HUBUNGAN AKHLAK
DAN IMAN
Makalah ini
disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Akhlak dan Tasawuf
Dosen
pengampu: Jumarno, S.Ag., M.Pd.I
Disusun oleh:
KELOMPOK 2
1.
Mazaya Linda Shilmina
2.
Winarti
3.
Fattinisa
4.
Azhar Nurul Huda
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena nikmat
dan ridhoNya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam
senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu kami menyusun makalah ini, baik teman-teman maupun dosen.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat
mengetahui tentang akhlak yang merupakan sikap lahir dan bathin serta akhlak
yang ternyata memiliki hubungan dengan keimanan. Semoga makalah ini dapat
memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini masih
banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.
Terima kasih.
Wonosobo,
September 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................... iii
BAB I ...... PENDAHULUAN............................................................................... 1
A.
Latar Belakang Masalah................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah .......................................................................... 1
C.
Tujuan............................................................................................. 1
BAB II ..... PEMBAHASAN.................................................................................. 2
A.
Akhlak Merupakan Sikap Lahir Dan Batin.................................... 2
B.
Hubungan
Akhlak Dan Iman.......................................................... 9
BAB III ... PENUTUP............................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata akhlak berasal dari kata khuluk yang
dalam bahasa Arab artinya watak, kelakuan, tabiat, perangai, budi pekerti,
tingkah laku, dan kebiasaan. Pengertian akhlak dalam Islam adalah perangai
serta tingkah laku yang terdapat pada diri seseorang yang telah melekat,
dilakukan dan dipertahankan secara terus menerus.
Akhlak merupakan wujud Iman, Islam, dan
Ikhsan sebagai pantulan sifat dan jiwa seseorang secara spontan dan terpola.
Akhlak lalu melahirkan perilaku yang konsisten dan tidak tergantung pada
pertimbangan karena keinginan tertentu. Semakin kuat dan mantap keimanan
seseorang, semakin taat beribadah, ia akan semakin baik akhlaknya. Sehingga
akhlak tidak dapat dipisahkan dengan ibadah maupun akidah karena kualitas
akidah akan mempengaruhi kualitas ibadah yang kemuadian juga akan sangat
berpengaruh pada kualitas akhlak.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah akhlak merupakan sikap lahir dan
batin?
2. Bagaimanakah hubungan akhlak dengan iman?
C. Tujuan
1. Agar mengetahui apakah akhlak merupakan
sikap lahir dan batin.
2. Agar mengetahui hubungan akhlak dan iman.
Bab ii
PEMBAHASAN
A.
Akhlak Merupakan
Sikap Lahir Dan Batin
Ada 2 (dua)
penggolongan akhlak secara garis besar yaitu: akhlak mahmudah (fadilah) dan
akhlak mazmumah (qabihah). Di samping istilah tersebut Imam Al-Ghazali
menggunakan juga istilah ‘munjiyat’ untuk akhlak mahmudah dan ‘muhlikhat’ untuk
yang mazmumah.
a.
Akhlak Mazmumah (Akhlak Tercela)[1]
Pembahasan
akhlak tercela didahulukan dengan maksud agar dapat melakukan terlebih dahulu
usaha takhalli, yaitu mengosongkan atau membersihkan jiwa dari
sifat-sifat tercela sambil mengisinya (tahalli) dengan sifat-sifat
terpuji. Kemudian melakukan tajalli, yaitu tersingkapnya tabir
sehingga diperoleh pancaran Nur Ilahi.[2]
Pada dasarnya sifat
dan perbuatan tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1)
Maksiat lahir
Maksiat artinya
melakukan perbuatan yang dilarang dan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh
syari’at Islam, dan perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang berakal,
baligh dan tidak dalam keadaan terpaksa.
Maksiat yang bersifat
lahiriyah adakalanya berupa maksiat yang dilakukan oleh lisan, telinga, mata,
tangan dan lain sebagainya, seperti berkata kotor, bohong, mendengarkan
pembicaraan orang lain, mendengarkan orang yang sedang mengumpat, melihat aurat
orang lain yang bukan mahram, menggunakan tangan untuk mencuri, merampas,
mengurangi timbangan dan lain sebagainya.
2)
Maksiat Batin
Maksiat batin berasal
dari hati manusia atau digerakkan oleh tabiat hati. Hati memiliki kondisi yang
labil, berubah-ubah, sesuai dengan keadaan yang mempengaruhinya, kadang baik,
simpati dan penuh kasih sayang, tetapi di lain waktu menjadi jahat,
pendendam, pemarah dan lain sebagainya.
Maksiat batin lebih
berbahaya dibandingkan dengan maksiat lahir, karena bersifat abstrak dan lebih
sulit untuk dihilangkan. Beberapa contoh penyakit batin adalah:
a)
Takabbur (al-Kibru), yaitu sikap menyombongkan diri sehingga tidak
mau mengakui kekuasaan Allah di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah
yang ada padanya. [3]
Takabbur juga berarti
merasa atau mengakui diri lebih besar, tinggi atau mulia melebihi orang lain.[4]
Perbuatan takabbur atau menjunjung diri akan membawa akibat yang sangat
merugikan, mengurangi kedudukan dan martabat di mata umat manusia, serta
menjadi penyebab mendapat murka Allah SWT.[5]
b)
Syirik, yaitu suatu sikap yang menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya,
dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya,[6]
atau juga berarti kepercayaan terhadap suatu benda yang mempunyai kekuatan yang
sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan pelakunya tidak diampuni dosanya. [7]
c)
Nifaq, yaitu suatu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan
kemauan hatinya. [8]Orangnya disebut munafiq. Dari sebab orang munafiq ini dapat timbul
perbuatan tercela seperti riya’, menipu, berbohong, ingkar janji, curang, dan
lain-lain.[9]
d)
Iri hati atau dengki (al-Hasadu atau al-Hiqdu),
yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan
kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali. Sifat ini sangat
merugikan manusia dalam beragama dan bermasyarakat sebab bisa menjurus pada
sifat rakus, egois, serakah atau tamak, suka mengancam, pendendam, dan
sebagainya. Adakalanya orang yang dengki dan iri tersebut berharap agar nikmat
yang diperoleh orang lain berpindah kepadanya, dan adakalanya hanya sekedar
dengki dengan tidak berharap kenikmatan itu berpindah, tetapi kenikmatan yang
diperoleh orang tersebut tidak menyamai atau melebihinya.[10]
e)
Mudah marah (al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak
dapat ditahan oleh kesadarannya sehingga menonjolkan sikap dan prilaku yang
tidak menyenangkan orang lain.[11]
Selain beberapa sifat
tersebut di atas masih banyak sifat tercela lainnya. Adapun obat untuk
mengatasi akhlak tercela ada dua cara, yaitu:
a)
Perbaikan pergaulan, seperti pendirian pusat pendidikan anak nakal,
mencegah perzinahan, mabuk dan peredaran obat-obat terlarang.
b)
Memberikan hukuman. Dengan adanya hukuman akan muncul suatu ketakutan
pada diri seseorang karena perbuatannya akan dibalas (dihukum). Hukuman ini
pada akhirnya bertujuan untuk mencegah melakukan yang berikutnya, serta berusaha
keras memperbaiki akhlaknya.[12]
b.
Akhlak Terpuji (al-Akhlak al-Mahmudah)
Yang dimaksud dengan
akhlak terpuji adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik (yang
terpuji). Akhlak ini dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah yang terpendam dalam
jiwa manusia.[13]
Sedangkan berakhlak
terpuji artinya menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela yang sudah
digariskan dalam agama Islam serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela
tersebut, kemudian membiasakan adat kebiasaan baik, melakukannya dan
mencintainya.[14]
Akhlak terpuji
berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma atau ajaran
Islam. Akhlak terpuji dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1)
Taat lahir
Taat lahir berarti
melakukan seluruh amal ibadah yang diwajibkan Allah, termasuk berbuat baik
kepada sesama manusia dan lingkungan dan dikerjakan oleh anggota lahir. Beberapa
perbuatan yang dikatagorikan taat lahir adalah:
a)
Taubat, yaitu sikap menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukan dan
berusaha menjauhinya serta melakukan perbuatan baik. Sifat ini dikategorikan
sebagai taat lahir dilihat dari sikap dan tingkah laku seseorang, namun
penyesalannya merupakan taat batin. Bertaubat merupakan tahapan pertama dalam
perjalanan menuju Allah. Taubat adalah kata yang mudah diucapkan, karena mudah
dan terbiasa, inti makna yang dikandungnya menjadi tidak tampak, padahal kandungan
maknanya tidak akan dapat direalisasikan hanya dengan perkataan lisan dan
kebiasaan menyebutkannya.[15]
b)
Amar ma’ruf nahi munkar, yaitu perbuatan yang dilakukan kepada manusia
untuk menjalankan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran sebagai
implementasi perintah Allah.[16]
Misi amar ma’ruf nahi
munkar ini harus ditempuh seorang muslim sebagai aktor dakwah dengan bekal
intelektual, metodologi dan dakwah. Modus operasinya beragam, bisa berupa
reaksi fisik, yaitu melalui salah satu organ tubuh, atau berupa reaksi verbal,
yaitu dilakukan jika yang pertama tidak berjalan dengan cara mengemukakan
pengertian tentang kebenaran. Bisa juga dengan reaksi psikologis, yaitu
merespon fenomena-fenomena kemungkaran dengan kalbu. Reaksi ini merupakan
tahapan terakhir dari modus amar ma’ruf nahi munkar.[17]
مَنْ َرأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْ بِيَدِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ فَذَلِكَ اَضْعَفُ
اْلاِيْمَانِ.
Artinya:
“Siapa saja di
antara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah itu dengan tangan, jika tidak
mampu maka rubahlah dengan lisan dan jika tidak mampu maka rubahlah dengan hati
dan itu tingkatan iman yang paling lemah”.[18]
c.
Syukur, yaitu suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan dengan
sebaik-baiknya nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya, baik yang
bersifat fisik maupun non fisik, lalu disertai dengan peningkatan pendekatan
diri kepada Allah SWT.[19] Sikap
ini dilakukan karena nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita begitu
banyaknya sampai tidak bisa dihitung.
Disamping itu syukur
adalah penyebab berlanjutnya nikmat-nikmat Allah yang sudah ada dan
merupakan wasilah guna memperoleh nikmat-nikmat-Nya yang lain
yang belum tercapai.[20]
2)
Taat Batin
Yaitu segala sifat
yang baik (terpuji) yang dilakukan oleh anggota batin (hati). Adapun yang
termasuk taat batin ini antara lain:
a)
Tawakkal, yaitu menyerahkan segala persoalan kepada Allah setelah berusaha.
Apabila kita telah berusaha sekuat tenaga dan masih saja mengalami kegagalan
maka hendaklah bersabar dan berdo’a kepada Allah agar Dia membuka jalan
keluarnya.[21]
b)
Sabar, yaitu suatu sikap yang betah atau dapat menahan diri dari kesulitan
yang dihadapinya. Tetapi tidak berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa
upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi manusia. Makna sabar
yang dimaksud adalah sikap yang diawali dengan ikhtiar, lalu diakhiri dengan
ridha dan ikhlas bila seseorang dilanda suatu cobaan dari Tuhan.[22]
Sabar merupakan kunci segala macam persoalan.[23]
Al-Ghazali membagi
sabar menjadi tiga macam, yaitu:
(1)
Sabar terhadap maksiat, yaitu menahan diri untuk menghindari perbuatan
jahat, perbuatan mengumbar hawa nafsu dan menghindarkan diri dari semua
perbuatan yang mempunyai kemungkinan untuk terjerumus ke dalam jurang kehinaan.
(2)
Sabar dalam menjalankan ibadah. Sabar dalam menjalankan ibadah dasarnya
adalah prinsip-prinsip Islam yang sudah lazim, pelaksanaannya perlu latihan
yang tekun dan terus menerus, seperti shalat.
(3)
Sabar dalam menahan diri dari kemunduran, yaitu menahan diri dari surut ke
belakang dan tetap berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang sudah
diyakininya, misalnya membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, menjaga nama
baik dan lain sebagainya.[24]
c)
Qana’ah, yaitu menerima dengan rela apa yang ada atau merasa cukup dengan
apa yang dimiliki. Qana’ah dalam pengertian yang luas sebenarnya mengandung
lima perkara, yaitu:
(1)
Menerima dengan rela apa yang ada.
(2)
Memohon kepada Tuhan tambahan yang pantas, disertai dengan usaha dan
ikhtiar.
(3)
Menerima dengan sabar ketentuan Tuhan.
(4)
Bertawakkal kepada Tuhan.
(5)
Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.[25]
d)
Tawadhu’, yaitu sikap merendahkan diri terhadap ketentuan Allah SWT. Bagi
manusia tidak ada alasan lagi untuk tidak tawadhu’, mengingat kejadian manusia
yang diciptakan dari bahan (unsur) yang paling rendah, yaitu tanah.
Sikap tawadhu’ juga
hendaknya ditujukan kepada sesama manusia, yaitu dengan memelihara hubungan dan
pergaulan dengan sesama manusia tanpa merendahkan orang lain dan juga
memberikan hak kepada orang lain.
Dari beberapa akhlak
terpuji di atas dapat disimpulkan ciri pokoknya, yaitu:
1)
Keimanan. Ciri pokok akhlak terpuji adalah keimanan karena iman merupakan landasan
pokok keagamaan, artinya pelaksanaan agama seseorang sangat bergantung pada
kualitas imannya. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, maka semakin tinggi
pula kualitas ibadah dan akhlaknya.
2)
Taqwa. Taqwa merupakan tujuan pokok dari segala bentuk kehendak, perilaku dan
perbuatan keagamaan seseorang dalam mencapai kebahagiaan lahir.
3)
Amal saleh. Amal saleh adalah perwujudan aktual iman seseorang yakni sebagai bukti
konkrit dari kualitas pribadi, perwujudan kata hati dan penjabaran lahir dan
batinnya. Amal saleh juga merupakan usaha preventif (penjagaan) dari
aktualisasi iman yang tidak sesuai dan penjagaan diri dari sifat tercela.[26]
B.
Hubungan Akhlak Dan Iman
Pada dasarnya
akhlak dan iman adalah dua perkara yang perlu kita miliki. Dan sudah menjadi
kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk mengetahui hubungan antara akhlak
dan iman. Menurut pandangan islam, akhlak yang baik haruslah berpijak pada
keimanan. Karena Iman tidak hanya sekadar disimpan di dalam hati, melainkan
harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal soleh atau
tingkah laku yang baik. Jika iman melahirkan amal soleh, barulah dikatakan iman
itu sempurna karena dapat direalisasikan.
Dari uraian
tersebut, sudah jelas bahawa akhlaq merupakan mata rantai daripada keimanan.
Sebagai contoh, sifat malu (dalam membuat kejahatan) adalah satu dari pada
akhlaqul mahmudah´. Dalam hadist Nabi menegaskan bahawa malu itu adalah cabang
dari pada keimanan. Sebaliknya, akhlak yang dipandang buruk adalah akhlak yang
menyalahi prinsip-prinsip keimanan. Seterusnya sekalipun sesuatu perbuatan pada
lahirnya baik, tetapi titik tolaknya bukan karena iman maka perbuatan itu tidak
dapat penilaian disisi Allah SWT.
Abu Hurairah
r.a meriwayatkan hubungan antara akhlak dan iman yang tercemin dalam pernyataan Rasulullah yang berbunyi
"Orang mukmin yang sempurna imannya ialah yang terbaik budipekertinya
(akhlak)". (Riwayat Al-Tarmidzi).
Selain itu,
akhlak dan iman memiliki hubungan yang lain. Kita dapat melihat hubungan itu
berdasarkan motivasi iman itu sendiri. Tindakan dan pekerjaan manusia selalu
didorong oleh suatu motivasi tertentu. Motivasi itu ada bermacam-macam, ada
yang karena kepentingan kekayaan, ingin terkenal namanya dan sebagainya. Adapun
dalam pandangan Islam, maka yang menjadi pendorong paling kuat untuk melakukan
sesuatu amal perbuatan yang baik, adalah akidah, iman yang tertanam dalam hati.
Iman itulah yang membuat seorang muslim ikhlas hendak bekerja keras bahkan rela
berkorban. Iman itulah sebagai motivasi dalam kepribadiannya yang membuat
seseorang hanya terdiam dan tidak melakukan kegiatan kebajikan serta amal
soleh.
Jika ´mobil
iman´ itu bergerak, maka keluarlah produknya berupa amal soleh dan akhlaqul karimah.
Dengan demikian hanya daripada jiwa yang dihayati iman dapat diharapkan
memancarkan kebaikan dan kebajikan yang sebenarnya. Kebaikan yang lahir tanpa
bersumberkan keimanan, adalah kebaikan yang tidak mendapat penilaian disisi
Allah SWT.
Pada rukun iman yang ke-enam, dua dari
padanya adalah percaya kepada Allah dan percaya kepada hari akhirat. Dua rukun
iman ini menjadi pokok dasar yang membedakan antara Islam dan akhlak-akhlak
lainnya. Iman kepada kedua hakikat ini memberikan kesan yang positif. Sebaliknya
percaya kepada yang lain atau penafi’an kepada kedua hakikat tersebut
memberikan kesan yang negatif. Hubungan yang lazim antara iman kepada Allah dan
hari akhirat dengan keberkesanannya membentuk akhlak yang baik atau sebaliknya,
jika tidak beriman dengan dua hakikat tadi dengan keberkesanannya membentuk
akhlak yang jahat dan buruk.
Orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhir akan dikesani dengan sifat-sifat Allah yang termahal dan tertinggi yang akan
mengesani pula berbagai perlakuan dan kegiatan hidupnya. Perlakuan dan kegiatan
yang dikesani oleh sifat tinggi dan mulia ini adalah perlakuan dan kegiatan
yang bernilai baik. Nilai kebaikan ini akan semakin meningkat dengan
meningkatnya kesadaran kepada nilai pembalasan di hari akhir sebagai tempat dan
masa kehidupan insan yang hakiki. Demikian juga sebaliknya, orang yang tidak
beriman dengan Allah tetapi beriman dengan Tuhan yang batil dan palsu atau yang
menepikan langsung konsep ketuhanan sudah tentu dikesani oleh sifat yang batil dan
palsu yang berikutnya akan menyesali perlakuan dan kegiatan dalam hidupnya,
lebih-lebih lagi yang langsung tidak mengakui pembalasan di atas perlakuan akan
kegiatannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Akhlak merupakan perangai serta tingkah laku yang terdapat
pada diri seseorang yang telah melekat, dilakukan dan dipertahankan secara
terus menerus. Akhlak merupakan tingkah laku berdasarkan lahir dan batin. Ada 2 (dua) penggolongan akhlak secara garis besar yaitu: akhlak mahmudah
(fadilah) dan akhlak mazmumah (qabihah). Pada dasarnya sifat dan perbuatan tercela dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu maksiat lahir dan maksiat batin. Maksiat artinya melakukan perbuatan yang
dilarang dan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh syari’at Islam, dan
perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang berakal, baligh dan tidak dalam
keadaan terpaksa. Maksiat batin lebih berbahaya dibandingkan dengan maksiat
lahir, karena bersifat abstrak dan lebih sulit untuk dihilangkan.
Akhlak terpuji berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan
norma atau ajaran Islam. Akhlak terpuji dibagi menjadi dua bagian, yaitu taat
lahir dan taat batin. Taat lahir berarti melakukan seluruh amal ibadah yang
diwajibkan Allah, termasuk berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan
dan dikerjakan oleh anggota lahir. Taat batin yaitu segala sifat yang baik
(terpuji) yang dilakukan oleh anggota batin (hati). Adapun yang termasuk taat
adalah tawakkal dan sabar.
Akhlak yang
baik haruslah berpijak pada keimanan. Karena Iman tidak hanya sekadar disimpan
di dalam hati, melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam
bentuk amal soleh atau tingkah laku yang baik. Jika iman melahirkan amal soleh,
barulah dikatakan iman itu sempurna karena dapat direalisasikan. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan dikesani dengan
sifat-sifat Allah yang termahal dan
tertinggi yang akan mengesani pula berbagai perlakuan dan kegiatan hidupnya.
Nilai kebaikan ini akan semakin meningkat dengan meningkatnya kesadaran kepada
nilai pembalasan di hari akhir sebagai tempat dan masa kehidupan insan yang hakiki
DAFTAR PUSTAKA
al-Hasyimi, Muhammad Ali, 1996, Sosok Pria Muslim,
Terj. : Zaini Dahlan, Trigenda Karya, Bandung.
an-Nawawi, Al-Imam Syarafuddin, t.t., al-Arba’in
an-Nawawiyyah, al-Miftah, Surabaya
Asmaran As., 1994, Pengantar Studi Akhlak,
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Ghazali, Imam, 2007, Kiat Mempertajam mata Batin,
Terj. : Ust. Labib Mz, Putra Jaya, Surabaya.
Haddad, Allamah Sayyid Abdullah, 1998, Thariqah
Menuju Kebahagiaan, Mizan, Bandung.
Mahalli, A. Mudjab, 1984, Pembinaan Moral di Mata
al-Ghozali, BPFE, Yogyakarta.
Mahjuddin, 1991, Kuliah Akhlak Tasawuf, Kalam
Mulia, Jakarta.
Noerhidayatullah, 2002, Insan Kamil Metode
Memanusiakan Manusia, Intimedia dan Nalar, Bekasi.
Tatapangarsa, Humaidi, t.t., Akhlak yang Mulia,
Bina Ilmu, Surabaya.
Zainuddin, A.
dan Muhammad Jamhari, 1999, al-Islam 2 Muamalah dan Akhlak,
Pustaka Setia, Bandung.
[7] A. Zainuddin dan Muhammad
Jamhari, al-Islam 2 Muamalah dan Akhlak, Pustaka Setia, Bandung, 1999,
hal. 101.
[15] Noerhidayatullah, Insan
Kamil Metode Memanusiakan Manusia, Intimedia dan Nalar, Bekasi, 2002,
hal.34.
[17] Muhammad Ali al-Hasyimi, Sosok
Pria Muslim, Terj. : Zaini Dahlan, Trigenda Karya, Bandung, 1996, hal.
256-257.
[24] Imam Ghazali, Kiat
Mempertajam mata Batin, Terj. : Ust. Labib Mz, Putra Jaya, Surabaya, 2007,
hal. 95-97.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar