Jumat, 16 Juni 2017

FIQIH ZAKAT
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas individu mata kuliah Fiqih
Dosen pengampu: Moh Faesholi, M.Pd.I.




Disusun oleh:
Winarti (2015010180)
PAI 3C

FAKULTAS ILMU TARBIYAH  DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016
 
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena nikmat dan ridhoNya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya menyusun makalah ini, baik teman-teman maupun dosen.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui mengenai Fiqih Zakat. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi pembaca, meskipun masih banyak kekurangan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih.


Wonosobo,   November 2016







DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................................       i
KATA PENGANTAR.......................................................................................................      ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................     iii
              BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................     
A.    Latar Belakang Masalah...............................................................................................      1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................................................      1
C.     Tujuan...........................................................................................................................      1
          BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................
A.    Pengertian Zakat...........................................................................................................      2
B.     Hukum Zakat................................................................................................................      3
C.     Syarat Zakat.................................................................................................................      4
D.    Macam-macam Zakat...................................................................................................      4
E.     Orang yang berhak menerima Zakat.............................................................................    11
F.      Orang yang tidak berhak menerima Zakat...................................................................    11
G.    Hikah Zakat..................................................................................................................    12
               BAB III PENUTUP ...................................................................................................
                  KESIMPULAN...........................................................................................................    13
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................    14
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang ketiga, Zakat merupakan suatu ibadah yang paling penting dan sering disebut dalam Al-Qur’an,Allah menerangkan zakat beriringan dengan menerangkan sembahyang.
Selain itu, Zakat merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam yang digunakan untuk membantu masyarakat lain, menstabilkan ekonomi masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sehingga dengan adanya zakat umat Islam tidak ada yang tertindas karena zakat dapat menghilangkan jarak antara si kaya dan si miskin, sebagai ucapan syukur kita kepada Allah atas rezeki yang diberikan kepada kita.
Oleh karena itu, kita sebagai umat islam berhak untuk mengeluarkan zakat. Dan pada makalah ini akan dipaparkan materi tentang Zakat semoga bermanfaat.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Zakat ?
2.      Apa Hukum Zakat ?
3.      Apa saja Syarat Zakat ?
4.      Apa saja Macam-macam Zakat ?
5.      Siapa saja yang berhak menerima Zakat ?
6.      Siapa saja yang tidak berhak menerima Zakat ?
7.      Apa manfaat Zakat ?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian Zakat
2.      Mengetahui Hukum Zakat
3.      Mengetahui Syarat Zakat
4.      Mengetahui Macam-macam Zakat
5.      Mengetahui orang yang berhak menerima Zakat
6.      Mengetahui orang yang tidak berhak menerima Zakat
7.      Mengetahui manfaat Zakat


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Zakat
Zakat menurut bahasa artinya bersih, bertambah (ziyadah), dan terpuji. Jika di ucapkan, zaka al-zar, artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan zakat al-nafaqah, artinya nafkah, tumbuh dan bertambah jika diberkati. Kata ini juga sering dikemukakan untuk makna thaharah (suci).[1]Allah SWT berfirman
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (QS Asy-Syams 9)
Kata zakat merupakan nama dari sesuatu hak Allah yang dikeluarkan seseorang kepada orang yang berhak menerimanya. Dinamakan zakat dikarenakan mengandung harapan untuk mendapatkan berkah, membersihkan dan memupuk jiwa dengan berbagai kebaikan.[2]
 Kata-kata zakat itu, arti aslinya ialah tumbuh, suci, dan berkah. Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 103.
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS At-Taubah 103)
Zakat menurut istilah agama islam artinya sejumlah / kadar harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan beberapa syarat. Hukumnya zakat adalah salah satu rukun Islam yang lima, yaitu fardhu ‘ain atas tiap-tiap orang yang cukup syarat-syaratnya. Zakat mulai diwajibkan pada tahun kedua hijriyah.
Firmannya pula :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah:277).
Sabda Rasulullah SAW :“Islam itu ditegakkan di atas 5 dasar :
1.    Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali Allah,  dan bahwasanya Nabi Muhammad itu utusan Allah
2.    Mendirikan shalat lima waktu
3.    Berpuasa dalam bulan Ramadhan
4.    Membayar zakat
5.    Mengerjakan Haji ke Baitullah” (sepakat ahli hadits)
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya yang menyimpan hartanya, tidak dikeluarkan zakatnya, akan dibakar dalam neraka jahanam, baginya dibuatkan strika dari api, kemudian distrikakan ke lambung dan dahinya..., dan seterusnya,(Hadits ini panjang).” (Riwayat Ahmad dan Muslim)
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan ibadah secara syar’i, pembersihan atau penyucian itu dibagi tiga, yaitu:
1.      Penyucian Rohani;
2.      Penyucian Jasmani; dan
3.      Penyucian Harta
B.     Hukum Zakat
Mengeluarkan zakat itu hukumnya wajib dan merupakan salah satu rukun Islam. Namun demikian, tidak semua orang yang memiliki harta terkena kewajiban zakat mal. Orang yang menunaikannya akan mendapatkan pahala, sedangkan yang tidak menunaikannya akan mendapat siksa. Adapun anjuran Mengeluarkan Zakat dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, “Allah SWT berfirman ‘Hai Manusia berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.” Beliau bersada,” Janji Allah akan terus mengalir (Ibnu Numair berkata=memenuhi) melimpah ruah sepanjang malam dan siang hari tanpa kekurangan sedikitpun.”(Muslim 3/77)[3]
Adapun hukum-hukum zakat antara lain :
a.       Zakat diwajibkan bagi orang-orang Islam yang merdeka
b.      Zakat wajib atas barang-barang perniagaan sebagaimana wajib pada unta, sapi, kambing dan tiap-tiap tumbuh-tumbuhan dan zakat ditunaikan setiap satu tahun sekali.
c.       Termasuk wajib zakat adalah mengeluarkan zakat fitri yang dikenal dengan zakat jiwa
d.      Islam memperhatikan soal zakat, waktu, kadar, dan nishab, orang yang wajib atasnya dan orang-orang yang berhak menerimannya, dll
Hukuman Bagi Yang Enggan Mengeluarkan Zakat
Zakat merupakan salah satu kewajiban yang telah diakui oleh umat Islam secara Ijma. Zakat juga merupakan suatu amal ibadah yang sangat populer hingga menjadi suatu keharusan dalam agama. Jadi, jika seseorang mengingkari kewajibannya, berarti ia keluar dari Islam. Dan harus dibunuh dalam kedaan kafir.[4]
C.    Syarat Zakat
Syarat Zakat secara Umum, dibedakan menjadi 2, yaitu :
1.      Syarat Wajib Zakat
a.       Islam
b.      Baligh dan Berakal
c.       Merdeka
2.      Syarat Sah Pelaksanaan Zakat
a.       Niat
b.      Tamlik (memindahkan kepemilikan harta kepada menerimanya)
D.    Macam-Macam Zakat
Zakat dibedakan menjadi 2, yaitu zakat Harta dan zakat Fitrah.
1.      Zakat Harta (Zakat Maal)
Zakat Maal adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh individu atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara hukum (syara). Maal berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti harta.
Harta yang dikeluarkan sebagai Zakat memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Ø  Harta yang dikeluarkan adalah harta yang wajib dizakati
Ø  Zakat tidak diwajibkan pada Non Muslim
Ø  Harta yang dizakati telah mencapai nishab
Ø   Harta yang dizakati adalah milik penuh.
Ø  Kepemilkan harta yang telah mencapai setahun, menurut hitungan tahun qamariyah. Untuk
Ø   Harta tersebut bukan merupakan harta hasil utang.
Ø    Harta yang akan dizakati melebihi kebutuhan pokok
Harta Yang Wajib dizakati, antara lain :
1)      Hewan Ternak
Hewan ternak yang wajib dizakati adalah unta, sapi dan kambing.
Syarat-syarat ternak agar bisa dizakati meliputi:
a.       Kepemilikan penuh (al-milk at-taam), baik milik perorangan maupun milik gabungan (syirkah). Jika ternaknya milik umum seperti milik umum seperti masjid, madrasah, organisasi atau milik budak, maka tidak wajib dizakati
b.      Sudah mencapai satu nishab
c.       Sudah mencapai satu tahun penuh (haul) berdasarkan kelnder Hijriah
d.      Hewan ternaknya tidak menjadi sarana kerja seperti disewakan dan sebagainya
e.       Hewan ternaknya digembala di tempat yang tidak dipungut biaya (termasuk milik sendiri) dalam waktu satu tahun, atau kurang dari satu tahun tetapi jika dikalkulasi hewan ternak tersebut lebih banyak digembala daripada tidak digembala.
Adapun hewan ternak yang tidak boleh dijadikan sebagai zakat adalah:
a.       Kambing yang sangat tua, matanya cacat, dan terjangkit penyakit
b.      Hewan yang masih menyusui anaknya dan hewan yang hampir melahirkan
c.       Hewan yang terbaik (kecuali apabila disetujui oleh pemiliknya), juga hewan yang terjelek dan rakus
Adapun Nishob dan Zakatnya
a)      Unta
Nishab
Zakat
5-9
1 kambing berumur 2 th
10-14
2 kambing berumur 2 th
15-19
3 kambing berumur 2 th
20-24
4 kambing berumur 2 th
25-35
1 anak unta betina berumur 1 th (bintu makhaat)
36-45
1 anak unta betina berumur 2 th (bintu labuun)
46-60
1 anak unta betina berumur 3 th (hiqqah)
61-75
1 anak unta betina berumur 4 th (jad'ah)
76-90
2  bintu labuun
91-120
2 hiqqah
121-129
3 bintu labuun





b)      Sapi
Nishab
Zakat
30-39
1 tabi' (sapi umur 1 th dan masuk th kedua)
40-59
1 musinnah (sapi umur 2 th dan masuk th ketiga)
60-69
2 tabi'
70-79
1 tabi' dan 1 musinnah
80-89
2 musinnah
90-99
3 tabi'
100-109
1 musinnah dan 2 tabi'
110-119
2 musinnah dan 1 tabi'
119 lebih
30 ekor sapi, zakatnya 1 tabi’i, dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya 1 musinah












c)      Kambing
Nishab
Zakat
40-120
1 kambing
121-200
2 kambing
201-399
3 kambing
400
4 kambing
400 lebih
Setiap 100 ekor, zakatnya 1 kambing

2)      Emas dan Perak (Naqd)
Kekayaan emas/perak wajib dizakati apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
a.       Kepemilikan penuh/sempurna (al-milk at-taam), baik milik satu orang atau lebih
b.      Mencapai nishab
c.       Sudah mencapai satu tahun penuh (haul) berdasarkan kalender Hijriyah
d.      Tidak dipakai untu perhiasan yang mubah. Adapun emas/perak yang yang digunakan sebagai perhiasan yang diperkenankan syariat, maka tidak wajib dizakati.
Nishab Emas dan perak
Jenis Harta
Nishab
Berat Timbangan
Zakatnya
Emas
20 misqal
93,6 gr
1/40 (2 ½ %= ½ misqal=2,125 gr
Perak
200 dirham
624 gr
1/40 (2 ½ %)= 5 dirham = 15,6 gr

3)      Buah dan Biji-bijian (Tsimar dan Zuru’)
Syarat-syarat zakat buah dan biji-bijian :
a.       Tidak tumbuh sendiri
b.      Berupa makanan pokok dan bisa disimpan, seperti padi, jagung, gandum, dan lainnya.
c.       Pemiliknya beragama Islam
d.      Pemiliknya merdeka (bukan budak)
e.       Kepemilikannya penuh (al-milk at-taam), baik milik satu orang atau lebih
f.       Sudah mencapai satu nishab
g.      Buahnya sudah mulai nampak membaik
Nishab biji makanan dan buah-buahan yang menyenangkan adalah 300sa’
(+ 930 liter) bersih dari kulitnya. Dengan catatan :
1 wasaq = 60 sa’
5 wasaq = 5 × 60 sa’ = 300 sa’
1 sa’ = 3,1 liter
Jadi, 300 x 3,1 = 930 liter (1 nishab).
Jumlah kadar yang wajib dikeluarkan adalah 10% (untuk tanaman yang disiram air hujan atau air dari aliran sungai). Dan 5% (untuk tanaman yang berasal dari air irigasi)
4)      Hasil Perniagaan (Arudh at-Tijaarah)
Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan disini termasuk yang diusahakan secara perorangan maupun kelompok/korporasi. Dengan syarat :
a.       Harta dagangan harus dimiliki dengan cara tukar menukar, seperti dengan cara jual beli
b.      Harta itu memang dimaksudkan untuk digunakan berdagang pada saat memilikinya
c.       Barang yang dibeli tidak dimaksudkan untuk disimpan.
Jumlah yang dikeluarkan adalah (1/40 %). Cara mengeluarkannya jika seseorang sudah memiliki selama 1 tahun dan sudah mencapai satu nishab ( sesuai dengan modal yang digunakan. Jika emas maka ukuran nishab emas) dengan mengeluarkan sebanyak 2,5%
5)      Hasil Tambang (Ma’dan)
Zakat Ma’din adalah zakat yang dibayarkan dari barang tambang apabila seorang muslim mengeluarkannya dari tanah yang tak bertuan, atau dari tempat yang memang miliknya. Dasar hukumnya berasal dari Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 35.
Syarat Zakat
Syarat zakat ma’din adalah barang tambang yang dikeluarkan dari bumi itu berupa emas dan perak, bukan selain keduanya. Dengan demikian besi, timah, permata, kristal, marjan, zamrud, minyak dan lainnya tidak diwajibkan zakat. Hal ini menurut pendapat yang kuat yang telah dinashkan oleh Imam Syafi’i. Selain itu syarat zakat ma’din adalah keberadaan barang telah ditemukan dan telah dikeluarkan. Menurut pendapat yang paling kuat diantara madzhab Syafi’i, tidak disyaratkan haul pada barang tambang tersebut. Dan persyaratan ini hanya dikhususkan untuk barang tambang / ma’din saja. Adapun emas dan perak yang merupakan harta tunai dan telah dicetak itu berbeda dan disyaratkan sempurna satu haul untuk zakatnya.
Nisab Zakat
Adapun nisab zakat ma’din / harta temuan adalah 20 dinar emas (85 gram) atau 200 dirham perak. Hasil tambang apabila sampai satu nisab (sesuai dengan nisabnya emas atau perak), wajib dikeluarkan zakatnya pada waktu itu juga sebesar 2,5%. Waktu diwajibkannya menunaikan zakat adalah sejak barang tambang itu dikeluarkan dan dilakukan pembersihan dan penyaringan dari tanah dan kotoran lainnya. Sehingga berat / kadarnya dapat diukur dengan sempurna tanpa tercampur oleh benda lain.
Apabila ma’din merupakan milik dua orang dan mencapai satu nisab, maka mereka wajib menunaikan zakatnya. Yang menyebabkan seseorang tidak berkewajiban menunaikan zakat harta ini adalah apabila harta tersebut hilang maupun dicuri ataupun apabila penemu barang tambang tersebut memiliki hutang.
6)      Barang Temuan (Rikaz)
Rikaz diambil dari kata rakaza, yarkazu, yang artinya tersembunyi atau samar, seperti tertera dalam firman Allah yang artinya : “... adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar ?” (Maryam [19[:98)
Yang dimaksud dengan rikaz di sini ialah sesuatu yang ditimbun orang-orang jahiliyah. Atau sekarang lebih banyak dikenal dengan barang temuan(harta karun)
Syarat Zakat
1)      Penemu adalah orang yang diwajibkan berzakat. Yaitu orang muslim,
2)      Tempat ditemukannya rikaz. Tidak diwajibkan zakat pada rikaz melainkan apabila penemu itu mendapatkannya di lahan yang tidak didiami oleh orang. Demikian juga apabila rikaz ditemukan di lahan yang memang miliknya atau di daerah yang ditetapkan untuknya. Maka hal itu memungkingkan rikaz tersebut menjadi miliknya melalui ketetapan tersebut.
3)      Mencukupi nisab. Nisabnya yaitu 20 dinar emas (85 gram) atau 200 dirham perak.
4)      Tidak disyaratkan haul.
Kewajiban untuk menunaikan zakat barang temuan adalah setiap kali orang menemukan barang tersebut. Kita wajib mengeluarkan zakat sebesar 20% dari rikas yang kita temukan, pada saat kita menemukannya. Ketentuan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW
“Zakat rikaz (harta terpendam) adalah sebanyak seperlima.”(HR Bukhari dan Muslim)
2.      Zakat Fitrah (Zakat Jiwa)
Zakat Fitrah adalah zakat yang berfungsi mengembalikan manusia muslim kedalam  fitrahnya, dengan menyucikan jiwa mereka dari kotoran-kotoran (dosa-dosa) yang disebabkan oleh pengaruh pergaulan dan sebagainya. Zakat fitrah adalah sejumlah harta yang wajib ditunaikan oleh setiap mukallaf dan setiap orang yang nafkahnya ditanggung olehnya dengan syarat-syarat tertentu. Kadar zakat fitrah sebanyak 2,5 kg atau 3,1 liter beras atau makanan pokok suatu daerah.
Syarat Wajib Zakat Fitrah
Ø  Islam. Orang yang bukan islam tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah.
Ø  Orang tersebut meninggal setelah terbenamnya matahari akhir bulan ramadhan (orang tersebut pernah mengalami kehidupan di bulan ramadhan)
Ø  Dia memiliki kelebihan harta dari keperluan makanan pokok untuk dirinya sendiri dan yang wajib dinafkahinya, dan yang tidak memiliki kelebihan harta tidak wajib berzakat pada malam 1 syawal sebelum shalat idul fitri
Waktu-waktu Zakat
Waktu wajib membayar zakat fitrah adalah ketika terbenamnya matahari pada malam idul fitri. Dari abdullah bin Umar RA, “Rasulullah SAW memerintahkan pembayaran zakat fitrah sebelum orang-orang keluar dan melaksanakan shalat hari raya.” (Muslim 3/70)[5]
Adapun beberapa waktu dan hukum membayar zakat fitrah, yaitu :
a.       Mubah (waktu yang diperbolehkan), yaitu dari awal bulan Ramadhan sampai hari penghabisan Ramadhaan.
b.      Wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan Ramadhan
c.       Sunnah (waktu yang lebih baik), yaitu dibayar setelah shalat subuh sebelum pergi shalat hari raya
d.      Makhruh, yaitu membayar fitrah setelah shalat hari raya, tetapi sebelum terbenam matahari pada hari raya
e.       Haram, yaitu dibayar sesudah terbenam matahari pada hari raya


E.     Mustahiq (Orang yang Berhak Menerima Zakat)
Zakat fitrah dan zakat maal wajib diserahkan kepada delapan golongan. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an.
”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang berjuang untuk Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah 60)
a.       Fakir, adalah Orang yang tidak mempunyai mata pencaharian tetap dan tidak ada yang menanggung kebutuhan hidup sehari-harinya.
b.      Miskin, adalah Orang yang mempunyai mata pencaharian tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
c.       Amil, adalah Orang yang mengurusi zakat, mulai dari pengumpulan sampai dengan pembagian kepada yang berhak.
d.      Mualaff, adalah orang yang baru masuk Islam dan belum kuat imannya dan jiwanya perlu dibina agar bertambah kuat imannya supaya dapat meneruskan imannya
e.       Riqab/Hamba Saahaya adalah Orang yang menjadi budak dan dapat diperjualbelikan
f.       Gharim, yaitu orangyang berhutang untuksesuatu kepentingan yanng bukan maksiat dan ia tidak sanggup untuk melunasinya
g.      Ibnu Sabil/Musafir, yaitu Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat
h.      Fii Sabilillah, adalah orang yang berjuang dengan suka rela untuk menegakkan agama Allah
F.     Orang yang Tidak Berhak Menerima Zakat
1.      Orang kaya. Rasulullah bersabda, "Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga." (HR Bukhari).
2.      Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
3.      Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat)." (HR Muslim).
4.      Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
5.      Orang kafir.
G.    Hikmah (Manfaat) Zakat
1.      Menolong orang yang lemah dan menderita, agar dapat menunaikan kewajibannya terhadap Allah dan terhadap makhluk-Nya
2.      Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela serta mendidik diri agar memiliki sifat mulia dan pemurah
3.      Ucapan rasa syukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan kepada kita
4.      Menjaga kejahatan-kjahatan yang dimungkinkan timbul dari si miskin
5.      Mendekatkan hubungan kasih sayang dan saling mencintai antara si kaya dan si miskin
6.      Menggapai berkah, tambah, dan ganti dari Allah SWT.[6]
















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Zakat menurut bahasa artinya bersih, bertambah (ziyadah), dan terpuji. Jika di ucapkan, zaka al-zar, artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan zakat al-nafaqah, artinya nafkah, tumbuh dan bertambah jika diberkati. Zakat dibagi menjadi 2, yaitu yakat Maal dan Zakat Fitrah. Zakat Maal adalah zakat harta yang dimiliki seseorang karena sudah mencapai nishab, sedangkan Zakat Fitrah adalah zakat yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan untuk membersihkan jiwa. Hukum mengeluarkan zakat wajib untuk orang Islam. Terdapat 2 syarat yaitu syarat wajib dan syarat sah.
Ada 8 golongan yang berhak mnerima zakat, yaitu fakir, niskin, Amil, Mualaff, Hamba Saahaya, Gharim, Ibnu Sabil, dan Fii Sabilillah. Sedangkan golongan yang tidak berhak menerima zakat yaitu Orang kaya, Hamba sahaya yang masih mendapat nafkah tuannya, Keturunan Rasulullah, Orang yang dalam tanggungan berzakar, dan Orang kafir. Selain itu ada manfaat zakat juga antara lain sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah, menggapai keberkahan, menolong orang kurang mampu, dll.










DAFTAR PUSTAKA
Rasjid,Sulaiman.1994,Fiqih Islam,Bandung:Sinar Baru.
Al-Albani,Algensindo Muhammad Nashiruddin.2006,Ringkasan Shahih Muslim,Jakarta:Pustaka Azzam
al-Banna,Imam Hasan.2006,Fiqih Sunnah,Jakarta:Pena Pundi Aksara
El%20Syadii_%20Makalah%20Zakat%20_%20Pengertian,%20Hukum%20dan%20Macam%20Zakat.html



[1]El%20Syadii_%20Makalah%20Zakat%20_%20Pengertian,%20Hukum%20dan%20Macam%20Zakat.html
[2] Imam Hasan al-Banna.Fiqih Sunnah,(Jakarta:Pena Pundi Aksara,2006),hlm.497
[3] Muhammad Nashiruddin Al-Albani.Ringkasan Shahih Muslim,(Jakarta:Pustaka Azzam,2006)hlm.386
[4] Imam Hasan al-Banna.Fiqih Sunnah,(Jakarta:Pena Pundi Aksara,2006),hlm.506
[5] Muhammad Nashiruddin Al-Albani.Ringkasan Shahih Muslim,(Jakarta:Pustaka Azzam,2006)hlm.384
[6] H.Sulaiman Rasjid.Fiqih Islam,(Bandung:Sinar Baru Algensindo,1994)hlm.218

Tidak ada komentar:

Posting Komentar