TINJAUAN FILOSOFIS
TENTANG PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini disusun guna
memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen pengampu: Ngarifin
Alh.H.Dr.M.Pd.I
Disusun oleh kelompok 2 :
1.
Ahmad Alim
Maulana(09)
2.
Farisi Ardani(10)
3.
Winarti(11)
4.
Ulul Azmi(12)
PAI
3C
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS
AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena nikmat dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat
serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Ucapan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami menyusun makalah ini,
baik teman-teman maupun dosen.
Makalah
ini disusun agar pembaca dapat mengetahui mengenai Tinjauan
Filosofis Tentang Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam matakuliah
Filsafat Pendidikan Islam. Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi pembaca, meskipun masih banyak kekurangan. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih.
Wonosobo,
Oktober 2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................
A. Latar
Belakang Masalah............................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah ........................................................................................................ 1
C. Tujuan........................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................
A. Pengertian Peserta Didik.............................................................................................. 3
B. Kebutuhan Peserta Didik ............................................................................................ 3
C. Dimensi Peserta Didik.................................................................................................. 5
D. Intelegensi Peserta Didik.............................................................................................. 9
E. Etika Peserta Didik....................................................................................................... 10
F. Hakikat Peserta Didik.................................................................................................. 12
BAB III PENUTUP ..................................................................................................
KESIMPULAN........................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya Pedidikan itu penting bagi siapa saja. Berbicara mengenai
pendidikan tentunya tidak luput dari pendidik dan peserta didik. Karena
keduanya merupakan komponen yang penting dan saling
berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang
diinginkan.
Demikian pula
peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek pendidikan, tetapi pada saat-saat
tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa posisi
peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif laksana cangkir kosong yang siap
menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus aktif,
kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan gurunya, sekaligus dalam upaya
pengembangan keilmuannya.
Makalah ini akan menguraikan tinjauan
filosofis tentang peserta didik dalam
perspektif filsafat pendidikan Islam. Diharapkan makalah ini menjadi bahan
diskusi lebih lanjut agar dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang
kedua komponen itu sehingga berguna dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan
yang diinginkan secara efektif dan efisien.
A.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari
Peserta Didik ?
2.
Apa saja kebutuhan Peserta
Didik ?
3.
Apa saja dimensi Peserta
Didik ?
4.
Bagaimana Intelegensi
Peserta Didik ?
5.
Apa saja Etika Peserta
Didik ?
6.
Apa saja Hakikat dari
Peserta Didik ?
B.
Tujuan
1.
Mengetahui pengertian dari
Peserta Didik
2.
Mengetahui kebutuhan
Peserta Didik
3.
Mengetahui dimensi Peserta
Didik
4.
Mengetahui Intelegensi
Peserta Didik
5.
Mengetahui Etika Peserta
Didik
6.
Mengetahui Hakikat dari
Peserta Didik
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Peserta Didik
Peserta didik adalah suatu komponen dalam
sistem pendidikan Islam.[1]
Peserta didik juga diartikan sebagai anggota
masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran
yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (Undang-undang
Sisidiknas, pasal 1 ayat 4).[2]
Peserta didik secara formal adalah orang yang
sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun
psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seseorang peserta
didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.[3]
Di dalam proses pendidikan peserta didik di
samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh karena itu agar seorang
pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia harus memahami peserta didik
dengan segala karaskteristiknya.
Aspek
yang harus dipahami oleh pendidik yaitu:
1.
kebutuhannya,
2.
dimensi-dimensinya,
3.
Intelegensinya
4.
dan
Etikanya.
B.
Kebutuhan
Peserta Didik
Suatu
hal yang juga sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik dalam mengajar,
membimbing, dan melatih muridnya adalah “kebutuhan murid”. Al-Qussy membagi
kebutuhan manusia (peserta didik) dalam dua kebutuhan pokok, yaitu:
1. Kebutuhan primer, yaitu kebutuhan
jasmani seperti makan, minum, seks, dan sebagainya.
2. Kebutuhan skunder, yaitu kebutuhan
ruhaniah.
Banyak
kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik diantaranya:
a. Kebutuhan
Fisik
Fisik
peserta didik mengalami pertumbuhan yang sangat cepat terutama pada masa
pubertas. Kebutuhan biologis, yaitu makan, minum, dan istirahat, dimana hal ini
menuntut peserta didik untuk memenuhinya.
Di
samping pendidik memperhatikan pertumbuhan fisik, pendidik juga harus dapat
memberikan informasi yang memadai tentang pertumbuhan melalui berbagai kegiatan
bimbingan seperti bimbingan pribadi atau dalam bimbingan kelompok.
b.
Kebutuhan Sosial
Kebutuhan
sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta
didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh
teman-temannya secara wajar. Begitu juga supaya dapat diterima oleh orang yang
lebih tinggi dari dirinya seperti orang tua, guru-guru dan
pemimpin-pemimpinnya.
Kebutuhan
ini perlu dipenuhi agar peserta didik dapat memperoleh posisi dan berprestasi
dalam masyarakat.
c.
Kebutuhan untuk mendapatkan status
Peserta
didik terutama usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna
bagi masyarakat.
1. Kebutuhan Mandiri
Peserta
didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang
tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri.
2. Kebutuhan untuk berprestasi
Kebutuhan
untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan mendapat status dan mandiri.
Artinya dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan
dan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk
mengejar prestasi.
3. Kebutuhan ingin disayangi dan
dicintai
Rasa
ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan
terpenuhi kebutuhan ini akan mempengaruhi sifat mental peserta didik.
4. Kebutuhan untuk curhat
Kebutuhan
untuk curhat terutama remaja dimaksudkan suatu kebutuhan untuk dipahami ide-ide
dan permasalahan yang dihadapinya.
5. Kebutuhan untuk memiliki filsafat
hidup (agama)
Peserta
didik pada usia remaja mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan
nilai-nila ideal. Mereka mempunyai keinginan untuk mengenal apa tujuan hidup
dan bagaimana kebahagiaan itu diperoleh. Kebenaran dan nilai-nilai ideal yang
murni hanya ditemukan di dalam Agama. Oleh karena itu peserta didik sangat
membutuhkan agama.
C.
Dimensi-dimensi
Peserta Didik
Manusia merupakan makhluk multidimensional yang
berada dengan makhluk-makhluk lainnya, teori ini dikemukakan oleh Widodo
Supriyono. Secara garis besar ia membagi manusia pada dua dimensi yaitu dimensi
fisik dan rohani.
Zakiah Darajat membagi
manusia kepada tujuh dimensi pokok, Ketujuh dimensi tersebut adalah: dimensi
fisik, akal, agama, akhlak, kejiwaan, rasa keindahan dan sosial kemasyarakatan.
Semua dimensi tersebut harus di tumbuh kembangkan melalui pendidikan Islam,
diantaranya:
1.
Dimensi Fisik (Jasmani)
Fisik atau jasmani terdiri atas
organisme fisik. Pada dimensi ini, proses penciptaan manusia memiliki kesamaan
dengan hewan ataupun tumbuhan, sebab semua termasuk bagian dari alam. Setiap
alam biotik, memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah,
api udara dan air. Namun manusia merupakan makhluk biotik yang unsur-unsur
pembentukan materialnya bersifat profesional antara ke empat unsur tersebut sehingga
manusia disebut makhluk sempurna terbaik penciptaannya. Firman
Allah: Artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya”(QS. al-Tiin: 4).[4]
2. Dimensi Akal
Al-Ishfahami, membagi akal
manusia kepada macam yaitu:
a. Aql
al-Mathhu’,
yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah sebagai fitrah illahi. Akal ini
menduduki posisi yang sangat tinggi, namun demikian, akal ini tidak akan bisa
berkembang dengan baik secara optimal, bila tidak dibarengi dengan kekuatan
akal lainnya, yaitu aql al-masmu’.[5]
b. Aql
al-masmu’, yaitu
akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh manusia.
Akal ini bersifat aktif dan berkembang sebatas kemampuan yang dimilikinya lewat
bantuan proses perinderaan, secara bebas. Untuk mengarahkan agar akal itu tetap
berada dijalan Tuhannya, maka keberadaan aql al-masmu’ tidak dapat
dilepaskan.
Sedangkan fungsi akal manusia
terbagi kepada enam yaitu:
1. Akal adalah penahan nafsu. Dengan
akal manusia dapat mengerti apa yang tidak dikehendaki oleh amanat yang
dibebankan kepadannya sebagai kewajiban.
2. Akal adalah pengertian dan
pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu baik yang tampak jelas
maupun yang tidak jelas.
3. Akal adalah petunjuk yang dapat
membedakan hidayah dan kesesatan.
4. Akal adalah kesadaran batin
dan pengaturan.
5. Akal adalah pandangan batin yang
berdaya tembus melebihi penglihatan mata.
6. Akal adalah daya ingat mengambil
dari yang telah lampau untuk masa yang akan dihadapi. Ia menghimpun semua
pelajaran dari apa yang pernah terjadi untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
3. Dimensi
Keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang
berketuhanan atau di sebut homodivinous atau disebut juga homoreligious.
Berdasarkan hasil riset dan observasi, hampir seluruh ahli ilmu jiwa
berpendapat bahwa pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan
kebutuhan yang bersifat universal.
Dalam pandangan akal, sejak lahir
manusia telah mempunyai jiwa agama, jiwa yang mengakui adanya Zat yang Maha
Pencipta dan Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Dalam konteks Makro, pandangan Islam
terhadap manusia ada tiga implikasi dasar yaitu pertama, implikasi
yang berkaitan dengan pendidikan di masa depan, di mana pendidikan diarahkan
untuk mengembangkan fitrah seoptimal mungkin dengan tidak mendikotomikan
materi. Kedua, tujuan (ultimate goal) pendidikan, yaitu insan
kamil yang akan tercapai bila manusia menjalankan fungsinya sebagai
Abdullah dan khalifah sekaligus. Ketiga, muatan materi dan metodologi
pendidikan, diadakan spesialisasi dengan metode integralistik dan disesuaikan
dengan fitrah manusia.
Berkaitan dengan sifat dasar
inilah pendidikan Islam dirumuskan untuk membentuk insan muttaqin yang
memilliki keseimbangan dalam segala hal berdasarkan iman yang mantap untuk
mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[6]
4. Dimensi Akhlak
Salah satu dimensi manusia yang
sangat diutamakan dalam pendidikan Islam adalah akhlak.
Akhlak menurut pengertian Islam
adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, karena iman dan ibadat manusia
tidak sempurna kecuali kalau dari situ muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak
dalam Islam bersumber pada iman dan takwa dan mempunyai tujuan langsung, yang
dekat yaitu harga diri dan tujuan jauh, yaitu ridha Allah SWT.
Adapun ciri akhlak Islam antara
lain:
1. Bersifat menyeluruh (universal).
2. Menghargai tabiat manusia.
3. Bersifat sederhana.
4. Realistis.
5. Kemudahan.
6. Mengikat kepercayaan dengan amal,
perkataan, perbuatan, teori dan praktek.
7. Tetap dalam dasar-dasar dan prinsip-prinsip
akhlak umum.[7]
5. Dimensi Rohani
(Kejiwaan)
Dimensi kejiwaan merupakan suatu
dimensi yang sangat penting, dan memiliki pengaruh dalam mengendalikan keadaan
manusia agar dapat hidup sehat, tentram, dan bahagia.Penciptaan manusia
mengalami kesempurnaan setelah Allah meniupkan sebagian ruh ciptaan-Nya.[8]
Insan adalah makhluk yang
diciptakan dari tubuh yang dapat dilihat oleh pandangan dan jiwa yang bisa
ditanggapi oleh akal dan bashirah.Tetapi tidak dengan panca
indera.Tubuhnya dikaitkan dengan tanah dan ruhnya pada nafs atau diri/jiwanya.
Allah maksudkan ruh itu ialah apa yang kita ketahui sebagai jiwa atau
an-nafs.
Oleh karena itu maka dalam rangka
terlaksana usaha untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut adalah dengan mendidik
agama.Yang dimaksud dengan pendidikan agama tidak hanya upaya untuk membekali
anak didik dengan pengetahuan agama, tapi sekaligus upaya untuk menanamkan
nilai keagamaan dan membentuk sikap keagamaan sehingga menjadi bagian dari
kepribadian mereka.
6. Dimensi Seni (Keindahan)
Seni adalah ekspresi roh dan daya
manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan, Allah telah menganugrahkan
kepada manusia berbagai potensi rohani dan indrawi (mata, telinga, dan lain
sebagainya).
Sebagai manifestasi dan refleksi
dari kehidupan manusia, maka seni merupakan sarana bagi manusia untuk mencapai
tujuan hidupnya, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan melaksanakan fungsi
kekhalifahannya di atas dunia ini.[9]
Oleh karena itu seorang pendidik
hendaklah mampu mengarahkan anak didiknya untuk dapat mengembangkan dimensi
seni, baik dalam bentuk bimbingan untuk merasakan dan menghayati nilai-nilai
seni yang ada pada alam ciptaan Allah, maupun motivasi mereka agar mampu
mengungkapkan nilai-nilai seni tersebut dengan bakat dan kemampuan mereka
masing-masing.
7. Dimensi
Sosial
Seorang manusia adalah makhluk
individual dan secara bersamaan adalah makhluk sosial.kelompok yang paling
penting dan besar pengaruhnya adalah keluarga, karena perkembangan dimensi
sosial telah dimulai sejak lahir. Dalam perkembangan sosial setiap individu
menempatkan dirinya diantara banyak individu lainnya, maka agen sosialisasi
bagi seorang anak adalah ibu dan bapaknya.
Pendidikan sosial ini melibatkan
bimbingan terhadap tingkah laku sosial, ekonomi dan politik dalam rangka aqidah
Islam yang betul dan ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama yang dapat
meningkatkan iman, taqwa, takut kepada Allah dan mengerjakan ajaran-ajaran
agamanya yang mendorong kepada produksi, menghargai waktu, jujur, ikhlas dalam
perbuatan, adil, kasih sayang, ihsan, mementingkan orang lain, tolong menolong,
setia kawan, menjaga kemaslahatan umum, cinta tanah air dan lain-lain lagi
sebagai bentuk akhlak yang mempunyai nilai sosial.[10]
D.
Intelegensi
Peserta Didik
Integensi
(kecerdasan) menurut arti bahasa adalah
pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu.Dalam arti, kemampuan (al-qudrah)
dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna.
Pada mulanya, kecerdasan hanya
berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap
gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek
kognitif (al-majal al ma’rifi),
Pada saat ini pemahaman
terhadap kecerdasan itu sudah berkembang diantaranya: (1) kecerdasan
intelektual, (2) kecerdasan emosional, (3) kecerdasan spiritual, dan (4) kecerdasan
qalbu. Semua kecerdasan itu perlu dikembangkan dalam pendidikan Islam.
1.
Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan
intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani,
dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain. Dengan demikian, kecerdasan intelektual berhubungan dengan proses
kognitif seperti berfikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan
sesuatu, atau kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemecahan masalah
dengan menggunakan logika.
2. Kecerdasan Emosional
Menurut
Daniel Golemen, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri
sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, tidak
melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, menjaga agar beban stress
tidak melumpuhkan kamampuan berfikir, berempati dan berdoa.
Di
dalam Islam hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi seperti konsisten (istiqomah),
kecerdasan hati (tawadhu’), berusaha dan berserah diri (tawakkal),
ketulusan (keikhlasan), totalitas (kaffah), keseimbangan (tawazun),
integritas dan penyempurnaan (ihsan) dinamakan al-akhlak
al-karimah.
Al-akhlak
al-karimahyang
menghiasi seseorang mampu mengendalikan seseorang dari keinginan-keinginan,
yang bersifat negatif dan sebaliknya dapat mengarahkan atau memotivasi
seseorang untuk ke arah kebaikan (positif).Untuk menuju kebaikan tersebut
tentulah suatu hal yang tak mudah, oleh karena itu perlu usaha sungguh-sungguh
untuk mengembangkannya.
3. Kecerdasan
Spiritual
Menurut
Ary Ginanjar Agustian, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk member makna
ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan
pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pola
pemikiran tauhid (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.
4. Kecerdasan
Qalbiyah
Menurut
Abd. Mujib, kecerdasan qalbiyah adalah sejumlah kemampuan diri secara
cepat dan sempurna, untuk mengenal qalbu dan aktivitas-aktivitasnya, mengelola
dan mengekspresikan jenis-jenis qalbu secara benar, memotivasi qalbu untuk
membina hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah
dengan Tuhan.
E.
Etika Peserta Didik
Etika
peserta didik merupakan suatu yang harus dilaksanakan dalam proses pembelajaran
baik secara langsung maupun tidak langsung, al-Ghazali merumuskan ada sebelas
kewajiban peserta didik diantaranya yaitu:
1. Belajar dengan nait ibadah dalam
rangka taqarrub kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari
anak didik dituntut untuk mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak
yang tercela.
2. Mengurangi kecenderungan pada
duniawi dibandingkan masalah ukhrawi.
3. Bersikap tawadhu’ (rendah hati)
dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.
4. Menjaga pikiran dan pertentangan
yang timbul dari berbagai aliran.
5. Mempelajari ilmu-ilmu yang
terpuji, baik untuk ukhrawi maupun untuk duniawi.
6. Belajar dengan bertahap atau
dengan berjenjang dengan cara memulai pelajaranyang mudah menuju pelajaran yang
sukar.
7. Belajar ilmu sampai tuntas untuk
kemudian hari beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki
spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
8. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas
ilmu pengetahuan yang dipelajari.
9. Memprioritaskan ilmu diniyah
sebelum memasuki ilmu duniawi.
10. Mengenal nilai-nilai pragmatis
bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat dalam kehidupan
dunia dan akhirat.
11. Anak didik harus tunduk pada
nasehat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokternya,
mengikuti segala prosedur dan metode mashab yang diajarkan oleh
pendidik-pendidik pada umumnya, serta diperkenankan kepada peserta didik untuk
ikut kesenian yang baik.[11]
Etika
peserta didik di atas perlu disempurnakan dengan empat akhlak peserta didik
dalam menuntut ilmu.
1. Peserta didik harus membersihkan
hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar
merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.
2. Peserta didik harus mempunyai
tujuan untuk menutut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan,
mendekatkan diri kepada Allah.
3. Seorang peserta didik harus tabah
dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan
cobaan yang datang.
4. Seseorang harus ikhlas dalam
menuntut ilmu dan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan
dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.
F.
Hakikat Peserta Didik
Untuk
itu, pemahaman tentang hakikat peserta didik merupakan sesuatu yang beralasan.
Samsul Nizar dalam filsafat pendidikan Islam: Pendekatan historis, teoritis dan
praktis menyebutkan beberapa diskripsi mengenai hakikat peserta didik sebagai
berikut:
a. Peserta didik bukan miniatur
orang dewasa, tetapi ia memiliki dunianya sendiri. Hal ini perlu dipahami, agar
perlakuan terhadap mereka dalam proses pendidikan tidak disamakan dengan
pendidikan orang dewasa.
b. Peserta didik adalah manusia yang
memiliki perbedaan dalam tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhannya. Pemahaman
ini perlu diketahui agar aktivitas pendidikan Islam dapat disesuaikan dengan
tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang umumnya dialami peserta didik.
c. Peserta didik adalah manusia yang
memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, baik menyangkut kebutuhan jasmani
maupun ruhani. Diantara kebutuhan dasarnya adalah kebutuhan biologis, kasih
sayang, rasa aman, harga diri dan aktualisasi diri. Hal ini perlu dipahami agar
proses pendidikan dapat berjalan lancar.
d. Peserta didik adalah makhluk
Allah yang memiliki berbagai perbedaan individual (individual
differentiations), baik yang disebabkan karena faktr bawaan maupun lingkungan
tempat ia tnggal. Hal ini perlu diahami agar proses pendidikan dilakukan dengan
memerhatikan perbedaan-perbedaan tersebut tanpa harus mengorbankan salah satu
pihak atau kelompok.
e. Peserta didik merupakan makhluk
yang terdiri dari dua unsur utama: jasmaniah dan ruhaniah. Nsur jasmani
berkaitan dengan daya fisik yang dikembangkan melalui proses pembiasaan dan
latihan. Sementara unsur ruhani berkaitan dengn daya akal dan daya rasa. Daya
akal dapat dikembangkan melalui proses intelektualisme yang menekankan pada
ilmu-ilmu rasional, dan daya rasa dapat dikembangkan melalui pendidikan ibadah
dan akhlak. Pemahaman ini merupakan hal yang perlu agar proses pendidikan Islam
memandang peserta didik secara utuh, yakni tidak mengutamakan salah satu daya
saja, tapi semua daya dikembangkan dan diarahkan secara integral dan harmonis.
f. Peserta didik adalah makhluk
Allah yang telah dibekali berbagai potensi (fitrah) yang perlu dikembangkan
secara terpadu. Fungsi penddikan dalam hal ini adalah membantu dan membimbing
peserta didik agar dapat mengembangkan dan megarahkan potensi yang dimilikinya,
sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tanpa harus mengabaikan
fungsi-fungsi kemanusiannya.
Pemahaman mengenai hakikat peserta didik diatas
berfungsi sebagai sebagai landasan filosofis untuk menerapkan proses pendidikan
yang beorientasi pada peserta didik atau (student oriental) dan tidak lagi
berorientasi pada materi pelajaran (subject natter oriented).
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari uraian materi di
atas, dapat ditarik kesimpulan yaitu Peserta didik diartikan sebagai anggota
masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran
yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik
juga memiliki kebutuhan antara lain Kebutuhan jasmani dan Kebutuhan rohani.
Peserta didik memiliki dimensi jasmani dan rohani serta memiliki kecerdasan,
antara lain Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual,
dan Kecerdasan Qalbu.
Sebagai seorang peserta
didik harus memiliki etika diantaranya memiliki tujuan untuk menuntut ilmu,
tabah dan sabar dalam menuntut ilmu, dll. Selain etika, peserta didik memiliki Hakikat
yaitu Peserta didik adalah manusia yang sejatinya sudah mempunyai potensi
masing masing sejak dari lahir hanya saja dalam pendidikan itu pendidik lebih
mengarahkan atau mengembangkan potensi peserta didik yang sudah ada sejak
lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Nafis, Muhammad Muntahibun. 2011. Ilmu Pendidikan
Islam.Yogyakarta: Teras.
Prama Yuls. 2002. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:
Kalamulia
Umar, Bukhari. 2010. Ilmu Pendidikan Islam.
Jakarta: Amzah
file:///E:/%C2%A0/filsafat
pend.islam/Bhaskoro_ Tinjauan Filosofis Tentang Peserta Didik.htm
[2] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:
AMZAH, 2010, h. 103
[3] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h.
77
[4] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam,
Yogyakarta:Teras 2011 hlm. 141-142
[5] Ibid. hlm. 148-149
[6] Ibid. 151-153
[7] Ibid. 155
[8] Ibid. 156
[9] Ibid. 159
[10] Ibid. 160
[11] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam,
Yogyakarta: Teras 2011 hlm. 131-132

Tidak ada komentar:
Posting Komentar