini panjang).” (Riwayat Ahmad
dan Muslim)
Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan ibadah secara syar’i, pembersihan atau
penyucian itu dibagi tiga, yaitu:
1.
Penyucian Rohani;
2.
Penyucian Jasmani; dan
3.
Penyucian Harta
B. Hukum
Zakat
Mengeluarkan zakat itu hukumnya wajib dan merupakan salah
satu rukun Islam. Namun demikian, tidak semua orang yang memiliki harta terkena
kewajiban zakat mal. Orang yang menunaikannya akan mendapatkan pahala,
sedangkan yang tidak menunaikannya akan mendapat siksa. Adapun anjuran
Mengeluarkan Zakat dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, “Allah SWT
berfirman ‘Hai Manusia berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.” Beliau
bersada,” Janji Allah akan terus mengalir (Ibnu Numair berkata=memenuhi)
melimpah ruah sepanjang malam dan siang hari tanpa kekurangan
sedikitpun.”(Muslim 3/77)[3]
Adapun hukum-hukum zakat antara lain :
a.
Zakat
diwajibkan bagi orang-orang Islam yang merdeka
b.
Zakat wajib
atas barang-barang perniagaan sebagaimana wajib pada unta, sapi, kambing dan
tiap-tiap tumbuh-tumbuhan dan zakat ditunaikan setiap satu tahun sekali.
c.
Termasuk
wajib zakat adalah mengeluarkan zakat fitri yang dikenal dengan zakat jiwa
d.
Islam
memperhatikan soal zakat, waktu, kadar, dan nishab, orang yang wajib atasnya
dan orang-orang yang berhak menerimannya, dll
Hukuman Bagi Yang Enggan
Mengeluarkan Zakat
Zakat merupakan salah satu
kewajiban yang telah diakui oleh umat Islam secara Ijma. Zakat juga merupakan
suatu amal ibadah yang sangat populer hingga menjadi suatu keharusan dalam
agama. Jadi, jika seseorang mengingkari kewajibannya, berarti ia keluar dari
Islam. Dan harus dibunuh dalam kedaan kafir.[4]
C.
Syarat Zakat
Syarat Zakat secara Umum,
dibedakan menjadi 2, yaitu :
1.
Syarat
Wajib Zakat
a.
Islam
b.
Baligh
dan Berakal
c.
Merdeka
2.
Syarat
Sah Pelaksanaan Zakat
a.
Niat
b.
Tamlik
(memindahkan kepemilikan harta kepada
menerimanya)
D.
Macam-Macam Zakat
Zakat dibedakan menjadi 2, yaitu
zakat Harta dan zakat Fitrah.
1.
Zakat Harta (Zakat Maal)
Zakat Maal adalah zakat yang
dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh individu atau lembaga dengan
syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara hukum
(syara). Maal berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti harta.
Harta yang dikeluarkan sebagai
Zakat memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Ø Harta yang dikeluarkan adalah harta yang wajib
dizakati
Ø Zakat tidak diwajibkan pada Non Muslim
Ø Harta yang dizakati telah
mencapai nishab
Ø Harta yang dizakati adalah milik penuh.
Ø Kepemilkan harta yang telah
mencapai setahun, menurut hitungan tahun qamariyah. Untuk
Ø Harta tersebut bukan merupakan harta hasil
utang.
Ø Harta yang akan dizakati
melebihi kebutuhan pokok
Harta
Yang Wajib dizakati, antara lain :
1) Hewan
Ternak
Hewan ternak yang wajib dizakati adalah unta,
sapi dan
kambing.
Syarat-syarat ternak agar bisa dizakati
meliputi:
a.
Kepemilikan
penuh (al-milk at-taam), baik milik perorangan maupun milik gabungan (syirkah).
Jika ternaknya milik umum seperti milik umum seperti masjid, madrasah,
organisasi atau milik budak, maka tidak wajib dizakati
b.
Sudah
mencapai satu nishab
c.
Sudah
mencapai satu tahun penuh (haul) berdasarkan kelnder Hijriah
d.
Hewan
ternaknya tidak menjadi sarana kerja seperti disewakan dan sebagainya
e.
Hewan
ternaknya digembala di tempat yang tidak dipungut biaya (termasuk milik
sendiri) dalam waktu
satu tahun, atau kurang dari satu tahun tetapi jika dikalkulasi hewan ternak
tersebut lebih banyak digembala daripada tidak digembala.
Adapun
hewan ternak yang tidak boleh dijadikan sebagai zakat adalah:
a.
Kambing
yang sangat tua, matanya cacat, dan terjangkit penyakit
b.
Hewan
yang masih menyusui anaknya dan hewan yang hampir melahirkan
c.
Hewan
yang terbaik (kecuali apabila disetujui oleh pemiliknya), juga hewan yang
terjelek dan rakus
Adapun
Nishob dan Zakatnya
a) Unta
|
Nishab
|
Zakat
|
|
5-9
|
1 kambing berumur 2 th
|
|
10-14
|
2 kambing
berumur 2 th
|
|
15-19
|
3 kambing berumur 2 th
|
|
20-24
|
4 kambing berumur 2 th
|
|
25-35
|
1 anak unta
betina berumur 1 th (bintu makhaat)
|
|
36-45
|
1 anak unta
betina berumur 2 th (bintu labuun)
|
|
46-60
|
1 anak unta
betina berumur 3 th (hiqqah)
|
|
61-75
|
1 anak unta
betina berumur 4 th (jad'ah)
|
|
76-90
|
2 bintu labuun
|
|
91-120
|
2 hiqqah
|
|
121-129
|
3 bintu labuun
|
b) Sapi
|
Nishab
|
Zakat
|
|
30-39
|
1 tabi' (sapi umur 1 th dan masuk th kedua)
|
|
40-59
|
1 musinnah (sapi umur 2 th dan masuk th ketiga)
|
|
60-69
|
2 tabi'
|
|
70-79
|
1 tabi' dan 1 musinnah
|
|
80-89
|
2 musinnah
|
|
90-99
|
3 tabi'
|
|
100-109
|
1 musinnah dan 2 tabi'
|
|
110-119
|
2 musinnah dan 1 tabi'
|
|
119 lebih
|
30 ekor
sapi, zakatnya 1 tabi’i, dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya 1 musinah
|
c) Kambing
|
Nishab
|
Zakat
|
|
40-120
|
1 kambing
|
|
121-200
|
2 kambing
|
|
201-399
|
3 kambing
|
|
400
|
4 kambing
|
|
400 lebih
|
Setiap 100
ekor, zakatnya 1 kambing
|
2) Emas
dan Perak (Naqd)
Kekayaan emas/perak wajib dizakati apabila
memenuhi syarat-syarat berikut:
a.
Kepemilikan
penuh/sempurna (al-milk at-taam), baik milik satu orang atau lebih
b.
Mencapai
nishab
c.
Sudah mencapai
satu tahun penuh (haul) berdasarkan kalender Hijriyah
d.
Tidak
dipakai untu perhiasan yang mubah. Adapun emas/perak yang yang digunakan
sebagai perhiasan yang diperkenankan syariat, maka tidak wajib dizakati.
Nishab
Emas dan perak
|
Jenis Harta
|
Nishab
|
Berat Timbangan
|
Zakatnya
|
|
Emas
|
20 misqal
|
93,6 gr
|
1/40 (2 ½ %= ½ misqal=2,125 gr
|
|
Perak
|
200 dirham
|
624 gr
|
1/40 (2 ½ %)= 5 dirham = 15,6 gr
|
3) Buah
dan Biji-bijian (Tsimar dan Zuru’)
Syarat-syarat
zakat buah dan biji-bijian :
a.
Tidak
tumbuh sendiri
b.
Berupa makanan
pokok dan bisa disimpan, seperti padi, jagung, gandum, dan lainnya.
c.
Pemiliknya
beragama Islam
d.
Pemiliknya
merdeka (bukan budak)
e.
Kepemilikannya
penuh (al-milk at-taam), baik milik satu orang atau lebih
f.
Sudah
mencapai satu nishab
g.
Buahnya
sudah mulai nampak membaik
Nishab biji makanan dan buah-buahan yang menyenangkan
adalah 300sa’
(+ 930 liter) bersih dari kulitnya. Dengan catatan
:
1 wasaq = 60 sa’
5 wasaq = 5 × 60 sa’ = 300 sa’
1 sa’ = 3,1 liter
Jadi, 300 x 3,1 = 930 liter (1 nishab).
Jumlah kadar yang wajib dikeluarkan adalah 10% (untuk
tanaman yang disiram air hujan atau air dari aliran sungai). Dan 5% (untuk
tanaman yang berasal dari air irigasi)
4) Hasil
Perniagaan (Arudh at-Tijaarah)
Harta perniagaan adalah semua yang
diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa
barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan disini
termasuk yang diusahakan secara perorangan maupun kelompok/korporasi. Dengan syarat :
a.
Harta
dagangan harus dimiliki dengan cara tukar menukar, seperti dengan cara jual
beli
b.
Harta
itu memang dimaksudkan untuk digunakan berdagang pada saat memilikinya
c.
Barang
yang dibeli tidak dimaksudkan untuk disimpan.
Jumlah yang dikeluarkan adalah (1/40 %). Cara
mengeluarkannya jika seseorang sudah memiliki selama 1 tahun dan sudah mencapai
satu nishab ( sesuai dengan modal yang digunakan. Jika emas maka ukuran nishab
emas) dengan mengeluarkan sebanyak 2,5%
5) Hasil
Tambang (Ma’dan)
Zakat Ma’din adalah zakat yang dibayarkan dari
barang tambang apabila seorang muslim mengeluarkannya dari tanah yang tak
bertuan, atau dari tempat yang memang miliknya. Dasar hukumnya berasal dari
Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 35.
Syarat
Zakat
Syarat
zakat ma’din adalah barang tambang yang dikeluarkan dari bumi itu berupa emas
dan perak, bukan selain keduanya. Dengan demikian besi, timah, permata,
kristal, marjan, zamrud, minyak dan lainnya tidak diwajibkan zakat. Hal ini
menurut pendapat yang kuat yang telah dinashkan oleh Imam Syafi’i. Selain itu
syarat zakat ma’din adalah keberadaan barang telah ditemukan dan telah
dikeluarkan. Menurut pendapat yang paling kuat diantara madzhab Syafi’i, tidak
disyaratkan haul pada barang tambang tersebut. Dan persyaratan ini hanya
dikhususkan untuk barang tambang / ma’din saja. Adapun emas dan perak yang
merupakan harta tunai dan telah dicetak itu berbeda dan disyaratkan sempurna
satu haul untuk zakatnya.
Nisab
Zakat
Adapun
nisab zakat ma’din / harta temuan adalah 20 dinar emas (85 gram) atau 200
dirham perak. Hasil tambang apabila sampai satu nisab (sesuai dengan nisabnya
emas atau perak), wajib dikeluarkan zakatnya pada waktu itu juga sebesar 2,5%.
Waktu diwajibkannya menunaikan zakat adalah sejak barang tambang itu
dikeluarkan dan dilakukan pembersihan dan penyaringan dari tanah dan kotoran
lainnya. Sehingga berat / kadarnya dapat diukur dengan sempurna tanpa tercampur
oleh benda lain.
Apabila
ma’din merupakan milik dua orang dan mencapai satu nisab, maka mereka wajib
menunaikan zakatnya. Yang menyebabkan seseorang tidak berkewajiban menunaikan
zakat harta ini adalah apabila harta tersebut hilang maupun dicuri ataupun
apabila penemu barang tambang tersebut memiliki hutang.
6) Barang
Temuan (Rikaz)
Rikaz diambil dari kata rakaza, yarkazu, yang artinya
tersembunyi atau samar, seperti tertera dalam firman Allah yang artinya : “...
adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang
samar-samar ?” (Maryam [19[:98)
Yang dimaksud dengan rikaz di sini ialah sesuatu yang
ditimbun orang-orang jahiliyah. Atau sekarang lebih banyak dikenal dengan
barang temuan(harta karun)
Syarat
Zakat
1)
Penemu adalah orang yang diwajibkan berzakat. Yaitu orang muslim,
2)
Tempat ditemukannya rikaz. Tidak diwajibkan zakat pada rikaz melainkan apabila
penemu itu mendapatkannya di lahan yang tidak didiami oleh orang. Demikian juga
apabila rikaz ditemukan di lahan yang memang miliknya atau di daerah yang
ditetapkan untuknya. Maka hal itu memungkingkan rikaz tersebut menjadi miliknya
melalui ketetapan tersebut.
3)
Mencukupi nisab. Nisabnya yaitu 20 dinar emas (85 gram) atau 200 dirham perak.
4)
Tidak disyaratkan haul.
Kewajiban
untuk menunaikan zakat barang temuan adalah setiap kali orang menemukan barang
tersebut. Kita wajib mengeluarkan zakat sebesar 20% dari rikas yang kita temukan,
pada saat kita menemukannya. Ketentuan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW
“Zakat
rikaz (harta
terpendam) adalah sebanyak seperlima.”(HR Bukhari dan Muslim)
2.
Zakat Fitrah (Zakat Jiwa)
Zakat Fitrah adalah zakat yang berfungsi mengembalikan
manusia muslim kedalam fitrahnya, dengan
menyucikan jiwa mereka dari kotoran-kotoran (dosa-dosa) yang disebabkan oleh
pengaruh pergaulan dan sebagainya. Zakat fitrah adalah sejumlah harta yang
wajib ditunaikan oleh setiap mukallaf dan setiap orang yang nafkahnya
ditanggung olehnya dengan syarat-syarat tertentu. Kadar zakat fitrah sebanyak
2,5 kg atau 3,1 liter beras atau makanan pokok suatu daerah.
Syarat Wajib Zakat Fitrah
Ø
Islam. Orang yang bukan
islam tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah.
Ø
Orang tersebut meninggal
setelah terbenamnya matahari akhir bulan ramadhan (orang tersebut pernah
mengalami kehidupan di bulan ramadhan)
Ø
Dia memiliki kelebihan
harta dari keperluan makanan pokok untuk dirinya sendiri dan yang wajib
dinafkahinya, dan yang tidak memiliki kelebihan harta tidak wajib berzakat pada
malam 1 syawal sebelum shalat idul fitri
Waktu-waktu Zakat
Waktu wajib membayar zakat fitrah adalah ketika
terbenamnya matahari pada malam idul fitri. Dari abdullah bin Umar RA,
“Rasulullah SAW memerintahkan pembayaran zakat fitrah sebelum orang-orang
keluar dan melaksanakan shalat hari raya.” (Muslim 3/70)[5]
Adapun beberapa waktu dan hukum membayar zakat fitrah,
yaitu :
a.
Mubah (waktu yang
diperbolehkan), yaitu dari awal bulan Ramadhan sampai hari penghabisan
Ramadhaan.
b.
Wajib, yaitu mulai
terbenam matahari penghabisan Ramadhan
c.
Sunnah (waktu yang lebih
baik), yaitu dibayar setelah shalat subuh sebelum pergi shalat hari raya
d.
Makhruh, yaitu membayar
fitrah setelah shalat hari raya, tetapi sebelum terbenam matahari pada hari
raya
e.
Haram, yaitu dibayar
sesudah terbenam matahari pada hari raya
E. Mustahiq
(Orang yang Berhak Menerima Zakat)
Zakat
fitrah dan zakat maal wajib diserahkan kepada delapan golongan. Mereka adalah
orang-orang yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an.
”Sesungguhnya
zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang berjuang
untuk Allah dan untuk mereka yang sedang
dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah 60)
a.
Fakir,
adalah Orang yang tidak mempunyai mata pencaharian
tetap dan tidak ada yang menanggung kebutuhan hidup sehari-harinya.
b.
Miskin,
adalah Orang yang mempunyai mata pencaharian tetapi
penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
c.
Amil,
adalah Orang yang mengurusi zakat, mulai dari
pengumpulan sampai dengan pembagian kepada yang berhak.
d.
Mualaff,
adalah orang yang baru masuk Islam dan belum kuat
imannya dan jiwanya perlu dibina agar bertambah kuat imannya supaya dapat
meneruskan imannya
e.
Riqab/Hamba
Saahaya adalah Orang yang menjadi budak dan dapat
diperjualbelikan
f.
Gharim,
yaitu orangyang berhutang untuksesuatu kepentingan
yanng bukan maksiat dan ia tidak sanggup untuk melunasinya
g.
Ibnu
Sabil/Musafir, yaitu Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan
maksiat
h.
Fii
Sabilillah, adalah orang yang berjuang dengan suka rela untuk
menegakkan agama Allah
F.
Orang yang Tidak Berhak Menerima
Zakat
1.
Orang
kaya. Rasulullah bersabda, "Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi
orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga." (HR Bukhari).
2.
Hamba
sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
3.
Keturunan
Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidak halal bagi kami
(ahlul bait) mengambil sedekah (zakat)." (HR Muslim).
4.
Orang
yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
5.
Orang
kafir.
G.
Hikmah (Manfaat) Zakat
1.
Menolong
orang yang lemah dan menderita, agar dapat menunaikan kewajibannya terhadap
Allah dan terhadap makhluk-Nya
2.
Membersihkan
diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela serta mendidik diri agar memiliki
sifat mulia dan pemurah
3.
Ucapan
rasa syukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan kepada kita
4.
Menjaga
kejahatan-kjahatan yang dimungkinkan timbul dari si miskin
5.
Mendekatkan
hubungan kasih sayang dan saling mencintai antara si kaya dan si miskin
6.
Menggapai
berkah, tambah, dan ganti dari Allah SWT.[6]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Zakat menurut bahasa artinya
bersih, bertambah (ziyadah), dan terpuji. Jika di ucapkan, zaka al-zar,
artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan zakat
al-nafaqah, artinya nafkah, tumbuh dan bertambah jika diberkati. Zakat
dibagi menjadi 2, yaitu yakat Maal dan Zakat Fitrah. Zakat Maal adalah zakat
harta yang dimiliki seseorang karena sudah mencapai nishab, sedangkan Zakat
Fitrah adalah zakat yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan untuk membersihkan
jiwa. Hukum mengeluarkan zakat wajib untuk orang Islam. Terdapat 2 syarat yaitu
syarat wajib dan syarat sah.
Ada 8 golongan yang berhak
mnerima zakat, yaitu fakir, niskin, Amil, Mualaff, Hamba Saahaya, Gharim, Ibnu
Sabil, dan Fii Sabilillah. Sedangkan golongan yang tidak berhak menerima zakat
yaitu Orang kaya, Hamba sahaya yang masih mendapat nafkah tuannya, Keturunan
Rasulullah, Orang yang dalam tanggungan berzakar, dan Orang kafir. Selain itu
ada manfaat zakat juga antara lain sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah,
menggapai keberkahan, menolong orang kurang mampu, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Rasjid,Sulaiman.1994,Fiqih
Islam,Bandung:Sinar Baru.
Al-Albani,Algensindo
Muhammad Nashiruddin.2006,Ringkasan Shahih Muslim,Jakarta:Pustaka Azzam
al-Banna,Imam
Hasan.2006,Fiqih Sunnah,Jakarta:Pena Pundi Aksara
El%20Syadii_%20Makalah%20Zakat%20_%20Pengertian,%20Hukum%20dan%20Macam%20Zakat.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar