ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Psikologi Umum dan Sosial Dosen Pengampu Bapak Zaenal Arifin, S.Psi
|
Disusun oleh :
Winarti 2015010180
PAI 1c
|
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis
panjatkan kepada Allah SWT, atas hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum dan
Sosial yang diampu oleh Bapak Zaenal Arifin, S.Psi.
Sholawat serta
salam kami sanjungkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita
dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang.
Makalah yang akan
penulis paparkan kali ini berjudul “Aliran-Aliran Psikologi”, dengan segala
kemampuan dan keterbatasan penulis. Dan alkhamdulillah dapat terselesaikan
meskipun banyak kendala.
Penulis sadar bahwa
makalah ini jauh daripada sempurna, untuk itu penulis membuka kesempatan untuk
dapat memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi teman-teman semua, khususnya demi penambahan ilmu
serta wawasan kita dalam ilmu psikologi. Amin.
|
DAFTAR ISI
Kata Pengantar..............................................
i
Daftar Isi......................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.....................................
1
B. Rumusan Maslah...................................
1
C. Tujuan...................................................
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Aliran Psikologi
Strukturalisme............. 2
B. Aliran Psikologi
Fungsionalisme............ 5
C.
Aliran Psikologi Psikoanalisis................ 6
D.
Aliran Psikologi Behaviorisme............... 8
E.
Aliran Psikologi Humanistik.................. 10
F.
Aliran Psikologi Gestalk........................ 11
G.
Aliran Psikologi Kognitif....................... 12
H. Aliran Psikologi Transpersonal.............
14
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan.............................................
14
Penutup....................................................
15
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Psikologi sebagai ilmu
akan selalu berkembang, seiring berjalannya waktu dan teori-teori baru
bermunculan. Teori-teori yang muncul biasanya merupakan kritik dari teori
sebelumnya. Memang patut diakui bahwa titik pandang(teori) dalam psikologi
tidak ada yang sempurna , sehingga terbuka kesempatan bagi ilmuwan untuk
memberikan kriti serta masukan ataupun penyempurnaan dan teori yang sudah ada,
oleh sebab itu penulis akan memaparkan beberapa aliran-aliran psikologi yang
telah terangkum dalam makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang
sudah dituliskan di atas, penulis dapat memaparkan aliran-aliran psikologi
sebabai berikut:
1. Aliran Psikologi
Strukturalisme
2. Aliran Psikologi
Fungsionalisme
3. Aliran Psikologi Psikoanalisis
4. Aliran Psikologi Behaviorisme
5. Aliran Psikologi Humanistik
6. Aliran Psikologi Gestalt
7. Aliran Psikologi Kognitif
8. Aliran Psikologi
Transpersonal
C.
Tujuan
1. Digunakan untuk memenuhi
tugas Psikologi Umum dan Sosial
2. Untuk membahas tentang
Aliran-aliran Psikologi
D.
Manfaat
Dalam membahas makalah ini
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kita semua dalam memperkaya kajian
ilmu Psikologi mengenai Aliran-aliran Psikologi serta menambah wawasan di dalam
mata kulian Psikologi Umum dan Sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI
Macam-macam aliran psikologi, yaitu :
1. Strukturalisme (Structuralism)
Jean
Piaget berpendapat bahwa, strukturalisme itu sulit dikenali karena mencakup
berbagai bentuk yang beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena
‘stuktur-struktur’ memperoleh arti yang cenderung berbeda (Piaget, 1995:1).
Struktur adalah sistem transformasi yang mengandung
kaidah sebagai sistem (lawan dari sifat unsur-unsur) dan melindungi diri atau
memperkaya diri melalui peran transformasi-transformasinya. Tanpa keluar dari
batasan yang menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Piaget menyebutkan ada 3
sifat yang dicakup dalam sebuah struktur, yakni : totalitas, transformasi, dan otoregulasi.
·
Totalitas
Meskipun terdiri atas
berbagai unsur, struktur unsur-unsur itu berkaitan satu sama lain dalam sebuah
kesatuan. Jika dilihat secara hierarkis, sebuah struktur terdiri atas sejumlah
substruktur yang terikat oleh struktur yang lebih besar. Dengan demikian,
pengertian struktur tidak terbatas pada konsep terstruktur(structure), tetapi sekaligus juga mencakup pengertian proses
menstruktur (stucturant).
·
Transformasi
Pegertian transformasi
pada dasarnya sejalan dengan konsep tata bahasa generatif-transformasional
Chomsky. Sifat yang dinamis ini berkaitan dengan kaidah otoregulasi yang ada
pada sebuah struktur.
·
Otoregulasi
Struktur adalah sebuah
bangunan yang terdiri atas berbagai unsur yang satu sama lain saling berkaitan.
Dengan demikian, setiap perubahan yang terdiri pada sebuah unsur struktur akan
mengakibatkan perubahan hubungan antarunsur tersebut. Jadi hubungan antarunsur
akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang. Itulah yang
demaksud dengan otoregulasi atau pengaturan diri (Hoed, dalam Piaget, 1995:ix).
Psikologi muncul dan berkembang mulai tahun 1879 dan pada
pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu
disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha
mempelajari eemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal,
melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode introspeksi. Pada
masa itu juga tercatat satu aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi
strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt yang dikenal sebagai bapak pendiri
psikologi.
Seperti tercermin dalam namanya, aliran ini berpendapat
bahwa untuk mempelajari gejala kejiwaan, kita harus mempelajari isi dan
struktur kejiwaan. Kaum strukturalis, yang dipelopori oleh Wundt menggunakan
metode introspeksi atau mawas diri, yaitu orang yang menjalani percobaan
diminta untuk menceritakan kembali pegalamannnya atau perasaannya setelah ia
melakukan eksperimen. Misalnya, kepada orang percobaan ditunjukan sebuah warna
atau bentuk, setelah itu, ia diminta untuk apakah bentuk itu indah atau tidak indah,
menarik atau tidak, dsb. Karena metode instropeksi ini, strukturalisme dapat
juga disebut psikologi instropeksi (introspective psychology).
Ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundtz:
¤
Penekanannya pada analisis atas proses kesadaran yang dipandang terdiri
dari elemen-elemen dasar
¤
Usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antarelemen kesdaran
tersebut. Karena pandangannya yang elementaristik ini, psikologi strukturalisme
disebut juga psikologi elementalisme.
Strukturalisme
merupakan aliran yang pertama dalam psikologi, karena pertama kali dikemukakan
oleh Wundt setelah ia melakukan eksperimen-eksperimennya di laboratoriumnya di
Leipzig.
Psikologi
memulai ketika fisiologi berhenti, demikian kata Ash-Shadr (1993:262). Ia
membahas kehidupan mental dan proses-proses kejiwaannya.
Dalam
studi praktisnya, psikologi memakaii 2 prosedur pokok, yaitu :
ü Introspeksi
Merupakan
tanda pembeda antara aliran introspeksionisme psikologis yang mengambil
pengalaman subjektif sebagai sarana bagi penelitian ilmiahnya, dan merupakan
perasaan sebagai subjek psikolog yang dipakai banyak psikolog.
ü Pengalaman Objektif
Prosedur
ini pada akhirnya menduduki posisi terpenting dalam psikologi eksperimen.
Tokoh
strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titchener (1867-1927). Titchener
merupakan orang Inggris yang pertama yang mewakili pandangan Psikologi
Jerman(Wundt) sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa jenis buku Wundt
dalam bahasa Inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke
Oxford, namun ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan Wundt.
Oleh karena itu, ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai
guru besar, ia mengembangkan Strukturalisme
di Amerika Serikat dari Universitas tersebut.
2. Psikologi Fungsionalisme (Functional
Psychology)
Aliran psikologi
ini merupakan reaksi terhadap strukturalismen tentang keadaan-keadaan mental.
Jika para strukturalis bertanya “apa kesadaran itu?” maka fungsionalis bertanya
“untuk apa kesadaran itu?”.
Fungsionalisme
adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses
mental, persepsi indrawi , dan emosi adalah adaptasi organisme biologis
(Ash-Shadr, 1993:259-260). Drever (1998) menyebut fungsionalisme sebagai suatu
jenis psikologi yang menggaris bawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta
dari fenomena mental atau berusaha
menafsirkan fenomena mental dalam kaitannya dengan peranan yang dimainkannya
dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta
pengalaman atau kelakuan.
Pada intinya
aliran psikologi ini merupakan doktrin bahwa proses atau keadaan dasar seperti
kehendak bebas, berpikir, beremosi, memersepsi, dan mengindrai adalah
aktivitas-aktivitas atau operasi-operasi dari sebuah organisme dalam kesaling
hubungan fisik dengan sebuah lingkungan fisik dan tidak dapat diberi eksistensi
yang penting.
Fungsionalisme
merupakan paham yang tumbuh di Amerika Serikat dengan sifat-sifat bangsa
Amerika yang serba praktis dan pragmatis. Sedangkan Strukturalisme tumbuh di
Jerman, di tenganh-tengah bangsa yang terkenal dalam keahliannya berfilsafat
dan berteori. Tokoh aliran ini adalah William James, James R. Angell, dan John
Dewey.
3. Psikologi Psikoanalisis
Berdirinya
aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering
dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural science:dicaci, ditolak, tap pada akhirnya diagungkan.
Kritik
Sigmund Freud (1856-1940) lebih didasarkan pada metodenya yang dianggap tidak
baku, sebjektif, dan jumlah klien sedikit serta semuanya pasien
kliniks(penderita gangguan jiwa). Para penentang Freud tidak bisa menerima
bahwa analisis dari pasien sakit jiwa dapat digeneralisasikan pada populasi
umum.
Aliran
psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud secara tegas memperlihatkan
struktur jiwa manusia. Fokus aliran ini adalah totalitas kepribadian manusia
bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah. Menurut aliran ini, perilaku manusia
dianggap sebagai hasil interaksi subsistem
dalam kepribadian manusia yaitu sebagai berikut :
a. Id, yaitu bagian kepribadian
yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia, merupakan pusat insting yang
bergerak berdasarkan prinsip kesenangan dan cenderung memenuhi kebutuhannya.
Bersifat egoistik, tidak bermoral, dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Ada dua
jenis insting atau naluri, yaitu :
·
Eros (naluri kehidupan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan individe
atau spesies
·
Tantos (naluri kematian, dorongan untuk menghancurkan yang ada pada setiap
manusia dan dinyatakan dalam perkelahian, pembunuhan, perang, dll)
b. Ego, berfungsi utuk
menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator
antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan yang rasional dan realistis. Egolah
yang menyebabkan manusia mampu mendudukan hasrat hewaninya dan hidup sebagai
wujud rasional. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas.
c. Super-ego, yaitu unsur yang
menjadi polisi kepribadian, mewakili sesuatu yang normatif atau ideal super-ego
disebut juga sebagai hati nurani, merupakan internalisasi dari norma-norma
sosial dan kultur masyarakat. Super-ego memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat
yang tidak berlainan di bawah alam sadar. Sehingga merupakan kontrol atau
sensor terhadap dorogan-dorongan yang datang dari Id. Super-ego menghendaki
agar dorongan-dorongan tertentu saja dari Id yang direalisasikan, sedangkan
dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, tetap tidak
dipenuhi. Karena itu, ada semacam kontradiksi antara Id dan Super-ego yang
harus dapat memenuhi tuntunan kedua sistem kepribadian. Jika Ego gagal menjaga
keseimbangan antara dorongan dari Id dan larangan-larangan sari Suer-ego,
individu yang bersangkutan akan menderita konflik batin yang terus menerus, dan
konflik ini akan menjadi dasar neurose.
Selain Sigmund
Freud, Aliran Psikologi Psikoanalisis juga dikemukakan oleh Carl Gustav Yung
dan Alfred Adler, yaitu gejala kejiwaan adanya konflik kejiwaan yang terletak
di dalam alam tak sadar.
4. Psikologi Behaviorisme
a. Ciri-ciri utama aliran Behaviorisme
¤
Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan
hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan.
Pengalaman batin dikesampingkan dan hanya perubahan serta gerak-gerik pada
badan sajalah yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa Behaviorisme merupakan
ilmu jiwa tanpa jiwa.
¤
Semua macam perbuatan dikembalikan pada refleks. Dan mencari unsur-unsur
yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran, yang dinamakan
refleks. Reflek adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu perangsang.
¤
Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semuo orang sama.
Menurut Behaviorisme pendidikan adalah mahakuasa. Manusia hanya makhluk yang
berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi
refleks sekehendak hatinya.
b. Pendapat-pendapat para
pengikut Behaviorisme
a) James
James adalah perintis
jalan filsafat pragmatisme. Pendapatnya tentang filsafat dan psikologi ditulis
dalam bukunya Principles of Psychology.
b) Mac Dougall
Sebagai ahli jiwa, Mac
Dougall mempelajari masalah insting sedalam-dalamnya. Insting dipandang sebagai
pendorong penting dalam segala kegiatan. Ia memandang ilmu jiwa sebagai ilmu
yang mempelajari gerak perbuatan dan tingkah laku hewan dan manusia.
c) Thorndike
Dia adalah pengikut Behaviorisme
yang tidak radikal. Pendapat-pendapatnya ditulis dalam Animal Intellegence dan Educational
Psychology.
d) Waston
Dia adalah pengikut aliran
Behaviorisme yang radikal. Sejak tahun 1912 Waston ingin meninggalkan ilmu jiwa
empiris dan hendak membentuk ilmu jiwa baru, yaitu ilmu jiwa yang berdasarkan
pada ilmu pengetahuan alam dengan bukti-bukti yang nyata.
Pandangannya tentang psikologi adalah perbuatan dipandang
sebagai suatu reaksi organisme hidup yakni reaksi terhadap perangsang dari
luar. Reaksi-reaksi itu terdiri atas gerakan-gerakan yang tertentu dan
perubahan-perubahan dalam tubuh. Kesemuanya itu dapat dinyatakan secara
objektif.
5. Psikologi Humanistik
Abraham Maslow(1908-1970)
dapat disebut sebagai bapak psikologi Humanistik. Menurutnya, manusia adalah
makhluk yang kreatif, yang dikendalikan bukan oleh kekuatan-kekuatan
ketidaksadaran, melainkan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihan nya sendiri.
Pada tahun 1985, dia menamakan psikologi humanistik sebagai kekuatan yang ketiga, di samping aliran Behaviorisme
dan Psikoanalisis sebagai kekuatan yang pertama dan kekuatan yang kedua.
Psikologi Humanistik melengkapi aspek-aspek dasar dari aliran psikoanalisis dan
Behaviorisme dengan memasukan aspek
positive yang menentukan cinta, kreativitas, nilai atau makna, dan pertumbuhan
pribadi. Psikologi humanistik banyak mengambil penganut Psikoanalisis
Neofreudian. Asumsi dasar dari aliran ini yang membedakan dengan aliran lain
adalah perhatian pada makna kehidupan, bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon
tetapi pencari makna kehidupan.
Maslow
menjadi terkenal karena teori motivasinya, yang tercermin dalam bukunya Motivation and Personality. Ia
mengajukan teori tentang kebutuhan (hierarchy
of needs). Kebutuhan ini adalah innate,
yaitu:
·
Kebutuhan fisiologis dasar
·
Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
·
Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
·
Kebutuhan untuk dihargai
·
Kebutuhan untuk aktualisasi diri
6. Psikologi Gestalt
Istilah
Gestalt berasal dari bahasa Jerman, yang dalam bahasa Inggris berarti form,
shape, configuration,whole(Fauzi, 1997:26), dalam bahasa Indonesia berarti bentuk
atau konfigurasi, hal, peristiwa, pola, totalitas, atau bentuk
keseluruhan(Dargagunasa, 1996:26, Sarwono,1997:82).
Aliran
yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian dikembangkan
oleh Kurt Koffa dan Wolfgang Kohler ini mengkritik teori-teori yang ada di
Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari Wilhelm Wundt. Teori
Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu
elemenistik (terlalu detail). Padahal, persepsi manusia terjadi secara
menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara persial atau
sepotong-sepotong. Karena itulah, kata Wertheimer, setelah melodi terdengar,
sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi.
Eksperimen
Gestalt pertama, menurut Atkinson dan kawan-kawan, adalah mempelajari gerakan,
terutama fenomena phi. Jika dua
cahaya dinyalakan secara berurutan (asalkan waktu dan spasinya tepat), subjek
melihat cahaya tunggal brgerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua.
Fenomena kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt
menangkap kepentingan teoritis pada stimulasi menghasilan efek. Pengalaman kita
bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimulasi dan pada organisasi
pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar
belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan
penjumlahan bagian-bagiannya, keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu
hubungan.
Dengan
kata lain metode kerjanya menganalisis unsur-unsur kejiwaan. Menurut aliran ini
yang utama bukanlah elemen, tetapi keseluruhan kesadaran dan jiwa manusia tidak
mungkin dianalisis kedalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipeajari
sebagai suatu keseluruhan atau totalitas keseluruhan adalah lebih dari sekedar
penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih ditanggapi dari bagian-bagiannya,
dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan, artinya makna Gestalt
bergantung pada unsur-unsurnya dan sebaliknya arti unsur-unsur itu bergantung
pada Gestalt
Tokoh-tokoh
aliran Gestalt diantaranya : M. Wertheimer, K. Kaffka, W. Kohler, dan H.
Volkelt serta Claparede dan Declory dengan konsepnya mengenai skematisasi,
globalisasi dan sinkretisme.
7. Psikologi Kognitif
Psikologi
Kognitif adalah psikologi belajar yang merupakan bagian dari psikologi
pendidikan, hanya saja dalam psikologi kognitif tujuan utamanya yang diarahkan
adalah pada tingkah laku anak didik pada formal atau informal. Psikologi
kognitif memiliki tempat tersendiri dalam beberapa mazhab psikologi yang sampai
hari ini terus mengalami perkembangan pesat.
Beberapa
aliran yang terkait pada psikologi kognitif menurut Zuhairini, yaitu :
a. Aliran Progresivisme
Aliran ini mengakui dan
berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita kehidupan agar
manusia bisa bertahan dalam menghadapi semua tantangan hidup. Pandangan
filosofinya berakal dari pragmatisme William James dan John Dewey.
b. Aliran Esensialisme
Aliran ini lebih fleksibel
dan terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada ketertarikan dengan doktrin
tertentu, aliran memandang bahwa “pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai
yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kstabilan dan nilai
terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Bebrapa tokoh aliran ini
adalah: De Iderius Erasmus, Jokana Amos Comenius, John Locke, Johann Henrich
Pestalozzi, Johane Friederich Frobel, Johann Friederich Herert dan William T.
Harris.
c. Aliran Perennialisme
Aliran ini berpendapat
bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang lebih jelas merupakan tugas yang
utama dari kehidupan. Pengaruh tokoh aliran ini adalah Plato dan Thomas
Aquinus.
d. Aliran Rekonstruksionisme
Aliran ini tidak jauh
berbeda dengan aliran Perennialisme
e. Aliran Eksisttensialisme
Tokoh aliran ini adalah
Martin Heidegger, J.P. Sarte dan Gabriel Marcel. Eksisttensialisme adalah suatu
penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak dan tidak logis. Dengan demikian,
aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman dan situasi
sejarah yang ia alami dan tidak mau terikat dengan hal-hal yang abstrak.
Baginya segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh
dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan
hidupnya.
8. Psikologi Transpersonal
Aliran ini dikembangkan
oleh tokoh psikologi humanistis: Abraham Maslow, Sutich dan Carles Tart. Dan
aliran ini memiliki beberapa pandangan sebagai berikut :
1. Manusia memiliki dimensi
kesadaran fisikal dan metafisikal yang komplek.
2. Setiap jiwa manusia mempunyai
pengalama realistis dan mistik yang merupakan energi kebangkitan
kemanusiaannya.
3. Kesadaran manusia sangat kuat
berhubungan dengan potensi rohaninya.
4. Orientasi manusia sangat kuat
dalam mengubah kehidupannya sendiri.
5. Manusia merupakan perwujudan
kemandirian dan kesadaran tunggal dari dua kekuatan, yaitu : kekuatan jasmani
dan kekuatan rohani.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan-pembahasan
di atas dapat disimpulkan bahwa
aliran-aliran psikologi adalah sebagai berikut :
1. Aliran Psikologi
Strukturalisme
Mempelajari gejala-gejala
kejiwaan harus mempelajari isi atau struktur jiwa seseorang. Objeknya adalah
kesadaran.
2. Aliran Psikologi
Fungsionalisme
Menurut James dan Dewey
tidak ada sesuatu yang tetap, oleh karena itu berfikir sebagai alat untuk
bertindak.
3. Aliran Psikologi
Psikoanalisis
Beranggapan bahwa manusia
adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens).
4. Aliran Psikologi Behaviorisme
Menganggap manusia sebagai
mesin atau robot. Objeknya adalah perilaku yang fenomenologis.
5. Aliran Psikologi Humanistik
Beranggapan bahwa manusia
adalah makhluk yang mulia.
6. Aliran Psikologi Gestalt
Konsepnya mengenai
skematisasi, globalisasi dan sinkretisme.
7. Aliran Psikologi Kognitif
a. Bagian dari psikologi
pendidikan. Terdapat beberapa airan yang mempunyai keterkaitan dengan aliran
ini, yakni aliran Progresivisme, Aliran Esensialisme, Aliran Perennialisme,
Aliran Rekonstruksionisme, dan Aliran Eksisttensialisme
8. Aliran Psikologi
Transpersonal
Mengkaji tetang potensi
tertinggi yang dimiliki mausia, dan melakukan panggilan, pemahaman, perwujudan
dari kesatuan, spiritualisme, serta kesadaran transendensi
B.
Penutup
Alkhamdulillah, makalah
Psikolog telah penulis selesaikan. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh
dari sempurna, oleh sebab penulis mohon kritikan dan saran dari teman-teman
semua, khususnya kepada Bapak Zaenal Arifin, S.Psi. demi kelengkapan makalah
ini. Semoga makalah yang berjudul Aliran-Aliran Psikologi ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua khususnya dalam ilmu Psikologi Umum dan Sosial. Amin.
DFTAR PUSTAKA
1. Sobur Alex, 2003, Psikologi
Umum, Bandung: CV Pustaka Setia
2. Ahmadi Abu, 2009, Psikologi
Umum, Jakarta: Rineka Cipta
3. Mansur Herawati, 2009,
Psikologi Ibu dan Anak Untuk Kebidanan, Jakarta Selatan: Salemba Medika
4. Malik Imam, 2011, Psikologi
Umum, Yogyakarta: TERAS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar