Jumat, 16 Juni 2017



TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen pengampu: Ngarifin Alh.H.Dr.M.Pd.I



Disusun oleh kelompok 2 :

1.      Ahmad Alim Maulana(09)
2.      Farisi Ardani(10)
3.      Winarti(11)
4.      Ulul Azmi(12)
PAI 3C



FAKULTAS ILMU TARBIYAH  DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016




KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena nikmat dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami menyusun makalah ini, baik teman-teman maupun dosen.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui mengenai Tinjauan Filosofis Tentang Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam matakuliah Filsafat Pendidikan Islam. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi pembaca, meskipun masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih.


Wonosobo, Oktober 2016










DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................................       i
KATA PENGANTAR.......................................................................................................      ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................     iii
                   BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................     
A.    Latar Belakang Masalah...............................................................................................      1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................................................      1
C.     Tujuan...........................................................................................................................      2

                   BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................
A.    Pengertian Peserta Didik..............................................................................................      3
B.     Kebutuhan Peserta Didik ............................................................................................      3
C.     Dimensi Peserta Didik..................................................................................................      5
D.    Intelegensi Peserta Didik..............................................................................................      9
E.     Etika Peserta Didik.......................................................................................................    10
F.      Hakikat Peserta Didik..................................................................................................    12

                    BAB III PENUTUP ..................................................................................................
KESIMPULAN...........................................................................................................    14
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................    15

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada dasarnya Pedidikan itu penting bagi siapa saja. Berbicara mengenai pendidikan tentunya tidak luput dari pendidik dan peserta didik. Karena keduanya merupakan komponen yang penting dan saling berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan.
Demikian pula peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek pendidikan, tetapi pada saat-saat tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa posisi peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif laksana cangkir kosong yang siap menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan gurunya, sekaligus dalam upaya pengembangan keilmuannya.
Makalah ini akan menguraikan tinjauan filosofis tentang peserta didik dalam perspektif filsafat pendidikan Islam. Diharapkan makalah ini menjadi bahan diskusi lebih lanjut agar dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang kedua komponen itu sehingga berguna dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan secara efektif dan efisien.
A.    Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Peserta Didik ?
2.      Apa saja kebutuhan Peserta Didik ?
3.      Apa saja dimensi Peserta Didik ?
4.      Bagaimana Intelegensi Peserta Didik ?
5.      Apa saja Etika Peserta Didik ?
6.      Apa saja Hakikat dari Peserta Didik ?

B.     Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari Peserta Didik
2.      Mengetahui kebutuhan Peserta Didik
3.      Mengetahui dimensi Peserta Didik
4.      Mengetahui Intelegensi Peserta Didik
5.      Mengetahui Etika Peserta Didik
6.      Mengetahui Hakikat dari Peserta Didik

























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Peserta Didik
Peserta didik adalah suatu komponen dalam sistem pendidikan Islam.[1] Peserta didik juga diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (Undang-undang Sisidiknas, pasal 1 ayat 4).[2]
Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.[3]
Di dalam proses pendidikan peserta didik di samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh karena itu agar seorang pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia harus memahami peserta didik dengan segala karaskteristiknya.
Aspek yang harus dipahami oleh pendidik yaitu:
1.      kebutuhannya,
2.       dimensi-dimensinya,
3.      Intelegensinya
4.      dan Etikanya.
B.     Kebutuhan Peserta Didik
Suatu hal yang juga sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik dalam mengajar, membimbing, dan melatih muridnya adalah “kebutuhan murid”. Al-Qussy membagi kebutuhan manusia (peserta didik) dalam dua kebutuhan pokok, yaitu:
1.      Kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, minum, seks, dan sebagainya.
2.       Kebutuhan skunder, yaitu kebutuhan ruhaniah.
Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik diantaranya:
a.       Kebutuhan Fisik
Fisik peserta didik mengalami pertumbuhan yang sangat cepat terutama pada masa pubertas. Kebutuhan biologis, yaitu makan, minum, dan istirahat, dimana hal ini menuntut peserta didik untuk memenuhinya.
Di samping pendidik memperhatikan pertumbuhan fisik, pendidik juga harus dapat memberikan informasi yang memadai tentang pertumbuhan melalui berbagai kegiatan bimbingan seperti bimbingan pribadi atau dalam bimbingan kelompok.
b.      Kebutuhan Sosial
Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh teman-temannya secara wajar. Begitu juga supaya dapat diterima oleh orang yang lebih tinggi dari dirinya seperti orang tua, guru-guru dan pemimpin-pemimpinnya.
Kebutuhan ini perlu dipenuhi agar peserta didik dapat memperoleh posisi dan berprestasi dalam masyarakat.
c.       Kebutuhan untuk mendapatkan status
Peserta didik terutama usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat.
1.      Kebutuhan Mandiri
Peserta didik  pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri.
2.      Kebutuhan untuk berprestasi
Kebutuhan untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan mendapat status dan mandiri. Artinya dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar prestasi.
3.      Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai
Rasa ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhi kebutuhan ini akan mempengaruhi sifat mental peserta didik.
4.       Kebutuhan untuk curhat
Kebutuhan untuk curhat terutama remaja dimaksudkan suatu kebutuhan untuk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya.
5.      Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup (agama)
Peserta didik pada usia remaja mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan nilai-nila ideal. Mereka mempunyai keinginan untuk mengenal apa tujuan hidup dan bagaimana kebahagiaan itu diperoleh. Kebenaran dan nilai-nilai ideal yang murni hanya ditemukan di dalam Agama. Oleh karena itu peserta didik sangat membutuhkan agama.
C.    Dimensi-dimensi Peserta Didik
Manusia merupakan makhluk multidimensional yang berada dengan makhluk-makhluk lainnya, teori ini dikemukakan oleh Widodo Supriyono. Secara garis besar ia membagi manusia pada dua dimensi yaitu dimensi fisik dan rohani.
Zakiah Darajat membagi manusia kepada tujuh dimensi pokok, Ketujuh dimensi tersebut adalah: dimensi fisik, akal, agama, akhlak, kejiwaan, rasa keindahan dan sosial kemasyarakatan. Semua dimensi tersebut harus di tumbuh kembangkan melalui pendidikan Islam, diantaranya:
1.      Dimensi Fisik (Jasmani)
Fisik atau jasmani terdiri atas organisme fisik. Pada dimensi ini, proses penciptaan manusia memiliki kesamaan dengan hewan ataupun tumbuhan, sebab semua termasuk bagian dari alam. Setiap alam biotik, memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah, api udara dan air. Namun manusia merupakan makhluk biotik yang unsur-unsur pembentukan materialnya bersifat profesional antara ke empat unsur tersebut sehingga manusia disebut makhluk sempurna terbaik penciptaannya. Firman Allah:  Artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(QS. al­-Tiin: 4).[4]
2.   Dimensi Akal
Al-Ishfahami, membagi akal manusia kepada macam yaitu:
a.       Aql al-Mathhu’, yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah sebagai fitrah illahi. Akal ini menduduki posisi yang sangat tinggi, namun demikian, akal ini tidak akan bisa berkembang dengan baik secara optimal, bila tidak dibarengi dengan kekuatan akal lainnya, yaitu aql al-masmu’.[5]
b.      Aql al-masmu’, yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh manusia. Akal ini bersifat aktif dan berkembang sebatas kemampuan yang dimilikinya lewat bantuan proses perinderaan, secara bebas. Untuk mengarahkan agar akal itu tetap berada dijalan Tuhannya, maka keberadaan aql al-masmu’ tidak dapat dilepaskan.
Sedangkan fungsi akal manusia terbagi kepada enam yaitu:
1.      Akal adalah penahan nafsu. Dengan akal manusia dapat mengerti apa yang tidak dikehendaki oleh amanat yang dibebankan kepadannya sebagai kewajiban.
2.      Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu baik yang tampak jelas maupun yang tidak jelas.
3.      Akal adalah petunjuk yang dapat membedakan hidayah dan kesesatan.
4.      Akal  adalah kesadaran batin dan pengaturan.
5.      Akal adalah pandangan batin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata.
6.      Akal adalah daya ingat mengambil dari yang telah lampau untuk masa yang akan dihadapi. Ia menghimpun semua pelajaran dari apa yang pernah terjadi untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
3.       Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan atau di sebut homodivinous atau disebut juga homoreligious. Berdasarkan hasil riset dan observasi, hampir seluruh ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa pada diri  manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal.
Dalam pandangan akal, sejak lahir manusia telah mempunyai jiwa agama, jiwa yang mengakui adanya Zat yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Dalam konteks Makro, pandangan Islam terhadap manusia ada tiga implikasi dasar yaitu pertama, implikasi yang berkaitan dengan pendidikan di masa depan, di mana pendidikan diarahkan untuk mengembangkan fitrah seoptimal mungkin dengan tidak mendikotomikan materi. Kedua, tujuan (ultimate goal) pendidikan, yaitu insan kamil yang akan tercapai bila manusia menjalankan fungsinya sebagai Abdullah dan khalifah sekaligus. Ketiga, muatan materi dan metodologi pendidikan, diadakan spesialisasi dengan metode integralistik dan disesuaikan dengan fitrah manusia.
Berkaitan dengan sifat dasar inilah pendidikan Islam dirumuskan untuk membentuk insan muttaqin yang memilliki keseimbangan dalam segala hal berdasarkan iman yang mantap untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[6]
4.   Dimensi Akhlak
Salah satu dimensi manusia yang sangat diutamakan dalam pendidikan Islam adalah akhlak.
Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, karena iman dan ibadat manusia tidak sempurna kecuali kalau dari situ muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalam Islam bersumber pada iman dan takwa dan mempunyai tujuan langsung, yang dekat yaitu harga diri dan tujuan jauh, yaitu ridha Allah SWT.
Adapun ciri akhlak Islam antara lain:
1.      Bersifat menyeluruh (universal).
2.      Menghargai tabiat manusia.
3.      Bersifat sederhana.
4.      Realistis.
5.      Kemudahan.
6.      Mengikat kepercayaan dengan amal, perkataan, perbuatan, teori dan praktek.
7.      Tetap dalam dasar-dasar dan prinsip-prinsip akhlak umum.[7]
5.   Dimensi Rohani (Kejiwaan)
Dimensi kejiwaan merupakan suatu dimensi yang sangat penting, dan memiliki pengaruh dalam mengendalikan keadaan manusia agar dapat hidup sehat, tentram, dan bahagia.Penciptaan manusia mengalami kesempurnaan setelah Allah meniupkan sebagian ruh ciptaan-Nya.[8]
Insan adalah makhluk yang diciptakan dari tubuh yang dapat dilihat oleh pandangan dan jiwa yang bisa ditanggapi oleh akal dan bashirah.Tetapi tidak dengan panca indera.Tubuhnya dikaitkan dengan tanah dan ruhnya pada nafs atau diri/jiwanya. Allah maksudkan ruh itu ialah apa yang  kita ketahui sebagai jiwa atau an-nafs. 
Oleh karena itu maka dalam rangka terlaksana usaha untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut adalah dengan mendidik agama.Yang dimaksud dengan pendidikan agama tidak hanya upaya untuk membekali anak didik dengan pengetahuan agama, tapi sekaligus upaya untuk menanamkan nilai keagamaan dan membentuk sikap keagamaan sehingga menjadi bagian dari kepribadian mereka.
6.  Dimensi Seni (Keindahan)
Seni adalah ekspresi roh dan daya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan, Allah telah menganugrahkan kepada manusia berbagai potensi rohani dan indrawi (mata, telinga, dan lain sebagainya).
Sebagai manifestasi dan refleksi dari kehidupan manusia, maka seni merupakan sarana bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan melaksanakan fungsi kekhalifahannya di atas  dunia ini.[9]
Oleh karena itu seorang pendidik hendaklah mampu mengarahkan anak didiknya untuk dapat mengembangkan dimensi seni, baik dalam bentuk bimbingan untuk merasakan dan menghayati nilai-nilai seni yang ada pada alam ciptaan Allah, maupun motivasi mereka agar mampu mengungkapkan nilai-nilai seni tersebut dengan bakat dan kemampuan mereka masing-masing.
7.   Dimensi Sosial
Seorang manusia adalah makhluk individual dan secara bersamaan adalah makhluk sosial.kelompok yang paling penting dan besar pengaruhnya adalah keluarga, karena perkembangan dimensi sosial telah dimulai sejak lahir. Dalam perkembangan sosial setiap individu menempatkan dirinya diantara banyak individu lainnya, maka agen sosialisasi bagi seorang anak adalah ibu dan bapaknya.
Pendidikan sosial ini melibatkan bimbingan terhadap tingkah laku sosial, ekonomi dan politik dalam rangka aqidah Islam yang betul dan ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama yang dapat meningkatkan iman, taqwa, takut kepada Allah dan mengerjakan ajaran-ajaran agamanya yang mendorong kepada produksi, menghargai waktu, jujur, ikhlas dalam perbuatan, adil, kasih sayang, ihsan, mementingkan orang lain, tolong menolong, setia kawan, menjaga kemaslahatan umum, cinta tanah air dan lain-lain lagi sebagai bentuk akhlak yang mempunyai nilai sosial.[10]
D.    Intelegensi Peserta Didik
                 Integensi (kecerdasan) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu.Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna.
                 Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal al ma’rifi),
                 Pada saat ini pemahaman terhadap kecerdasan itu sudah berkembang diantaranya: (1) kecerdasan intelektual, (2) kecerdasan emosional, (3) kecerdasan spiritual, dan (4) kecerdasan qalbu. Semua kecerdasan itu perlu dikembangkan dalam pendidikan Islam.
1.        Kecerdasan Intelektual
             Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain. Dengan demikian, kecerdasan intelektual berhubungan dengan proses kognitif seperti berfikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu, atau kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemecahan masalah dengan menggunakan logika.
2.  Kecerdasan Emosional
Menurut Daniel Golemen, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kamampuan berfikir, berempati dan berdoa.
Di dalam Islam hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi seperti konsisten (istiqomah), kecerdasan hati (tawadhu’), berusaha dan berserah diri (tawakkal), ketulusan (keikhlasan), totalitas (kaffah), keseimbangan (tawazun), integritas dan penyempurnaan (ihsan) dinamakan al-akhlak al-karimah.
Al-akhlak al-karimahyang menghiasi seseorang mampu mengendalikan seseorang dari keinginan-keinginan, yang bersifat negatif dan sebaliknya dapat mengarahkan atau memotivasi seseorang untuk ke arah kebaikan (positif).Untuk menuju kebaikan tersebut tentulah suatu hal yang tak mudah, oleh karena itu perlu usaha sungguh-sungguh untuk mengembangkannya.
3.   Kecerdasan Spiritual
Menurut Ary Ginanjar Agustian, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk member makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.
4.   Kecerdasan Qalbiyah
Menurut Abd. Mujib, kecerdasan qalbiyah adalah sejumlah kemampuan diri secara cepat dan sempurna, untuk mengenal qalbu dan aktivitas-aktivitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis qalbu secara benar, memotivasi qalbu untuk membina hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah  dengan Tuhan.
E.       Etika Peserta Didik
Etika peserta didik merupakan suatu yang harus dilaksanakan dalam proses pembelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, al-Ghazali merumuskan ada sebelas kewajiban peserta didik diantaranya yaitu:
1.      Belajar dengan nait ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari anak didik dituntut untuk mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
2.      Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi.
3.      Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.
4.      Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.
5.      Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrawi maupun untuk duniawi.
6.      Belajar dengan bertahap atau dengan berjenjang dengan cara memulai pelajaranyang mudah menuju pelajaran yang sukar.
7.      Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian hari beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
8.      Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
9.      Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
10.  Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat.
11.  Anak didik harus tunduk pada nasehat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokternya, mengikuti segala prosedur dan metode mashab yang diajarkan oleh pendidik-pendidik pada umumnya, serta diperkenankan kepada peserta didik untuk ikut kesenian yang baik.[11]
Etika peserta didik di atas perlu disempurnakan dengan empat akhlak peserta didik dalam menuntut ilmu.
1.      Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.
2.      Peserta didik harus mempunyai tujuan untuk menutut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.
3.      Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.
4.      Seseorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.
F. Hakikat Peserta Didik
Untuk itu, pemahaman tentang hakikat peserta didik merupakan sesuatu yang beralasan. Samsul Nizar dalam filsafat pendidikan Islam: Pendekatan historis, teoritis dan praktis menyebutkan beberapa diskripsi mengenai hakikat peserta didik sebagai berikut:
a.       Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, tetapi ia memiliki dunianya sendiri. Hal ini perlu dipahami, agar perlakuan terhadap mereka dalam proses pendidikan tidak disamakan dengan pendidikan orang dewasa.
b.      Peserta didik adalah manusia yang memiliki perbedaan dalam tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhannya. Pemahaman ini perlu diketahui agar aktivitas pendidikan Islam dapat disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang umumnya dialami peserta didik.
c.       Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, baik menyangkut kebutuhan jasmani maupun ruhani. Diantara kebutuhan dasarnya adalah kebutuhan biologis, kasih sayang, rasa aman, harga diri dan aktualisasi diri. Hal ini perlu dipahami agar proses pendidikan dapat berjalan lancar.
d.      Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki berbagai perbedaan individual (individual differentiations), baik yang disebabkan karena faktr bawaan maupun lingkungan tempat ia tnggal. Hal ini perlu diahami agar proses pendidikan dilakukan dengan memerhatikan perbedaan-perbedaan tersebut tanpa harus mengorbankan salah satu pihak atau kelompok.
e.       Peserta didik merupakan makhluk yang terdiri dari dua unsur utama: jasmaniah dan ruhaniah. Nsur jasmani berkaitan dengan daya fisik yang dikembangkan melalui proses pembiasaan dan latihan. Sementara unsur ruhani berkaitan dengn daya akal dan daya rasa. Daya akal dapat dikembangkan melalui proses intelektualisme yang menekankan pada ilmu-ilmu rasional, dan daya rasa dapat dikembangkan melalui pendidikan ibadah dan akhlak. Pemahaman ini merupakan hal yang perlu agar proses pendidikan Islam memandang peserta didik secara utuh, yakni tidak mengutamakan salah satu daya saja, tapi semua daya dikembangkan dan diarahkan secara integral dan harmonis.
f.       Peserta didik adalah makhluk Allah yang telah dibekali berbagai potensi (fitrah) yang perlu dikembangkan secara terpadu. Fungsi penddikan dalam hal ini adalah membantu dan membimbing peserta didik agar dapat mengembangkan dan megarahkan potensi yang dimilikinya, sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tanpa harus mengabaikan fungsi-fungsi kemanusiannya.
     Pemahaman mengenai hakikat peserta didik diatas berfungsi sebagai sebagai landasan filosofis untuk menerapkan proses pendidikan yang beorientasi pada peserta didik atau (student oriental) dan tidak lagi berorientasi pada materi pelajaran (subject natter oriented).



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari uraian materi di atas, dapat ditarik kesimpulan yaitu Peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik juga memiliki kebutuhan antara lain Kebutuhan jasmani dan Kebutuhan rohani. Peserta didik memiliki dimensi jasmani dan rohani serta memiliki kecerdasan, antara lain Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Kecerdasan Qalbu.
Sebagai seorang peserta didik harus memiliki etika diantaranya memiliki tujuan untuk menuntut ilmu, tabah dan sabar dalam menuntut ilmu, dll. Selain etika, peserta didik memiliki Hakikat yaitu Peserta didik adalah manusia yang sejatinya sudah mempunyai potensi masing masing sejak dari lahir hanya saja dalam pendidikan itu pendidik lebih mengarahkan atau mengembangkan potensi peserta didik yang sudah ada sejak lahir.













DAFTAR PUSTAKA
Nafis, Muhammad Muntahibun. 2011. Ilmu Pendidikan Islam.Yogyakarta: Teras.
Prama Yuls. 2002. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: Kalamulia
Umar, Bukhari. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah
file:///E:/%C2%A0/filsafat pend.islam/Bhaskoro_ Tinjauan Filosofis Tentang Peserta Didik.htm


[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002. h. 77
[2] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: AMZAH, 2010, h. 103
[3] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 77
[4] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta:Teras 2011 hlm. 141-142
[5] Ibid. hlm. 148-149
[6] Ibid. 151-153
[7] Ibid. 155
[8] Ibid. 156
[9] Ibid. 159
[10] Ibid. 160
[11] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: Teras 2011 hlm. 131-132



Tidak ada komentar:

Posting Komentar