Jumat, 16 Juni 2017




ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI
Disusun Guna Memenuhi Tugas Psikologi Umum dan Sosial Dosen Pengampu Bapak Zaenal Arifin, S.Psi












Disusun oleh :
Winarti  2015010180
PAI 1c

 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2015/2016


KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum dan Sosial yang diampu oleh Bapak Zaenal Arifin, S.Psi.
Sholawat serta salam kami sanjungkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang.
Makalah yang akan penulis paparkan kali ini berjudul “Aliran-Aliran Psikologi”, dengan segala kemampuan dan keterbatasan penulis. Dan alkhamdulillah dapat terselesaikan meskipun banyak kendala.
Penulis sadar bahwa makalah ini jauh daripada sempurna, untuk itu penulis membuka kesempatan untuk dapat memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi teman-teman semua, khususnya demi penambahan ilmu serta wawasan kita dalam ilmu psikologi. Amin.


Wonosobo,   Oktober 2015





Penyusun
 
 











DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................. i
Daftar Isi...................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang..................................... 1
B.     Rumusan Maslah................................... 1
C.     Tujuan................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Aliran Psikologi Strukturalisme............. 2
B.     Aliran Psikologi Fungsionalisme............ 5
C.     Aliran Psikologi Psikoanalisis................ 6
D.    Aliran Psikologi Behaviorisme............... 8
E.     Aliran Psikologi Humanistik.................. 10
F.      Aliran Psikologi Gestalk........................ 11
G.    Aliran Psikologi Kognitif....................... 12
H.    Aliran Psikologi Transpersonal............. 14
BAB III PENUTUP
        Kesimpulan............................................. 14
        Penutup.................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Psikologi sebagai ilmu akan selalu berkembang, seiring berjalannya waktu dan teori-teori baru bermunculan. Teori-teori yang muncul biasanya merupakan kritik dari teori sebelumnya. Memang patut diakui bahwa titik pandang(teori) dalam psikologi tidak ada yang sempurna , sehingga terbuka kesempatan bagi ilmuwan untuk memberikan kriti serta masukan ataupun penyempurnaan dan teori yang sudah ada, oleh sebab itu penulis akan memaparkan beberapa aliran-aliran psikologi yang telah terangkum dalam makalah ini.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang sudah dituliskan di atas, penulis dapat memaparkan aliran-aliran psikologi sebabai berikut:
1.      Aliran Psikologi Strukturalisme
2.      Aliran Psikologi Fungsionalisme
3.      Aliran Psikologi Psikoanalisis
4.      Aliran Psikologi Behaviorisme
5.      Aliran Psikologi Humanistik
6.      Aliran Psikologi Gestalt
7.      Aliran Psikologi Kognitif
8.      Aliran Psikologi Transpersonal
C.    Tujuan
1.      Digunakan untuk memenuhi tugas Psikologi Umum dan Sosial
2.      Untuk membahas tentang Aliran-aliran Psikologi


D.    Manfaat
Dalam membahas makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kita semua dalam memperkaya kajian ilmu Psikologi mengenai Aliran-aliran Psikologi serta menambah wawasan di dalam mata kulian Psikologi Umum dan Sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI
Macam-macam aliran psikologi, yaitu :
1.      Strukturalisme (Structuralism)
Jean Piaget berpendapat bahwa, strukturalisme itu sulit dikenali karena mencakup berbagai bentuk yang beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena ‘stuktur-struktur’ memperoleh arti yang cenderung berbeda (Piaget, 1995:1).
            Struktur adalah sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem (lawan dari sifat unsur-unsur) dan melindungi diri atau memperkaya diri melalui peran transformasi-transformasinya. Tanpa keluar dari batasan yang menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Piaget menyebutkan ada 3 sifat yang dicakup dalam sebuah struktur, yakni : totalitas, transformasi, dan otoregulasi.
·         Totalitas
Meskipun terdiri atas berbagai unsur, struktur unsur-unsur itu berkaitan satu sama lain dalam sebuah kesatuan. Jika dilihat secara hierarkis, sebuah struktur terdiri atas sejumlah substruktur yang terikat oleh struktur yang lebih besar. Dengan demikian, pengertian struktur tidak terbatas pada konsep terstruktur(structure), tetapi sekaligus juga mencakup pengertian proses menstruktur (stucturant).
·         Transformasi
Pegertian transformasi pada dasarnya sejalan dengan konsep tata bahasa generatif-transformasional Chomsky. Sifat yang dinamis ini berkaitan dengan kaidah otoregulasi yang ada pada sebuah struktur.
·         Otoregulasi
Struktur adalah sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur yang satu sama lain saling berkaitan. Dengan demikian, setiap perubahan yang terdiri pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan perubahan hubungan antarunsur tersebut. Jadi hubungan antarunsur akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang. Itulah yang demaksud dengan otoregulasi atau pengaturan diri (Hoed, dalam Piaget, 1995:ix).
            Psikologi muncul dan berkembang mulai tahun 1879 dan pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari eemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode introspeksi. Pada masa itu juga tercatat satu aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt yang dikenal sebagai bapak pendiri psikologi.
            Seperti tercermin dalam namanya, aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari gejala kejiwaan, kita harus mempelajari isi dan struktur kejiwaan. Kaum strukturalis, yang dipelopori oleh Wundt menggunakan metode introspeksi atau mawas diri, yaitu orang yang menjalani percobaan diminta untuk menceritakan kembali pegalamannnya atau perasaannya setelah ia melakukan eksperimen. Misalnya, kepada orang percobaan ditunjukan sebuah warna atau bentuk, setelah itu, ia diminta untuk apakah bentuk itu indah atau tidak indah, menarik atau tidak, dsb. Karena metode instropeksi ini, strukturalisme dapat juga disebut psikologi instropeksi (introspective psychology).
            Ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundtz:
¤   Penekanannya pada analisis atas proses kesadaran yang dipandang terdiri dari elemen-elemen dasar
¤   Usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antarelemen kesdaran tersebut. Karena pandangannya yang elementaristik ini, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme.
Strukturalisme merupakan aliran yang pertama dalam psikologi, karena pertama kali dikemukakan oleh Wundt setelah ia melakukan eksperimen-eksperimennya di laboratoriumnya di Leipzig.
Psikologi memulai ketika fisiologi berhenti, demikian kata Ash-Shadr (1993:262). Ia membahas kehidupan mental dan proses-proses kejiwaannya.
Dalam studi praktisnya, psikologi memakaii 2 prosedur pokok, yaitu :
ü  Introspeksi
Merupakan tanda pembeda antara aliran introspeksionisme psikologis yang mengambil pengalaman subjektif sebagai sarana bagi penelitian ilmiahnya, dan merupakan perasaan sebagai subjek psikolog yang dipakai banyak psikolog.
ü  Pengalaman Objektif
Prosedur ini pada akhirnya menduduki posisi terpenting dalam psikologi eksperimen.
                                    Tokoh strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titchener (1867-1927). Titchener merupakan orang Inggris yang pertama yang mewakili pandangan Psikologi Jerman(Wundt) sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa jenis buku Wundt dalam bahasa Inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke Oxford, namun ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan Wundt. Oleh karena itu, ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai guru besar, ia mengembangkan Strukturalisme  di Amerika Serikat dari Universitas tersebut.
2.      Psikologi Fungsionalisme (Functional Psychology)
                                    Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap strukturalismen tentang keadaan-keadaan mental. Jika para strukturalis bertanya “apa kesadaran itu?” maka fungsionalis bertanya “untuk apa kesadaran itu?”.
                                    Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi , dan emosi adalah adaptasi organisme biologis (Ash-Shadr, 1993:259-260). Drever (1998) menyebut fungsionalisme sebagai suatu jenis psikologi yang menggaris bawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental atau   berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitannya dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan.
                                    Pada intinya aliran psikologi ini merupakan doktrin bahwa proses atau keadaan dasar seperti kehendak bebas, berpikir, beremosi, memersepsi, dan mengindrai adalah aktivitas-aktivitas atau operasi-operasi dari sebuah organisme dalam kesaling hubungan fisik dengan sebuah lingkungan fisik dan tidak dapat diberi eksistensi yang penting.
                                    Fungsionalisme merupakan paham yang tumbuh di Amerika Serikat dengan sifat-sifat bangsa Amerika yang serba praktis dan pragmatis. Sedangkan Strukturalisme tumbuh di Jerman, di tenganh-tengah bangsa yang terkenal dalam keahliannya berfilsafat dan berteori. Tokoh aliran ini adalah William James, James R. Angell, dan John Dewey.
3.      Psikologi Psikoanalisis
Berdirinya aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural science:dicaci, ditolak, tap pada akhirnya diagungkan.
                                    Kritik Sigmund Freud (1856-1940) lebih didasarkan pada metodenya yang dianggap tidak baku, sebjektif, dan jumlah klien sedikit serta semuanya pasien kliniks(penderita gangguan jiwa). Para penentang Freud tidak bisa menerima bahwa analisis dari pasien sakit jiwa dapat digeneralisasikan pada populasi umum.
                                    Aliran psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud secara tegas memperlihatkan struktur jiwa manusia. Fokus aliran ini adalah totalitas kepribadian manusia bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah. Menurut aliran ini, perilaku manusia dianggap sebagai hasil interaksi subsistem  dalam kepribadian manusia yaitu sebagai berikut :
a.       Id, yaitu bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia, merupakan pusat insting yang bergerak berdasarkan prinsip kesenangan dan cenderung memenuhi kebutuhannya. Bersifat egoistik, tidak bermoral, dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Ada dua jenis insting atau naluri, yaitu :
·         Eros (naluri kehidupan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan individe atau spesies
·         Tantos (naluri kematian, dorongan untuk menghancurkan yang ada pada setiap manusia dan dinyatakan dalam perkelahian, pembunuhan, perang, dll)
b.      Ego, berfungsi utuk menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan yang rasional dan realistis. Egolah yang menyebabkan manusia mampu mendudukan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud rasional. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas.
c.       Super-ego, yaitu unsur yang menjadi polisi kepribadian, mewakili sesuatu yang normatif atau ideal super-ego disebut juga sebagai hati nurani, merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultur masyarakat. Super-ego memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tidak berlainan di bawah alam sadar. Sehingga merupakan kontrol atau sensor terhadap dorogan-dorongan yang datang dari Id. Super-ego menghendaki agar dorongan-dorongan tertentu saja dari Id yang direalisasikan, sedangkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, tetap tidak dipenuhi. Karena itu, ada semacam kontradiksi antara Id dan Super-ego yang harus dapat memenuhi tuntunan kedua sistem kepribadian. Jika Ego gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari Id dan larangan-larangan sari Suer-ego, individu yang bersangkutan akan menderita konflik batin yang terus menerus, dan konflik ini akan menjadi  dasar neurose.
                                    Selain Sigmund Freud, Aliran Psikologi Psikoanalisis juga dikemukakan oleh Carl Gustav Yung dan Alfred Adler, yaitu gejala kejiwaan adanya konflik kejiwaan yang terletak di dalam alam tak sadar.
4.      Psikologi Behaviorisme
a.       Ciri-ciri utama aliran Behaviorisme
¤   Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman batin dikesampingkan dan hanya perubahan serta gerak-gerik pada badan sajalah yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa Behaviorisme merupakan ilmu jiwa tanpa jiwa.
¤   Semua macam perbuatan dikembalikan pada refleks. Dan mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran, yang dinamakan refleks. Reflek adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu perangsang.
¤   Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semuo orang sama. Menurut Behaviorisme pendidikan adalah mahakuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak hatinya.
b.      Pendapat-pendapat para pengikut Behaviorisme
a)      James
James adalah perintis jalan filsafat pragmatisme. Pendapatnya tentang filsafat dan psikologi ditulis dalam bukunya Principles of Psychology.
b)      Mac Dougall
Sebagai ahli jiwa, Mac Dougall mempelajari masalah insting sedalam-dalamnya. Insting dipandang sebagai pendorong penting dalam segala kegiatan. Ia memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gerak perbuatan dan tingkah laku hewan dan manusia.
c)      Thorndike
Dia adalah pengikut Behaviorisme yang tidak radikal. Pendapat-pendapatnya ditulis dalam Animal Intellegence dan Educational Psychology.
d)     Waston
Dia adalah pengikut aliran Behaviorisme yang radikal. Sejak tahun 1912 Waston ingin meninggalkan ilmu jiwa empiris dan hendak membentuk ilmu jiwa baru, yaitu ilmu jiwa yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan alam dengan bukti-bukti yang nyata.
            Pandangannya tentang psikologi adalah perbuatan dipandang sebagai suatu reaksi organisme hidup yakni reaksi terhadap perangsang dari luar. Reaksi-reaksi itu terdiri atas gerakan-gerakan yang tertentu dan perubahan-perubahan dalam tubuh. Kesemuanya itu dapat dinyatakan secara objektif.
5.      Psikologi Humanistik
Abraham Maslow(1908-1970) dapat disebut sebagai bapak psikologi Humanistik. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang kreatif, yang dikendalikan bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran, melainkan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihan nya sendiri. Pada tahun 1985, dia menamakan psikologi humanistik sebagai kekuatan yang ketiga, di samping aliran Behaviorisme dan Psikoanalisis sebagai kekuatan yang pertama dan kekuatan yang kedua. Psikologi Humanistik melengkapi aspek-aspek dasar dari aliran psikoanalisis dan Behaviorisme dengan  memasukan aspek positive yang menentukan cinta, kreativitas, nilai atau makna, dan pertumbuhan pribadi. Psikologi humanistik banyak mengambil penganut Psikoanalisis Neofreudian. Asumsi dasar dari aliran ini yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan, bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan.
Maslow menjadi terkenal karena teori motivasinya, yang tercermin dalam bukunya Motivation and Personality. Ia mengajukan teori tentang kebutuhan (hierarchy of needs). Kebutuhan ini adalah innate, yaitu:
·         Kebutuhan fisiologis dasar
·         Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
·         Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
·         Kebutuhan untuk dihargai
·         Kebutuhan untuk aktualisasi diri
6.      Psikologi Gestalt
Istilah Gestalt berasal dari bahasa Jerman, yang dalam bahasa Inggris berarti form, shape, configuration,whole(Fauzi, 1997:26), dalam bahasa Indonesia berarti bentuk atau konfigurasi, hal, peristiwa, pola, totalitas, atau bentuk keseluruhan(Dargagunasa, 1996:26, Sarwono,1997:82).
Aliran yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian dikembangkan oleh Kurt Koffa dan Wolfgang Kohler ini mengkritik teori-teori yang ada di Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari Wilhelm Wundt. Teori Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu elemenistik (terlalu detail). Padahal, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara persial atau sepotong-sepotong. Karena itulah, kata Wertheimer, setelah melodi terdengar, sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi.
Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson dan kawan-kawan, adalah mempelajari gerakan, terutama fenomena phi. Jika dua cahaya dinyalakan secara berurutan (asalkan waktu dan spasinya tepat), subjek melihat cahaya tunggal brgerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt menangkap kepentingan teoritis pada stimulasi menghasilan efek. Pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimulasi dan pada organisasi pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya, keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu hubungan.
Dengan kata lain metode kerjanya menganalisis unsur-unsur kejiwaan. Menurut aliran ini yang utama bukanlah elemen, tetapi keseluruhan kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis kedalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipeajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas keseluruhan adalah lebih dari sekedar penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih ditanggapi dari bagian-bagiannya, dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan, artinya makna Gestalt bergantung pada unsur-unsurnya dan sebaliknya arti unsur-unsur itu bergantung pada Gestalt
Tokoh-tokoh aliran Gestalt diantaranya : M. Wertheimer, K. Kaffka, W. Kohler, dan H. Volkelt serta Claparede dan Declory dengan konsepnya mengenai skematisasi, globalisasi dan sinkretisme.
7.      Psikologi Kognitif
Psikologi Kognitif adalah psikologi belajar yang merupakan bagian dari psikologi pendidikan, hanya saja dalam psikologi kognitif tujuan utamanya yang diarahkan adalah pada tingkah laku anak didik pada formal atau informal. Psikologi kognitif memiliki tempat tersendiri dalam beberapa mazhab psikologi yang sampai hari ini terus mengalami perkembangan pesat.
Beberapa aliran yang terkait pada psikologi kognitif menurut Zuhairini, yaitu :
a.       Aliran Progresivisme
Aliran ini mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita kehidupan agar manusia bisa bertahan dalam menghadapi semua tantangan hidup. Pandangan filosofinya berakal dari pragmatisme William James dan John Dewey.
b.      Aliran Esensialisme
Aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada ketertarikan dengan doktrin tertentu, aliran memandang bahwa “pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kstabilan dan nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Bebrapa tokoh aliran ini adalah: De Iderius Erasmus, Jokana Amos Comenius, John Locke, Johann Henrich Pestalozzi, Johane Friederich Frobel, Johann Friederich Herert dan William T. Harris.
c.       Aliran Perennialisme
Aliran ini berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang lebih jelas merupakan tugas yang utama dari kehidupan. Pengaruh tokoh aliran ini adalah Plato dan Thomas Aquinus.
d.      Aliran Rekonstruksionisme
Aliran ini tidak jauh berbeda dengan aliran Perennialisme
e.       Aliran Eksisttensialisme
Tokoh aliran ini adalah Martin Heidegger, J.P. Sarte dan Gabriel Marcel. Eksisttensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak dan tidak logis. Dengan demikian, aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman dan situasi sejarah yang ia alami dan tidak mau terikat dengan hal-hal yang abstrak. Baginya segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.
8.      Psikologi Transpersonal
Aliran ini dikembangkan oleh tokoh psikologi humanistis: Abraham Maslow, Sutich dan Carles Tart. Dan aliran ini memiliki beberapa pandangan sebagai berikut :
1.      Manusia memiliki dimensi kesadaran fisikal dan metafisikal yang komplek.
2.      Setiap jiwa manusia mempunyai pengalama realistis dan mistik yang merupakan energi kebangkitan kemanusiaannya.
3.      Kesadaran manusia sangat kuat berhubungan dengan potensi rohaninya.
4.      Orientasi manusia sangat kuat dalam mengubah kehidupannya sendiri.
5.      Manusia merupakan perwujudan kemandirian dan kesadaran tunggal dari dua kekuatan, yaitu : kekuatan jasmani dan kekuatan rohani.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan-pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa  aliran-aliran psikologi adalah sebagai berikut :
1.      Aliran Psikologi Strukturalisme
Mempelajari gejala-gejala kejiwaan harus mempelajari isi atau struktur jiwa seseorang. Objeknya adalah kesadaran.
2.      Aliran Psikologi Fungsionalisme
Menurut James dan Dewey tidak ada sesuatu yang tetap, oleh karena itu berfikir sebagai alat untuk bertindak.
3.      Aliran Psikologi Psikoanalisis
Beranggapan bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens).
4.       Aliran Psikologi Behaviorisme
Menganggap manusia sebagai mesin atau robot. Objeknya adalah perilaku yang fenomenologis.
5.      Aliran Psikologi Humanistik
Beranggapan bahwa manusia adalah makhluk yang mulia.
6.      Aliran Psikologi Gestalt
Konsepnya mengenai skematisasi, globalisasi dan sinkretisme.
7.      Aliran Psikologi Kognitif
a.       Bagian dari psikologi pendidikan. Terdapat beberapa airan yang mempunyai keterkaitan dengan aliran ini, yakni aliran Progresivisme, Aliran Esensialisme, Aliran Perennialisme, Aliran Rekonstruksionisme, dan Aliran Eksisttensialisme
8.      Aliran Psikologi Transpersonal
Mengkaji tetang potensi tertinggi yang dimiliki mausia, dan melakukan panggilan, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualisme, serta kesadaran transendensi
B.     Penutup
Alkhamdulillah, makalah Psikolog telah penulis selesaikan. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh sebab penulis mohon kritikan dan saran dari teman-teman semua, khususnya kepada Bapak Zaenal Arifin, S.Psi. demi kelengkapan makalah ini. Semoga makalah yang berjudul Aliran-Aliran Psikologi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua khususnya dalam ilmu Psikologi Umum dan Sosial. Amin.

DFTAR PUSTAKA
1.      Sobur Alex, 2003, Psikologi Umum, Bandung: CV Pustaka Setia
2.      Ahmadi Abu, 2009, Psikologi Umum, Jakarta:  Rineka Cipta
3.      Mansur Herawati, 2009, Psikologi Ibu dan Anak Untuk Kebidanan, Jakarta Selatan: Salemba Medika
4.      Malik Imam, 2011, Psikologi Umum, Yogyakarta: TERAS


Tidak ada komentar:

Posting Komentar