Jumat, 16 Juni 2017



HUBUNGAN AKHLAK DAN IMAN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Akhlak dan Tasawuf
Dosen pengampu: Jumarno, S.Ag., M.Pd.I




Disusun oleh:
KELOMPOK 2
1.      Mazaya Linda Shilmina
2.      Winarti
3.      Fattinisa
4.      Azhar Nurul Huda

FAKULTAS ILMU TARBIYAH  DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016



KATA PENGANTAR

        Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena nikmat dan ridhoNya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami menyusun makalah ini, baik teman-teman maupun dosen.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang akhlak yang merupakan sikap lahir dan bathin serta akhlak yang ternyata memiliki hubungan dengan keimanan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih.


Wonosobo, September 2016


Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................................................       i
KATA PENGANTAR............................................................................................      ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................     iii
BAB I ...... PENDAHULUAN...............................................................................      1
A.    Latar Belakang Masalah.................................................................      1
B.     Rumusan Masalah ..........................................................................      1
C.     Tujuan.............................................................................................      1
BAB II ..... PEMBAHASAN..................................................................................      2
A.    Akhlak Merupakan Sikap Lahir Dan Batin....................................      2
B.     Hubungan Akhlak Dan Iman..........................................................      9
BAB III ... PENUTUP............................................................................................    11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................    12







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kata akhlak berasal dari kata khuluk yang dalam bahasa Arab artinya watak, kelakuan, tabiat, perangai, budi pekerti, tingkah laku, dan kebiasaan. Pengertian akhlak dalam Islam adalah perangai serta tingkah laku yang terdapat pada diri seseorang yang telah melekat, dilakukan dan dipertahankan secara terus menerus.
Akhlak merupakan wujud Iman, Islam, dan Ikhsan sebagai pantulan sifat dan jiwa seseorang secara spontan dan terpola. Akhlak lalu melahirkan perilaku yang konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan karena keinginan tertentu. Semakin kuat dan mantap keimanan seseorang, semakin taat beribadah, ia akan semakin baik akhlaknya. Sehingga akhlak tidak dapat dipisahkan dengan ibadah maupun akidah karena kualitas akidah akan mempengaruhi kualitas ibadah yang kemuadian juga akan sangat berpengaruh pada kualitas akhlak.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah akhlak merupakan sikap lahir dan batin?
2.      Bagaimanakah hubungan akhlak dengan iman?

C.     Tujuan
1. Agar mengetahui apakah akhlak merupakan sikap lahir dan batin.
2. Agar mengetahui hubungan akhlak dan iman.


Bab ii
PEMBAHASAN

A.    Akhlak Merupakan Sikap Lahir Dan Batin
Ada 2 (dua) penggolongan akhlak secara garis besar yaitu: akhlak mahmudah (fadilah) dan akhlak mazmumah (qabihah). Di samping istilah tersebut Imam Al-Ghazali menggunakan juga istilah ‘munjiyat’ untuk akhlak mahmudah dan ‘muhlikhat’ untuk yang mazmumah.
a.       Akhlak Mazmumah (Akhlak Tercela)[1]
Pembahasan  akhlak tercela didahulukan dengan maksud agar dapat melakukan terlebih dahulu usaha takhalli, yaitu mengosongkan atau membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela sambil mengisinya (tahalli) dengan sifat-sifat terpuji. Kemudian melakukan tajalli, yaitu tersingkapnya tabir sehingga diperoleh pancaran Nur Ilahi.[2]
Pada dasarnya sifat dan perbuatan tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1)      Maksiat lahir
Maksiat artinya melakukan perbuatan yang dilarang dan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh syari’at Islam, dan perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang berakal, baligh dan tidak dalam keadaan terpaksa.
Maksiat yang bersifat lahiriyah adakalanya berupa maksiat yang dilakukan oleh lisan, telinga, mata, tangan dan lain sebagainya, seperti berkata kotor, bohong, mendengarkan pembicaraan orang lain, mendengarkan orang yang sedang mengumpat, melihat aurat orang lain yang bukan mahram, menggunakan tangan untuk mencuri, merampas, mengurangi timbangan dan lain sebagainya.


2)      Maksiat Batin
Maksiat batin berasal dari hati manusia atau digerakkan oleh tabiat hati. Hati memiliki kondisi yang labil, berubah-ubah, sesuai dengan keadaan yang mempengaruhinya, kadang baik, simpati dan penuh kasih sayang, tetapi di lain  waktu menjadi jahat, pendendam, pemarah dan lain sebagainya.
Maksiat batin lebih berbahaya dibandingkan dengan maksiat lahir, karena bersifat abstrak dan lebih sulit untuk dihilangkan. Beberapa contoh penyakit batin adalah:
a)       Takabbur (al-Kibru), yaitu sikap menyombongkan diri sehingga tidak mau mengakui kekuasaan Allah di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah yang ada padanya. [3]
Takabbur juga berarti merasa atau mengakui diri lebih besar, tinggi atau mulia melebihi orang lain.[4] Perbuatan takabbur atau menjunjung diri akan membawa akibat yang sangat merugikan, mengurangi kedudukan dan martabat di mata umat manusia, serta menjadi penyebab mendapat murka Allah SWT.[5]
b)      Syirik, yaitu suatu sikap yang menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya,[6] atau juga berarti kepercayaan terhadap suatu benda yang mempunyai kekuatan yang sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan pelakunya tidak diampuni dosanya. [7]
c)       Nifaq, yaitu suatu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya. [8]Orangnya disebut munafiq. Dari sebab orang munafiq ini dapat timbul perbuatan tercela seperti riya’, menipu, berbohong, ingkar janji, curang, dan lain-lain.[9]
d)      Iri hati atau dengki (al-Hasadu atau al-Hiqdu), yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali. Sifat ini sangat merugikan manusia dalam beragama dan bermasyarakat sebab bisa menjurus pada sifat rakus, egois, serakah atau tamak, suka mengancam, pendendam, dan sebagainya. Adakalanya orang yang dengki dan iri tersebut berharap agar nikmat yang diperoleh orang lain berpindah kepadanya, dan adakalanya hanya sekedar dengki dengan tidak berharap kenikmatan itu berpindah, tetapi kenikmatan yang diperoleh orang tersebut tidak menyamai atau melebihinya.[10]
e)       Mudah marah (al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya sehingga menonjolkan sikap dan prilaku yang tidak menyenangkan orang lain.[11]
Selain beberapa sifat tersebut di atas masih banyak sifat tercela lainnya. Adapun obat untuk mengatasi akhlak tercela ada dua cara, yaitu:
a)       Perbaikan pergaulan, seperti pendirian pusat pendidikan anak nakal, mencegah perzinahan, mabuk dan peredaran obat-obat terlarang.
b)      Memberikan hukuman. Dengan adanya hukuman  akan muncul suatu ketakutan pada diri seseorang karena perbuatannya akan dibalas (dihukum). Hukuman ini pada akhirnya bertujuan untuk mencegah melakukan yang berikutnya, serta berusaha keras memperbaiki akhlaknya.[12]




b.      Akhlak Terpuji (al-Akhlak al-Mahmudah)
Yang dimaksud dengan akhlak terpuji adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik (yang terpuji). Akhlak ini dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah yang terpendam dalam jiwa manusia.[13]
Sedangkan berakhlak terpuji artinya menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela yang sudah digariskan dalam agama Islam serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela tersebut, kemudian membiasakan adat kebiasaan baik, melakukannya dan mencintainya.[14]
Akhlak terpuji berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma atau ajaran Islam. Akhlak terpuji dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1)      Taat lahir
Taat lahir berarti melakukan seluruh amal ibadah yang diwajibkan Allah, termasuk berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan dan dikerjakan oleh anggota lahir. Beberapa perbuatan yang dikatagorikan taat lahir adalah:
a)       Taubat, yaitu sikap menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukan dan berusaha menjauhinya serta melakukan perbuatan baik. Sifat ini dikategorikan sebagai taat lahir dilihat dari sikap dan tingkah laku seseorang, namun penyesalannya merupakan taat batin. Bertaubat merupakan tahapan pertama dalam perjalanan menuju Allah. Taubat adalah kata yang mudah diucapkan, karena mudah dan terbiasa, inti makna yang dikandungnya menjadi tidak tampak, padahal kandungan maknanya tidak akan dapat direalisasikan hanya dengan perkataan lisan dan kebiasaan menyebutkannya.[15]
b)      Amar ma’ruf nahi munkar, yaitu perbuatan yang dilakukan kepada manusia untuk menjalankan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran sebagai implementasi perintah Allah.[16]
Misi amar ma’ruf nahi munkar ini harus ditempuh seorang muslim sebagai aktor dakwah dengan bekal intelektual, metodologi dan dakwah. Modus operasinya beragam, bisa berupa reaksi fisik, yaitu melalui salah satu organ tubuh, atau berupa reaksi verbal, yaitu dilakukan jika yang pertama tidak berjalan dengan cara mengemukakan pengertian tentang kebenaran. Bisa juga dengan reaksi psikologis, yaitu merespon fenomena-fenomena kemungkaran dengan kalbu. Reaksi ini merupakan tahapan terakhir dari modus amar ma’ruf nahi munkar.[17]
مَنْ َرأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْ بِيَدِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ فَذَلِكَ اَضْعَفُ اْلاِيْمَانِ.
Artinya:
Siapa saja di antara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah itu dengan tangan, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisan dan jika tidak mampu maka rubahlah dengan hati dan itu tingkatan iman yang paling lemah”.[18]

c.       Syukur, yaitu suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya, baik yang bersifat fisik maupun non fisik, lalu disertai dengan peningkatan pendekatan diri kepada Allah SWT.[19] Sikap ini dilakukan karena nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita begitu banyaknya sampai tidak bisa dihitung.
Disamping itu syukur adalah penyebab berlanjutnya nikmat-nikmat Allah yang sudah ada dan merupakan wasilah guna memperoleh nikmat-nikmat-Nya yang lain yang belum tercapai.[20]
2)      Taat Batin
Yaitu segala sifat yang baik (terpuji) yang dilakukan oleh anggota batin (hati). Adapun yang termasuk taat batin ini antara lain:
a)      Tawakkal, yaitu menyerahkan segala persoalan kepada Allah setelah berusaha. Apabila kita telah berusaha sekuat tenaga dan masih saja mengalami kegagalan maka hendaklah bersabar dan berdo’a kepada Allah agar Dia membuka jalan keluarnya.[21]
b)      Sabar, yaitu suatu sikap yang betah atau dapat menahan diri dari kesulitan yang dihadapinya. Tetapi tidak berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi manusia. Makna sabar yang dimaksud adalah sikap yang diawali dengan ikhtiar, lalu diakhiri dengan ridha dan ikhlas bila seseorang dilanda suatu cobaan dari Tuhan.[22] Sabar merupakan kunci segala macam persoalan.[23]
Al-Ghazali membagi sabar menjadi tiga macam, yaitu:
(1)   Sabar terhadap maksiat, yaitu menahan diri untuk menghindari perbuatan jahat, perbuatan mengumbar hawa nafsu dan menghindarkan diri dari semua perbuatan yang mempunyai kemungkinan untuk terjerumus ke dalam jurang kehinaan.
(2)   Sabar dalam menjalankan ibadah. Sabar dalam menjalankan ibadah dasarnya adalah prinsip-prinsip Islam yang sudah lazim, pelaksanaannya perlu latihan yang tekun dan terus menerus, seperti shalat.
(3)   Sabar dalam menahan diri dari kemunduran, yaitu menahan diri dari surut ke belakang dan tetap berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang sudah diyakininya, misalnya membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, menjaga nama baik dan lain sebagainya.[24]
c)      Qana’ah, yaitu menerima dengan rela apa yang ada atau merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Qana’ah dalam pengertian yang luas sebenarnya mengandung lima perkara, yaitu:
(1)   Menerima dengan rela apa yang ada.
(2)   Memohon kepada Tuhan tambahan yang pantas, disertai dengan usaha dan ikhtiar.
(3)   Menerima dengan sabar ketentuan Tuhan.
(4)   Bertawakkal kepada Tuhan.
(5)   Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.[25]
d)     Tawadhu’, yaitu sikap merendahkan diri terhadap ketentuan Allah SWT. Bagi manusia tidak ada alasan lagi untuk tidak tawadhu’, mengingat kejadian manusia yang diciptakan dari bahan (unsur) yang paling rendah, yaitu tanah.
Sikap tawadhu’ juga hendaknya ditujukan kepada sesama manusia, yaitu dengan memelihara hubungan dan pergaulan dengan sesama manusia tanpa merendahkan orang lain dan juga memberikan hak kepada orang lain.
Dari beberapa akhlak terpuji di atas dapat disimpulkan ciri pokoknya, yaitu:
1)      Keimanan. Ciri pokok akhlak terpuji adalah keimanan karena iman merupakan landasan pokok keagamaan, artinya pelaksanaan agama seseorang sangat bergantung pada kualitas imannya. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, maka semakin tinggi pula kualitas ibadah dan akhlaknya.
2)      Taqwa. Taqwa merupakan tujuan pokok dari segala bentuk kehendak, perilaku dan perbuatan keagamaan seseorang dalam mencapai kebahagiaan lahir.
3)      Amal saleh. Amal saleh adalah perwujudan aktual iman seseorang yakni sebagai bukti konkrit dari kualitas pribadi, perwujudan kata hati dan penjabaran lahir dan batinnya. Amal saleh juga merupakan usaha preventif (penjagaan) dari aktualisasi iman yang tidak sesuai dan penjagaan diri dari sifat tercela.[26]

B.     Hubungan Akhlak Dan Iman
Pada dasarnya akhlak dan iman adalah dua perkara yang perlu kita miliki. Dan sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk mengetahui hubungan antara akhlak dan iman. Menurut pandangan islam, akhlak yang baik haruslah berpijak pada keimanan. Karena Iman tidak hanya sekadar disimpan di dalam hati, melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal soleh atau tingkah laku yang baik. Jika iman melahirkan amal soleh, barulah dikatakan iman itu sempurna karena dapat direalisasikan.
Dari uraian tersebut, sudah jelas bahawa akhlaq merupakan mata rantai daripada keimanan. Sebagai contoh, sifat malu (dalam membuat kejahatan) adalah satu dari pada akhlaqul mahmudah´. Dalam hadist Nabi menegaskan bahawa malu itu adalah cabang dari pada keimanan. Sebaliknya, akhlak yang dipandang buruk adalah akhlak yang menyalahi prinsip-prinsip keimanan. Seterusnya sekalipun sesuatu perbuatan pada lahirnya baik, tetapi titik tolaknya bukan karena iman maka perbuatan itu tidak dapat penilaian disisi Allah SWT.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan hubungan antara akhlak dan iman yang tercemin  dalam pernyataan Rasulullah yang berbunyi "Orang mukmin yang sempurna imannya ialah yang terbaik budipekertinya (akhlak)". (Riwayat Al-Tarmidzi).
Selain itu, akhlak dan iman memiliki hubungan yang lain. Kita dapat melihat hubungan itu berdasarkan motivasi iman itu sendiri. Tindakan dan pekerjaan manusia selalu didorong oleh suatu motivasi tertentu. Motivasi itu ada bermacam-macam, ada yang karena kepentingan kekayaan, ingin terkenal namanya dan sebagainya. Adapun dalam pandangan Islam, maka yang menjadi pendorong paling kuat untuk melakukan sesuatu amal perbuatan yang baik, adalah akidah, iman yang tertanam dalam hati. Iman itulah yang membuat seorang muslim ikhlas hendak bekerja keras bahkan rela berkorban. Iman itulah sebagai motivasi dalam kepribadiannya yang membuat seseorang hanya terdiam dan tidak melakukan kegiatan kebajikan serta amal soleh.
Jika ´mobil iman´ itu bergerak, maka keluarlah produknya berupa amal soleh dan akhlaqul karimah. Dengan demikian hanya daripada jiwa yang dihayati iman dapat diharapkan memancarkan kebaikan dan kebajikan yang sebenarnya. Kebaikan yang lahir tanpa bersumberkan keimanan, adalah kebaikan yang tidak mendapat penilaian disisi Allah SWT.
Pada rukun iman yang ke-enam, dua dari padanya adalah percaya kepada Allah dan percaya kepada hari akhirat. Dua rukun iman ini menjadi pokok dasar yang membedakan antara Islam dan akhlak-akhlak lainnya. Iman kepada kedua hakikat ini memberikan kesan yang positif. Sebaliknya percaya kepada yang lain atau penafi’an kepada kedua hakikat tersebut memberikan kesan yang negatif. Hubungan yang lazim antara iman kepada Allah dan hari akhirat dengan keberkesanannya membentuk akhlak yang baik atau sebaliknya, jika tidak beriman dengan dua hakikat tadi dengan keberkesanannya membentuk akhlak yang jahat dan buruk.
Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan dikesani dengan sifat-sifat Allah  yang termahal dan tertinggi yang akan mengesani pula berbagai perlakuan dan kegiatan hidupnya. Perlakuan dan kegiatan yang dikesani oleh sifat tinggi dan mulia ini adalah perlakuan dan kegiatan yang bernilai baik. Nilai kebaikan ini akan semakin meningkat dengan meningkatnya kesadaran kepada nilai pembalasan di hari akhir sebagai tempat dan masa kehidupan insan yang hakiki. Demikian juga sebaliknya, orang yang tidak beriman dengan Allah tetapi beriman dengan Tuhan yang batil dan palsu atau yang menepikan langsung konsep ketuhanan sudah tentu dikesani oleh sifat yang batil dan palsu yang berikutnya akan menyesali perlakuan dan kegiatan dalam hidupnya, lebih-lebih lagi yang langsung tidak mengakui pembalasan di atas perlakuan akan kegiatannya.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Akhlak merupakan perangai serta tingkah laku yang terdapat pada diri seseorang yang telah melekat, dilakukan dan dipertahankan secara terus menerus. Akhlak merupakan tingkah laku berdasarkan lahir dan batin. Ada 2 (dua) penggolongan akhlak secara garis besar yaitu: akhlak mahmudah (fadilah) dan akhlak mazmumah (qabihah). Pada dasarnya sifat dan perbuatan tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu maksiat lahir dan maksiat batin. Maksiat artinya melakukan perbuatan yang dilarang dan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh syari’at Islam, dan perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang berakal, baligh dan tidak dalam keadaan terpaksa. Maksiat batin lebih berbahaya dibandingkan dengan maksiat lahir, karena bersifat abstrak dan lebih sulit untuk dihilangkan.
Akhlak terpuji berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma atau ajaran Islam. Akhlak terpuji dibagi menjadi dua bagian, yaitu taat lahir dan taat batin. Taat lahir berarti melakukan seluruh amal ibadah yang diwajibkan Allah, termasuk berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan dan dikerjakan oleh anggota lahir. Taat batin yaitu segala sifat yang baik (terpuji) yang dilakukan oleh anggota batin (hati). Adapun yang termasuk taat adalah tawakkal dan sabar.
Akhlak yang baik haruslah berpijak pada keimanan. Karena Iman tidak hanya sekadar disimpan di dalam hati, melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal soleh atau tingkah laku yang baik. Jika iman melahirkan amal soleh, barulah dikatakan iman itu sempurna karena dapat direalisasikan. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan dikesani dengan sifat-sifat Allah  yang termahal dan tertinggi yang akan mengesani pula berbagai perlakuan dan kegiatan hidupnya. Nilai kebaikan ini akan semakin meningkat dengan meningkatnya kesadaran kepada nilai pembalasan di hari akhir sebagai tempat dan masa kehidupan insan yang hakiki


DAFTAR PUSTAKA

al-Hasyimi, Muhammad Ali, 1996, Sosok Pria Muslim, Terj. : Zaini Dahlan, Trigenda Karya, Bandung.
an-Nawawi, Al-Imam Syarafuddin, t.t., al-Arba’in an-Nawawiyyah, al-Miftah, Surabaya
Asmaran As., 1994, Pengantar Studi Akhlak, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Ghazali, Imam, 2007, Kiat Mempertajam mata Batin, Terj. : Ust. Labib Mz, Putra Jaya, Surabaya.
Haddad, Allamah Sayyid Abdullah, 1998, Thariqah Menuju Kebahagiaan, Mizan, Bandung.
Mahalli, A. Mudjab, 1984, Pembinaan Moral di Mata al-Ghozali, BPFE, Yogyakarta. 
Mahjuddin, 1991, Kuliah Akhlak Tasawuf, Kalam Mulia, Jakarta.
Noerhidayatullah, 2002, Insan Kamil Metode Memanusiakan Manusia, Intimedia dan Nalar, Bekasi.
Tatapangarsa, Humaidi, t.t., Akhlak yang Mulia, Bina Ilmu, Surabaya.
Zainuddin, A.  dan Muhammad Jamhari, 1999, al-Islam 2 Muamalah dan Akhlak, Pustaka Setia, Bandung.



[1] A. Mustofa, Op. Cit., hal. 197.
[2] Ibid.
[3] Mahjuddin, Kuliah Akhlak Tasawuf, Kalam Mulia, Jakarta, 1991, hal. 15.
[4] Humaidi Tatapangarsa, Akhlak yang Mulia, Bina Ilmu, Surabaya, t.t., hal. 158.
[5] A. Mudjab Mahalli, Pembinaan Moral di Mata al-Ghozali, BPFE, Yogyakarta, 1984, hal. 54. 
[6] Mahjuddin, Op. Cit., hal. 16.
[7] A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari, al-Islam 2 Muamalah dan Akhlak, Pustaka Setia, Bandung, 1999, hal. 101.
[8] Mahjuddin, Op. Cit., hal. 17.
[9] A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari, Op. Cit., hal. 102.
[10] A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari, Op. Cit., hal. 106.
[11] Mahjuddin, Op. Cit., hal. 26.
[12] Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga, Op. Cit., hal. 157-158.
[13] A. Mustofa, Op. Cit., hal. 197-198.
[14] Asmaran As., Pengantar Studi Akhlak, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1994, hal. 204.
[15] Noerhidayatullah, Insan Kamil Metode Memanusiakan Manusia, Intimedia dan Nalar, Bekasi, 2002, hal.34.
[16] Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga, Op. Cit., hal. 159.
[17] Muhammad Ali al-Hasyimi, Sosok Pria Muslim, Terj. : Zaini Dahlan, Trigenda Karya, Bandung, 1996, hal. 256-257.
[18] Al-Imam Syarafuddin an-Nawawi, al-Arba’in an-Nawawiyyah, al-Miftah, Surabaya, t.t., hal. 74.
[19] Mahjuddin, Op. Cit., hal. 369.
[20] Allamah Sayyid Abdullah Haddad, Thariqah Menuju Kebahagiaan, Mizan, Bandung, 1998, hal. 254.
[21] A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari, Op. Cit., hal. 90.
[22] Mahjuddin, Op. Cit., hal. 10.
[23] Allamah Sayyid Abdullah Haddad, Op. Cit., hal. 247.
[24] Imam Ghazali, Kiat Mempertajam mata Batin, Terj. : Ust. Labib Mz, Putra Jaya, Surabaya, 2007, hal. 95-97.
[25] Humaidi Tatapangarsa, Op. Cit., hal. 151-152.
[26] A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari, Op. Cit.,  hal. 78-79.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar